
Waktu terus berlalu hingga tidak terasa hari penentuan pemenang proyek itu tiba. Sharin dan Biao berada di dalam kamar sambil mempersiapkan diri. Malam itu Sharin mengenakan dres berwarna merah muda yang di padukan dengan high heels hitam. Biao mengenakan setelan jas hitam dengan balutan kemeja putih di dalamnya.
Sepasang suami istri itu terlihat serasi. Si tampan berdampingan dengan si cantik. Sharin merias wajahnya dengan make up yang natural. Awalnya Biao ingin memanggil perias ternama untuk membantu Sharin bersiap untuk pesta. Tapi, Sharin menolak. Wanita itu tidak ingin terlihat berlebihan. Ia ingin terlihat seperti biasanya saja.
“Sharin, apa kau sudah selesai?” tanya Biao sambil memasang jam tangan di pergelangan tangannya.
“Sedikit lagi.” Sharin mengambil tas yang tergeletak di atas meja rias sebelum memandang sekali lagi wajahnya di cermin, “Ok. Sudah selesai. Ayo kita berangkat.”
Biao dan Sharin bergandengan tangan sambil menuruni tangga. Beberapa pelayan dan pengawal yang ada di rumah itu menatap mereka dengan takjub. Mereka semua menunduk hormat saat Biao dan Sharin sudah berada di lantai bawah.
Seorang supir yang menjadi pengawal pribadi Biao membukakan pintu mobil. Pria itu memandang ke beberapa bawahannya yang akan ikut menjaga Biao dengan tatapan yang cukup serius. Malam ini tidak boleh ceroboh.
Mereka harus tetap waspada karena malam ini Biao akan bertemu dengan Mr. Paul. Hanya kekhawatiran tentang Mr. Paul yang memenuhi pikiran mereka. Tidak pernah terpikirkan kalau ada bahaya lain yang jauh lebih mengerikan untuk mengancam nyawa Biao dan Sharin nantinya.
***
Beberapa saat kemudian.
Di gedung hotel yang menjadi tempat pertemuan para pengusaha yang ada di Amerika telah penuh akan pengunjung. Ruangan berukuran luas itu terlihat sangat indah dan mewah. Makanan dan minuman yang tersaji memang di peruntukan untuk kalangan kelas atas.
Semua tamu undangan yang hadir memakai pakaian formal yang mahal dan pastinya berkelas. Di salah satu tamu yang memenuhi ruangan itu ada Mr. Paul yang terlihat bergabung dengan pembisnis lainnya.
Mr. Paul mengukir senyuman sambil mengobrol ringan bersama para konglomerat yang ia kenal. Ia terlihat ramah dan akrab kepada beberapa pria yang berdiri di hadapannya. Ekspresi wajahnya berubah saat melihat Biao dan Sharin yang baru saja tiba di gedung itu.
Biao dan Sharin saling bergandengan tangan dengan mesra. Sepasang suami istri itu terlihat sangat mesra dan romantis. Mr. Paul termenung beberapa detik sambil memandang wajah Sharin sebelum membuangnya ke arah lain. Cukup sulit untuk melupakan nama Sharin di dalam hatinya.
Bisa di bilang Sharin adalah cinta pertama Mr. Paul. Tapi, Mr. Paul tidak ingin larut dengan perasaanya lagi. Ia ingin bangkit dan mencari kehidupannya sendiri tanpa harus menjadi duri di dalam rumah tangga Sharin dan Biao.
Biao dan Sharin bergabung dengan rekan bisnis lainnya. Kedatangan mereka di sambut hangat oleh beberapa pengusaha yang ada di kota itu. Bahkan beberapa di antara mereka mengucapkan selamat atas pernikahan yang sudah terjalin di antara Biao dan Sharin.
Tidak menunggu terlalu lama, pengumuman pemenang proyek itu akan segera diumumkan. Sharin terlihat semakin gugup. Awalnya ia cukup percaya diri kalau akan menang. Tapi, setelah tiba di lokasi pesta dan melihat beberapa saingannya yang luar biasa. Harapan di dalam hatinya seakan sirna. Sharin tidak lagi memiliki harapan kalau ia akan memenangkan proyek itu.
Biao menggenggam tangan Sharin. Pria itu mengukir senyuman sambil menguatkan istrinya, “Apapun keputusan akhirnya. Kau tetap Sharinku yang hebat dan cerdas.”
Seorang wanita mengenakan gaun membawa beberapa berkas yang berisi keputusan akhir proyek itu. Proyek pembagunan itu adalah proyek paling bergengsi milik salah satu konglomerat ternama di dunia. Bukan jumlah uang yang menjadi taruhan para pengusaha yang ada gedung itu.
Tapi, harga diri dan gengsi yang bisa mereka rasakan saat memenangkan proyek itu. Semua pengusaha telah mengirim orang-orang terbaik mereka. Termasuk Biao yang di wakilkan Sharin dan Mr. Paul yang juga di wakilkan orang kepercayaan mereka. Nama perusahan mereka juga bisa mendapat nama dan terkenal di dunia. Hal itu yang membuat proyek itu sangat di harapkan semua orang.
“Baiklah, malam ini saya akan memilih satu nama yang memiliki rancangan luar biasa untuk proyek kami,” ucap wanita itu dengan senyum indah.
Sharin menunduk. Wanita itu semakin gugup dan bingung. Bahkan tangannya dingin. Debaran jantungnya tidak karuan. Dari kejauhan Mr. Paul memandang Sharin dengan seksama. Ia sendiri justru berharap Sharin yang akan memenangkannya. Ia tidak tega melihat wajah kecewa Sharin jika nanti namanya tidak di sebutkan sebagai pemenang.
“Nona Sharin, selamat. Proposal yang anda susuk menjadi pilihan terbaik di antara proposal yang lainnya,” sambung wanita itu dengan senyuman.
Semua orang bertepuk tangan untuk mengucapkan selamat atas kemenangan yang di miliki Sharin. Termasuk Biao. Pria itu menarik pinggang Sharin untuk memeluk istrinya.
“Selamat, Sayang,” ucap Biao sambil memberi satu kecupan di pipi Sharin.
“Terima kasih. Ini seperti mimpi. Apa aku benar menang?” ucap Sharin dengan wajah bahagia.
“Ya. Kau yang terbaik,” ucap Biao dengan bangga.
Sharin menghapus tetes air mata haru yang kini mulai jath membasahi wajahnya, “Aku sangat bahagia.”
Hasil kerja keras Sharin selama satu bulan ini membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Bagi Sharin tidak ada hal lain saat ini yang jauh lebih membahagiakan jika di bandingkan kabar kemenangan tersebut.
“Sayang, aku mau ke kamar mandi. Aku harus kembali memeriksa penampilanku yang berantakan,” ucap Sharin kepada Biao.
“Ya. Aku akan menunggumu di sini.” Biao melepas tangannya yang sejak tadi ada di pinggang Sharin. Kamar mandi itu tidak jauh bahkan bisa di lihat Biao dari posisinya berdiri. Tentu saja ia tidak khawatir melepas istrinya pergi sendirian.
Sharin berjalan ke arah kamar mandi. Wanita itu masuk ke dalam dan berdiri di depan kaca. Ia kembali merapikan penampilannya yang berantakan.
“Aku tidak menyangka bisa memenangkannya,” ucap Sharin dengan senyuman manis.