
Sharin dan Biao dalam perjalanan menuju ke kamar. Sudah cukup beberapa jam yang lalu mereka habiskan untuk berjemur dan bercanda. Kini waktunya kembali ke kamar untuk beristirahat. Pengawal setia Biao yang mendorong Kursi roda. Sedangkan Sharin lebih memilih berjalan secara perlahan sambil memegang tangan Biao di sampingnya. Bibirnya mengukir senyuman bahagia.
Biao adalah pangeran yang selama ini ia nanti. Ia impikan dan ia harapkan kehadirannya. Bukan hanya menariknya agar tidak merasa sendiri lagi, tapi Biao juga menawarkan kehidupan indah dengan sejuta cinta. Sharin yang biasa tinggal di apartemen biasa, kini telah terganti dengan apartemen mewah nan indah.
Hidupnya yang biasa berjalan kaki dan menggunakan taksi. Kini telah bertemu dengan pria bermobil dengan supir pribadi. Sharin bahagia, bahkan ia tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan kebahagiaannya. Ia bangga memiliki Biao dengan seifat es kutub yang cukup menguras kesabaran.
Sama halnya dengan Biao. Biao pria yang tidak pernah tahu kalau dirinya akan mengenal cinta di usia ke 31. Sejak dulu waktunya ia habiskan untuk Daniel hingga tidak tahu bagaimana cara berjuang mendapatkan cinta. Hidupnya yang di penuhi penderitaan dan siksaan sewaktu kecil. Membuat Biao tidak berani memimpikan masa indah dengan sejuta kekayaan seperti saat ini.
Sejak kecil. Tetap bisa bertahan hidup saja sudah satu anugerah terindah. Tidak perlu lagi bermimpi makan enak dan rumah bagus. Apa lagi kendaraan bagus hingga posisi Ceo. Mungkin hal itu hanya sebuah mimpi indah yang akan membuatnya terjatuh sakit saat bangun tidur.
Kini apa yang ia miliki nyata. Semua sah miliknya. Biao memiliki kebebasan untuk mengatur dan merasakan apa yang kini ia punya. Termasuk wanita cantik yang ada di sampingnya yang kini tangannya ada di genggamannya. Harus hampir mengorbankan nyawa, tapi Sharin berhasil menjadi miliknya.
Pengawal berjas hitam-hitam menunduk penuh hormat sebelum membuka pintu kamar perawatan Biao. Sharin dan Biao masuk secara bersamaan.
“Surprize,” sorak semua orang yang ada di dalam kamar.
Satu pemandangan indah yang cukup mengejutkan. Bahkan sepasang kekasih itu merasa salah masuk kamar. Mereka tidak yakin kalau kamar yang mereka masuki adalah kamar milik mereka. Namun, ada Tuan dan Ny. Edritz. Tama dan Anna. Adit dan Dokter Sarah di dalamnya. Semua orang bersorak kegirangan saat menyambut sepasang kekasih itu masuk ke dalam kamar.
Bunga tersusun rapi di setiap tempat. Kelopak bunga mawar juga berterbaran di lantai. Bukan karena bunga itu jatuh dan berserak. Tapi, kelopak bunga itu dengan sengaja di hias agar mempercantik ruangan tersebut. Balon-balon yang bergelantungan membuat alis Biao saling bertaut. Hari ini bukan ulang tahunnya apa lagi Sharin. Biao tidak akan pernah melewatkan haru ulang tahun Sharin pastinya.
Semua keindahan yang tersaji di depan mata Biao membuat dirinya Syok hingga bingung. Sorot matanya yang dingin menatap wajah Sharin untuk menagih satu jawaban. Bukan mendapat jawaban, Sharin justru menggeleng bingung. Bagi Sharin, apapun yang ada di depan matanya adalah keindahan. Ia sangat bahagia dan cukup menikmatinya.
“Biao, Sharin. Kemarilah.” Ny. Edritz terlihat bersemangat siang itu. Wajahnya secerah cahaya matahari yang kini bersinar di langit.
Sharin mengambil alih tugas untuk mendorong kursi roda Biao. Kali ini tidak ada lagi perdebatan dari Biao karena jarak tempuhnya hanya beberapa meter saja. Sharin memperhatikan kelopak bunga mawar yang kini ia jejaki. Walau bingung dan tidak tahu harus apa.
“Kemarilah, Sayang,” ucap Ny. Edritz sambil memegang tangan Sharin. Wanita paruh baya itu sengaja mengajak Sharin agar menjauh dari Biao.
Tuan Edritz mendekati posisi Biao berada. Pria itu mengeluarkan kotak cincin di dalam saku jas miliknya. Senyum yang di berikan Tuan Edritz sudah cukup membuktikan kalau cincin yang ia keluarkan akan menjadi milik Biao.
Biao mengukir senyuman saat melihat kotak di tangannya. Ia sudah cukup paham dengan tujuan Tuan dan Ny. Edritz saat itu. Semua orang mengunci mulut masing-masing sambil menatap wajah Biao dengan seksama. Senyum indah di wajah bahagia sudah melekat abadi.
Biao merenung sejenak sebelum memandang wajah Sharin. Debaran jantungnya tidak lagi normal. Walau ia pernah melakukannya, tapi kondisi kali ini harus di lihat oleh orang terdekatnya. Secara perlahan, Biao membuka kotak cincin tersebut. Memamerkan cincin yang ada di dalamnya kepada Sharin.
“Aku tahu kalau aku bukan pria yang baik. Bukan pria tagguh seperti yang selama ini di pandang semua orang. Aku hanya pria penuh ambisi yang akan berjuang untuk mendapatkan apapun yang aku inginkan. Tapi, aku berjanji kalau akan mencintaimu dengan seluruh nyawa yang aku miliki. Melindungimu saat kau dalam bahaya. Sharin, Aku sangat mencintaimu. Sejak dulu hingga sekarang. Aku ingin cinta ini berlabu pada sebuah pernikahan hingga membuat kau dan aku menjadi kita.” Biao menatap wajah Ny. Edritz sekilas sebelum memandang wajah Sharin lagi, “Sharin, maukah kau menikah denganku?” ucapnya dengan mantap. Satu kalimat yang pernah bahkan sering ia ucapkan. Satu ajakan yang tidak pernah di tanggapi dengan serius oleh wanita yang ia cinta selama ini.
Sharin meneteskan air mata saat itu. Ia ingin menangis karena terlalu bahagia. Bibirnya saja sampai gemetar saat berusaha menahan tetes air mata yang akan terjatuh lagi. Suasana kamar itu berubah haru dan hening. Semua orang yang menyaksikan lamaran Biao memiliki mata yang berkaca-kaca.
Sharin mengangguk penuh bahagia, “Ya. Aku mau menikah denganmu,” jawabnya dengan suara serak. Air mata berkucur deras karena terlalu bahagia mendengar kalimat yang di katakan oleh Biao.
Biao mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Sharin. Secara perlahan, Sharin mengangkat tangannya dan meletakkan di atas telapak tangan Biao. Biao memasangkan cincin di jemari kekasihnya. Cincin itu adalah ikatan pertama yang akan mengikat Sharin sebelum ikatan pernikahan terlaksana. Biao mengecup punggung tangan Sharin saat cincin berlian tersebut tersemat indah di jari kekasihnya.
“Aku sangat mencintaimu,” ucap Biao sekali lagi.
“Aku juga sangat mencintaimu, Paman Tampan.” Sharin menghamburkan pelukan kepada Biao. Detik itu juga ia menangis untuk melampiaskan rasa bahagianya, “Terima kasih karena sudah hadir dan bertahan hingga sekarang.”
Biao mengukir senyuman bahagia. Pria itu mengusap lembut punggung Sharin, “Aku sangat bahagia bisa memilikimu, Sharin.”
Semua orang juga menjatuhkan air mata saat melihat drama lamaran Biao. Ny. Edritz kembali ingat dengan pertunangan Daniel dan Serena yang juga di laksanakan di dalam kamar yang ada di rumah sakit. Wanita paruh baya itu berdoa di dalam hati agar kisah cinta Biao dan Sharin juga di penuhi cinta dan kabahagiaan seperti Serena dan Daniel saat ini. Walau di awal hubungan mereka harus melewati rintangan sulit yang menguras tenaga dan emosi.
.
.
Like, dan Komen. Terima kasih