Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 96



Setelah selesai merapikan penampilannya, Sharin keluar dari dalam kamar mandi. Tanpa di sengaja seseorang menabrak tubuhnya. Tas yang ada di genggaman Sharin terjatuh hingga membuat Sharin harus membungkuk untuk mengambil tas tersebut.


“Maaf,” ucap Sharin. Ia sadar kalau dirinya yang salah karena tidak melihat-lihat dan sibuk menunduk sambil melamun.


Betapa terkejudnya Sharin saat melihat pria yang berdiri di hadapannya adalah Mr. Paul. Pria itu berdiri tegab memandang wajahnya dengan sorot mata yang tajam. Ada dua pengawal di sisi kanan dan kiri Mr. Paul.


“Senang bertemu denganmu, Sharin.” Mr. Paul mengukir senyuman ramah, “Selamat karena kau telah berhasil memenangkan proyek tersebut. Orang kepercayaanku tidak ada apa-apanya jika di bandingkan denganmu. Kau memang wanita yang sangat cerdas dan berbakat.”


“Terima kasih,” ucap Sharin pelan, “Saya permisi dulu.” Wanita itu mempercepat langkah kakinya untuk menghindar sejauh mungkin dari Mr. Paul. Ia takut, jika kejadian buruk yang pernah terjadi kembali terulang lagi.


Mr. Paul memiringkan kepalanya sebelum mengukir senyuman tipis. Pria itu melanjutkan langkah kakinya dengan arah yang berlawanan dari Sharin.


Sharin berjalan sangat cepat. Wanita itu memutar tubuhnya untuk memeriksa kalau Mr. Paul tidak lagi mengikutinya. Hingga akhirnya ia harus menabrak seseorang hingga terjatuh ke lantai.


“Sayang, apa yang terjadi?” ucap Biao khawatir. Pria itu berjongkok untuk membantu Sharin kembali berdiri, “Apa kau baik-baik saja? Apa ada yang sakit?”


Sharin menggeleng pelan, “Aku baik-baik saja. Aku tadi bertemu dengan Mr. Paul.”


“Mr. Paul? Apa dia melakukan sesuatu kepadamu?” tanya Biao dengan nada cemburu.


Sharin menggeleng pelan, “Tidak ada. Dia hanya mengucapkan selamat tadi.”


Sharin kembali berdiri. Wanita itu menatap wajah Biao dengan seksama, “Kenapa ada di sini?”


“Kau pergi terlalu lama. Aku sangat khawatir. Aku takut kau dalam bahaya.” Biao menarik pinggang Sharin hingga tubuh wanita itu melekat sempurna dengan tubuhnya, “Aku merindukanmu.” Pria itu mendaratkan satu kecupan singkat di bibir Sharin. Ia tidak lagi mempermasalahkan pertemuan Sharin dan Mr. Paul. Baginya, Sharin baik-baik saja sudah lebih dari cukup.


Wajah Sharin berubah merona karena malu, “Ayo kita kembali ke lokasi pesta,” ucap Sharin dengan senyuman.


“Ayo,” sambung Biao dengan senyuman juga.


Sementara mereka tersenyum bahagia. Di sisi lain ada beberapa pria berpakaian pelayan yang sedang mengawasi gerak-gerik mereka. Dua pelayan itu adalah anak buah Kagawa. Mereka mengukir senyuman tipis. Sebuah pistol telah ada di atas nampan yang kini ada di tangan mereka.


Biao dan Sharin bergabung dengan rekan bisnis lainnya di lokasi tersebut. Semua orang sibuk mengucapkan selamat kepada Sharin atas keberhasilan yang di peroleh wanita muda berusia 21 tahun itu. Memang satu prestasi yang cukup membanggakan.


Padahal saingan Sharin malam itu para pembisnis yang sudah memiliki pengalaman puluhan tahun. Biao sendiri cukup bangga dengan keberhasilan Sharin. Pria itu merasa sangat lega bisa melihat Sharin bahagia seperti malam itu.


Dari kejauhan, Mr. Paul kembali muncul ke di lokasi pesta. Pria itu juga bergabung dengan rekan bisnis yang dekat dengannya. Ia tidak lagi mau membiarkan kedua bola matanya memandang wajah Sharin. Pria itu telah bertekad untuk melupakan nama Sharin selamanya.


Namun, gerak-gerik dua pelayan yang berada tidak jauh dari posisi Biao dan Sharin menarik perhatian Mr. Paul malam itu. Dengan sorot mata yang tajam, Mr. Paul memberi perintah kepada pengawalnya untuk memeriksa dua pelayan yang sempat ia curigai.


Dua pengawal Mr. Paul menunduk hormat sebelum berjalan mendekati dua pelayan mencurigakan itu. Mr. Paul tidak pernah tahu, kalau sebenarnya dua pelayan itu hanya orang yang di gunakan Ayato untuk memancing keributan.


“Maaf, apa saya bisa memeriksa anda,” ucap Pengawal Mr. Paul. Pengawal Biao yang sejak tadi memandang curiga kepada dua pelayan itu juga sudah ada di sana. Mereka juga ingin memeriksa dua pelayan mencurigakan tersebut.


Biao mengalihkan perhatiannya kepada pengawalnya yang berkumpul. Pria itu terlihat sangat hati-hati dan waspada. Kedua bola matanya memandang dua pelayan itu tanpa berkedip.


Dari kejauhan, Ayato dan Kagawa telah menggenggam pistol mereka. Satu peluru untuk Sharin satu peluru lagi untuk Biao. Mereka akan menembak saat posisi sepasang suami istri itu sudah pas.


“Kau harus mati,” teriak dua pelayan suruhan Kagawa. Pria itu mendorong tubuh Sharin hingga menjauh dari Biao sebelum ia mengeluarkan sebuah pistol dan siap untuk menembak tubuh Sharin dan Biao dari jarak yang dekat.


DUARRR DUARRR


Suasana di ruangan itu berubah kacau. Dua peluru yang baru saja terdengar justru keluar dari pistol yang di genggam Mr. Paul. Entah kenapa tubuhnya reflex untuk menembak saat melihat Sharin di sentuh dan ingin di lukai oleh orang lain.


Biao menarik tubuh Sharin ke dalam pelukannya. Pria itu menatap wajah Mr. Paul dengan seksama. Ada rasa terima kasih yang cukup besar yang ingin di ucapkan Biao untuk Mr. Paul.


Ayato dan Kagawa saling memandang. Mereka kembali menyembunyikan senjata api itu agar tidak ketahuan yang lainnya. Tadinya posisi Sharin dan Biao akan pas menjadi target tembak mereka. Jika Mr. Paul tidak menembak dua pengawal itu di waktu yang cukup pas.


“Siapa pria itu?” ucap Ayato dengan wajah kesal.


“Paul. Gembong Narkoba yang memiliki kekuasaan di Amerika, Bos,” jawab Kagawa sambil menatap kerumunan orang yang terlihat masih panik.


“Kenapa dia membantu Biao?” ucap Ayato.


“Dia jatuh cinta pada wanita yang kini menjadi istri Biao, Bos.”


“Apa mereka menjalin hubungan baik?” sambung Ayato lagi.


“Soal itu, saya tidak tahu Bos.”


Ayato menatap wajah Kagawa dengan senyuman tipis, “Berarti wanita itu target utama kita saat ini.”


Kagawa memandang wajah Ayato dengan tatapan bingung, “Anda ingin kami menculik wanita itu, Bos?”


“Ya. Sekarang,” perintah Ayato tidak terbantahkan lagi.


“Baik, Bos,” jawab Kagawa mantap sebelum melangkah maju ke depan.


Beberapa pengawal Biao telah mengelilingi Sharin dan Biao. Mereka melindungi Sharin dan Biao dari bahaya. Bersikap waspada dan menatap tajam siapa saja yang ingin mendekati mereka.


Dua pelayan tadi sudah memberi satu peringatan kepada mereka. Mereka tidak ingin kecolongan lagi hingga membahayakan nyawa majikannya.


Dalam hitungan detik segerombolan orang muncul. Mereka semua pasukan yakuza milik Ayato. Tembakan demi tembakan terdengar dengan begitu mengerikan. Biao memeluk tubuh Sharin untuk melindungi wanitanya. Satu tangannya telah mengeluarkan pistol dan siap untuk melawan musuh yang kini menyerang mereka.