Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 77



Satu minggu kemudian.


Hari yang di tunggu telah tiba. Biao dan Sharin baru saja mengucapkan janji suci. Lagi-lagi suasana berubah menjadi hening. Hanya ada tetes air mata bahagia dari semua orang yang menyaksikan pernikahan Biao dan Sharin.


Kini saatnya penganti baru saling bertukar cincin. Dengan wajah tersenyum bahagia, Sharin dan Biao saling memasangkan cincin pernikahan yang telah di siapkan. Setelah cincin itu tersemat indah di jemari mereka. Biao mulai membuka selendang putih yang menutupi wajah Sharin. Pria itu mematung saat menatap wajah cantik Sharin.


Sharin mengukir senyuman sebelum mencium bibir Biao lebih dulu. Wanita itu sangat bahagia karena bisa menikah dengan Biao. Ciuman singkat yang di berikan Sharin memecah lamunan Biao.


Sorak tepuk tangan terdengar begitu meriah walau ciuman romantis yang mereka harapkan tidak terjadi. Sharin mencari kesempatan tersebut agar Biao tidak menciumnya di depan semua orang. Ada rasa malu di dalam hati Sharin, saat ia harus berciuman di depan tamu undangan yang hadir.


“Kau curang, Sayang,” bisik Biao tidak terima.


“Kau kalah cepat, Sayang,” balas Sharin dengan bisikan juga.


Sepasang pengantin itu saling memandang dengan senyuman penuh arti. Tidak ada satu tamupun yang menyadari perang dingin dari pengantin baru yang ada di depan mereka.


“Aku akan menyerangmu nanti malam,” ancam Biao masih dengan suara berbisik dan senyum ke arah tamu undangan.


“Kau sudah berjanji sebelum kita menikah. Apa kau ingin melanggar janji yang telah kau buat sendiri, Paman Tampan,” balas Sharin dengan senyuman dan mata yang mengancam. Tatapan Sharin kali ini berhasil membuat Biao menunduk takut. Pria itu lebih memilih diam dan melanjutkan acara selanjutnya.


Siang yang cerah telah berganti malam.


Semua tamu undangan telah memenuhi lokasi pesta pernikahan Biao dan Sharin. Anna memilih resepsi pernikahan itu di salah satu hotel berbintang yang ada kota San Fransisco. Walau mewah dan megah, tapi tamu undangan yang hadir hanya berasal dari kalangan elit dari pengusaha ternama yang di kenal oleh Tuan Edritz saja.


Tidak hanya pesta pernikahan mewah. Malam itu Tuan dan Ny. Edritz mengumumkan berita penting tentang Biao. Secara resmi mereka mengatakan kalau Biao adalah bagian dari keluarga Edritz Chen. Bahkan mulai malam itu nama Biao telah menjadi Biao Edritz Chen. Satu hadiah terindah yang tidak pernah terbayangkan di dalam pikiran Biao.


Menikah dengan Sharin saja sudah membuatnya sangat bahagia. Di tambah lagi dengan pengumuman yang baru saja di ucapkan oleh Tuan Edritz.


Sepasang kekasih itu telah berstatus sebagai suami istri. Hanya ada suka cita dan tawa bahagia malam itu. Sharin terlihat sangat cantik dengan gaun pengantin yang di pilih Biao saat di rumah sakit. Semua sahabat terbaik Biao juga hadir dalam resepsi pernikahan itu. Aldi bersama Sonia. Adit bersama Diva. Zeroun bersama Emelie.


“Selamat, Biao. Maafkan aku karena tidak bisa hadir di saat kau sedang membutuhkan pertolongan. Kedua buah hatiku sedang sakit,” ucap Daniel sambil menepuk pundak Biao, “Sepertinya mulai sekarang aku harus memanggilmu Kak Biao.”


Serena tertawa kecil saat mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Daniel. Wanita itu memeluk Sharin layaknya keluarga, “Aku sangat bahagia karena kau bisa menikah dengan Biao. Maafkan aku yang tidak bisa hadir di saat bahaya mengancammu waktu itu. Aku sudah berulang kali ingin berlari ke sini. Tapi, dua buah hatiku seakan memegang tanganku dan melarangku untuk pergi.”


“Nona, tidak apa-apa.”


“Jangan panggil aku Nona. Kau sekarang bagian dari keluarga kami,” protes Serena dengan senyuman.


“Kak Serena,” ucap Sharin ragu-ragu.


“Ya. Itu jauh lebih baik. Maafkan Kenzo dan Shabira yang tidak bisa hadir. Shabira baru saja melahirkan. Ia menitipkan kado ini untukmu.” Serena memberikan kado yang telah di siapkan Shabira dan Kenzo.


“Terima kasih, Kak.” Sharin menerima kado tersebut dengan wajah bahagia.


Momen indah antara Biao dan Daniel membuat Ny. Edritz meneteskan air mata haru. Wanita paruh baya itu mengucap syukur dengan hati yang sangat bahagia. Di sampingnya, ada Tuan Edritz yang memeluk Ny. Edritz dengan wajah yang gak kalah bahagia.


“Ma, sekarang kita memiliki dua putra yang cukup tangguh. Kira-kira Biao juga takut tidak ya dengan Sharin,” ucap Tuan Edritz sambil berpikir.


“Kalau menurut Mama, Biao juga sama seperti Daniel dan Papa. Bukankah memang seperti itu garis tradisi keluarga Chen,” ucap Ny. Edritz dengan tawa bahagia.


Sepasang suami istri itu saling berpelukan dengan senyum bahagia.


***


Pesta telah usai. Kini Pengantin baru telah masuk ke dalam kamar pengantin mereka. Sharin dan Biao terlihat sangat bahagia malam itu. Mereka berjalan masuk sambil bergandengan tangan.


Anna yang menyiapkan kamar pengantin untuk Sharin dan Biao. Ia sengaja membuat kamar itu dengan konsep seromantis mungkin agar Biao dan Sharin bisa melewati malam pertama mereka dengan sempurna.


“Paman Tampan, apa kau benar-benar akan melakukannya malam ini? Aku belum siap,” ucap Sharin sambil menunduk. Wanita itu memang belum siap jika harus melewati malam pertamanya bersama Biao pada malam ini. Ada rasa takut yang kini menghantui pikirannya.


“Tidak, Sharin. Aku hanya ingin tidur sambil memeluk tubuhmu. Apa boleh? Jika tidak boleh, aku akan tetap memelukmu nanti.” Biao tertawa kecil sambil mencubit pipi Sharin.


“Apa mau aku bantu?” tawar Biao dengan tatapan penuh arti.


“Paman tampan, jangan menggodaku seperti itu.” Sharin menunduk malu.


“Baiklah, Aku mandi lebih dulu.” Biao mendaratkan satu kecupan sebelum berjalan ke kamar mandi.


Sharin memandang punggung Biao yang berjalan menuju ke kamar mandi. Ia cukup tahu, kalau posisinya bersalah karena sudah melarang Biao menyentuh tubuhnya di malam pernikahan mereka. Tapi, dirinya belum siap, “Maafkan aku.”


Sharin membuka gaun pengantinya secara perlahan. Wanita itu mengenakan handuk kimono yang tersedia di dalam kamar. Sharin mulai membersihkan make up yang memenuhi wajahnya. Perhatiannya teralihkan pada Biao yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Biao yang saat itu hanya mengenakan celana pendek, membuat Sharin menutup mata.


“Paman Tampan, kemana bajumu!” protes Sharin.


Biao menunduk untuk memeriksa penampilannya. Bibirnya mengukir senyuman sebelum berjalan ke arah Sharin berada. Ia sama sekali tidak berniat untuk pakai baju malam itu. Biao sengaja memamerkan tubuh atletisnya kepada istri yang ia cintai.


“Terlalu panas jika pakai baju,” bisik Biao sebelum mendaratkan satu kecupan di pipi Sharin.


“Paman Tampan, kau sudah berjanji. Janga mencari cara untuk menggodaku,” teriak Sharin yang dengan cepat beranjak dari tempat duduknya. Wanita itu memandang wajah Biao dengan wajah kesal. Walaupun sesekali tatapannya turun ke bagian dada telanjang milik Biao.


“Aku tidak akanmenyentuhmu. Aku hanya ingin tidur sambil memelukmu,” jawab Biao santai. Pria itu berjalan ke arah tempat tidur lalu berbaring dengan posisi nyaman, “Cepat, Sayang. Kita harus beristirahat malam ini.”


Sharin menghela napas. Wanita itu berjalan ke arah kamar mandi untuk segera membersihkan dirinya yang terasa lengket karena keringat.


Biao bersandar di tempat tidur sambil mengotak-atik layar ponselnya. Sudah cukup lama ia tidak memeriksa masalah yang di alami S.G. Group. Malam itu Biao menyempatkan diri untuk memeriksa perusahaan miliknya. Ada senyum bahagia saat melihat semua masalah yang sempat ia tinggalkan kini telah selesai.


“Kau memang sahabat terbaikku, Tama.” Biao meletakkan ponselnya ke atas nakas. Matanya cukup ngantuk hingga Biao memilih untuk memejamkan matanya secara perlahan. Tidak ada yang harus ia tunggu.


Biao sudah berjanji untuk tidak memaksa Sharin. Sekuat mungkin Biao menahan hasratnya agar tidak mengecewakan Sharin.


Beberapa menit kemudian.


“Paman Tampan, kau sudah tidur?” ucap Sharin pelan. Wanita itu sudah mengenakan piyama tangan dan celana panjang. Sharin sengaja memilih pakaian tertutup untuk menghindari sesuatu yang tidak di inginkan.


Sharin memperhatikan wajah Biao dengan seksama. Ia cukup yakin, kalau Biao telah tidur malam itu, “Kau bilang ingin tidur sambil memelukku. Tapi, sekarang tidur duluan,” protes Sharin. Wanita itu memutar tubuhnya untuk mencari posisi nyamannya.


Secara tiba-tiba tangan Biao melingkar di perut Sharin. Satu kecupan mendarat di pucuk kepala Sharin saat itu, “Kenapa tidak memelukku?” bisik Biao mesra.


Sharin mengukir senyuman, “Aku takut mengganggu tidurmu.”


Biao mempererat pelukannya, “Aku tidak bisa tidur jika kau belum ada di dalam pelukanku.”


“Paman Tampan, maafkan aku. Tapi, jika kau memang sangat tersiksa menahannya. Kau boleh melakukannya sekarang.” Sharin memejamkan mata sambil membalas pelukan Biao.


“Sayang, tidurlah. Sudah malam,” ucap Biao. Ia tidak lagi ingin membahas soal malam pertama dengan Sharin. Baginya memeluk Sharin seperti itu di malam pernikahan mereka, sudah lebih dari cukup.


“Aku mencintaimu,” ucap Sharin dengan senyum bahagia.


“Aku juga sangat mencintaimu,” jawab Biao sebelum memejamkan mata.


Malam pertama Biao dan Sharin mereka lewati seperti malam pertama Daniel dan Serena. Tidak ada hubungan apapun selain tidur di tengah kesunyian malam.


.


.


.


Jadi cerita Biao akan saya perpanjang ya. Tidak jadi tamat cepet. terima kasih karena masih setia membaca karya saya...