Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 57



Wanita jahat itu mulai mendorong kursi roda Sharin. Ada senyum kemenangan di dalam hatinya. Namun, tiba-tiba saja tangan seorang pria mencegah laju kursi roda yang telah ia dorong. Wanita itu memutar tubuhnya untuk melihat wajah sang pemilik tangan. Tidak di sangka, Biao telah berdiri dengan tatapan tajamnya. Ia menghadiahkan wanita itu satu pukulan sebelum menarik paksa kursi roda Sharin.


Pria yang berdiri di depan pintu menodongkan sebuah pistol ke arah Biao. Baginya tidak ada cara lain selain membunuh Biao dengan segera. Biao menatap wajah pria itu dengan tubuh sempoyongan. Tubuhnya masih terasa sangat lemah. Bahkan ia kesulitan untuk berdiri apa lagi harus berlari. Pukulan yang baru saja ia lakukan adalah pukulan yang cukup menguras tenaga.


Tiba-tiba Dokter Sarah muncul di dalam kamar itu. Sebelum bangkit dari tempat tidurnya, Biao menekan tombol darurat yang tersedia di samping tempat tidurnya. Hal itu yang membuat Dokter Sarah segera berlari untuk melihat keadaan yang terjadi.


Wanita berpakaian putih itu berteriak hingga membuat pria yang sempat menodongkan senjata kebingungan. Tidak ingin aksinya diketahui orang lain, pria itu segera melepas tembakan ke arah Dokter Sarah.


DUARR!


Namun tembakan pria itu meleset. Dokter Sarah memutar tubuhnya untuk menghindar dari tembakan itu. Kedua tangannya menutupi telinga karena suara tembakan yang cukup keras hingga membuat telingannya sakit.


Dokter Adit baru saja tiba di lorong rumah sakit tempat Biao di rawat. Lelaki itu segera berlari kencang saat mendengar suara tembakan yang berasal dari ruangan sahabatnya. Sama halnya dengan Tama, lelaki itu juga segera beranjak dari tempat tidurnya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


“Bos, kita di kepung,” ucap Wanita itu saat tubuhnya sudah berhasil berdiri dan mendekat dengan lelaki yang menjadi atasannya itu.


“Tidak ada cara lain selain menembak semua orang yang akan menghalangi kita.” Pria itu kembali menodongkan senjatanya ke arah Dokter Sarah. Ia tidak ingin tembakannya kali ini meleset lagi.


Secara diam-diam Biao mengambil pisau buah yang ada di atas meja. Lelaki itu melempar pisau yang baru saja ia dapatkan ke arah tangan pria yang menggenggam pistol. Pisau itu berhasil membuat pistol yang di genggam pria itu terlepas dan jatuh ke permukaan lantai. Hingga lagi-lagi membuat Dokter Sarah selamat.


“Angkat tangan!” Pada saat yang bersamaan. Kompolotan polisi datang lalu menodongkan senjata. Namun, bawahan Mr. Paul tidak kehabisan cara. Mereka tidak ingin di tangkap polisi dengan begitu mudah.


Bom asap yang sempat mereka bawah mereka lempar dengan begitu cepat. Hingga menyebabkan asap tebal yang membuat mata sakit karena perih.


Tama yang baru saja keluar dari dalam kamar juga tidak dapat melihat apa-apa. Kepulan asap putih itu memang membuat penglihatan terbatasi. Hingga beberapa saat kemudian, asap itu hilang.


Biao terduduk sambil menahan sakit di bagian kepalanya. Satu tangannya memegang tangan Sharin dengan begitu kuat. Lelaki itu menarik topeng yang menutupi wajah kekasihnya, “Aku akan selalu melindungimu, Sharin,” ucap Biao dengan suara lirih. Bibirnya tersenyum lega sebelum semua pemandangan yang ada di depan matanya berubah gelap.


“Tuan Biao,” ucap Dokter Sarah dengan wajah panik. Wanita itu berlari untuk menolong Biao yang sudah tergeletak dan tidak sadarkan diri. Di ikuti beberapa perawat yang ada di belakangnya. Polisi-polisi yang sempat ada di lokasi itu telah berpencar untuk menangkap sang pembuat masalah.


Adit yang baru saja muncul di kamar Biao juga terlihat panik. Lelaki itu berlari dengan cepat untuk mendekati Biao yang tergeletak.


“Bantu aku mengangkatnya ke atas,” ucap Dokter Adit sambil berusaha mengangkat Biao kembali pada tempat tidurnya. Lelaki itu segera memasang jarum infuse dan selang oksigen yang sempat terlepas.


Tama berjalan mendekat ke arah kursi roda yang di duduki Sharin. Lelaki itu menyingkirkan rambut panjang yang menutupi wajah Sharin. Kedua bola matanya melebar saat melihat wanita yang di duduk di kursi roda itu adalah Sharin.


“Dokter, tolong periksa keponakan saya,” ucap Tama dengan wajah cemas.


Dokter Sarah dan beberapa perawat mengangkat tubuh Sharin ke atas tempat tidur. Mereka mulai memeriksa keadaan Sharin yang terlihat tidak sadarkan diri karena obat.


“Dia hanya pingsan. Sebentar lagi juga akan bangun. Tidak ada tanda-tanda racun di dalam tubuhnya. Nona Sharin masih dalam keadaan sehat,” ucap Dokter Sarah sambil meletakkan kembali tangan Sharin di samping tubuh yang telah berbaring.


“Lalu, bagaimana dengan Biao. Adit apa yang terjadi? Kenapa ia tidak sadarkan diri? Apa yang sebenarnya terjadi? Aku sempat mendengar suara tembakan dan asap yang cukup tebal,” ucap Tama tanpa henti. Lelaki itu tidak tahu lagi harus berkata apa. Dua orang yang cukup ia sayangi kini harus memejamkan mata.


“Siapa musuh Tuan Biao? Sepertinya musuhnya bukan orang yang biasa,” ucap Dokter Sarah sambil memandang beberapa perawat yang sedang mengangkat tubuh pengawal yang pingsan. Meletakkannya di atas sofa.


“Mr. Paul,” celetuk Tama sambil memandang wajah Adit dan Dokter Sarah secara bergantian.


“Mr. Paul?” ucap Dokter Adit dan Dokter Sarah secara bersamaan.


“Aku sudah meminta polisi untuk mengepung rumah sakit ini. Kenapa mereka masih bisa masuk?” protes Adit dengan wajah yang cukup serius.


“Mr. Paul gembong narkoba. Ia memiliki bisnis gelap yang cukup besar. Sudah bisa di pastikan kalau ia memiliki pembunuh-pembunuh bayaran yang terlatih,” jawab Tama.


“Seperti Serena?” sambung Adit dengan senyuman kecil.


“Ya. Aku rasa jika Nona Serena turun tangan semua akan segera selesai. Hanya Nona Serena yang berpengalaman dalam bidang seperti ini.” Tama memandang wajah Biao dengan tatapan sedih, “Biao juga sanggup melawan Mr. Paul. Tapi, keadaannya saat ini tidak memungkinkan dirinya untuk bertarung.”


“Serena tidak mungkin tinggal diam. Bukankah Biao sangat dekat dengan Daniel,” ucap Adit penuh keyakinan.


“Tapi, kedua buah hati mereka sedang sakit. Bahkan baru saja keluar dari rumah sakit. Tuan Al dan Nona El mengalami demam tinggi yang cukup membuat Nona Serena dan Tuan Daniel kebingungan. Aku tidak ingin membebani Nona Serena dan Tuan Daniel lagi.”


“Tama, kita masih punya sahabat yang ahli dalam bidang seperti ini,” ucap Adit dengan penuh semangat.


“Siapa?” Tama terlihat bingung saat itu.


“Sonia,” ucap Adit mantap.


Tama mengukir senyuman dengan wajah berseri, “Kau benar, Adit. Sonia. Wanita itu pasti bisa membantu kita saat ini. Aku akan segera menghubunginya dan meminta bantuan padanya. Aku harap Sonia dan Aldi mau membantu Biao saat ini.” Tama memutar tubuhnya. Lelaki itu ingin kembali ke kamarnya untuk menghubungi Sonia. Besar harapan di dalam hatinya kalau sahabat wanitanya mau membantunya nanti.


Dokter Adit dan Dokter Sarah menggeleng kepala saat melihat wajah Tama yang begitu semangat.


“Sepertinya kita tidak perlu mengkhawatirkannya lagi. Ia sudah terlihat sembuh total,” ucap Adit sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


“Sahabat-sahabat anda orang yang luar biasa Dokter Adit. Ini pertama kalinya aku melihat korban kecelakaan yang begitu parah bisa segera sadar dan bergerak seperti orang sehat. Di tambah lagi Tuan Biao. Seharusnya ia sangat kesulitan untuk berdiri. Mengingat bagian kepalanya yang baru saja di operasi.” Dokter Sarah menatap wajah Biao dengan seksama, “Ia tidak boleh terkena benturan lagi dalam waktu dekat ini. Sampai kepalanya benar-benar pulih.”


“Aku tidak yakin ia akan diam saja. Lihat saja nanti ketika dia membuka mata lagi. Pria yang kini berbaring di hadapan kita adalah pria yang sangat keras kepala,” ucap adit dengan senyuman kecil.


“Kita masih memiliki Nona Sharin.” Dokter Sarah mengedipkan sebelah matanya.


Adit menatap wajah Sharin sambil mengangguk setuju, “Kau benar, Sarah. Wanita ini akan membantu kita untuk membuat Biao patuh. Bahkan Biao bangun demi menyelamatkan wanita ini.”


Dokter Sarah kembali mengingat perjuangannya di ruangan operasi. Biao kembali bernapas saat Adit mengucapkan nama Sharin, “Nona Sharin pasti sangat berarti di dalam hidup Tuan Biao.”


Bersambung di jam 12 siang.. like dan vote yang banyak ya... biar babang Biao ada di 20 besar. terima kasih