
Di sebuah ruangan besar dengan pencahayaan yang cukup redup. Langit di luar ruangan terlihat gelap. Malam itu bulan tidak muncul dan memamerkan sinarnya. Mr. Paul berdiri di hadapan bawahannya sambil mengepal kuat tangannya yang memerah. Ada darah kering di jari-jarinya saat itu. Wajahnya terlihat menyeramkan karena di penuhi amarah yang tidak terkendalikan. Ruangan itu terlihat sangat berantakan. Ada banyak pecahan kaca yang berserak di permukaan lantai.
Wajah bawahannya yang kini berdiri di hadapan Mr. Paul juga telah di penuhi darah dan memar. Mereka baru saja menerima pukulan dari lelaki berbadan tinggi itu akibat kerja mereka yang bisa di bilang gagal. Lelaki itu tidak suka kata gagal.
“Hanya seorang wanita yang di dampingi oleh pria yang sekarat,” ucapnya dengan nada tinggi, “Kalian memang tidak berguna!” sambung Mr. Paul dengan teriakan yang memenuhi ruangan tersebut.
Semua orang yang ada di hadapan Mr. Paul hanya bisa menunduk tanpa mau membantah. Bukan hanya memukul, lelaki yang kini ada di hadapan mereka bisa saja menghilangkan nyawa mereka detik itu juga.
Mr. Paul memutar tubuhnya. Lelaki itu berjalan mendekati jendela kaca yang terbuka. Memandang ke arah luar yang hanya ada kegelapan malam. Suasana hatinya masih belum bisa kembali tenang. Lelaki itu masih belum rela melepas wanita yang ia inginkan begitu saja. Di tambah lagi ini pertama kalinya ia mendapat penolakan dari seorang wanita biasa seperti Sharin.
Beberapa menit merenung sambil membayangkan wajah cantik Sharin. Mr. Paul mulai mengukir senyuman licik. Lelaki itu mengatur napasnya yang sempat sesak. Menghirup udara segar yang kini menerpa tubuhnya.
“Apa lelaki itu sudah sadar dari komanya?” ucapnya dengan penuh penekanan.
“Sudah, Tuan. Tapi, Lelaki itu tidak boleh berpikir keras apa lagi emosi. Kepalanya akan kembali mengalami pendarahan dan mungkin akan berakibat fatal pada nyawa yang ia miliki,” jawab salah satu pria.
“Bagus. Sekarang kita pergi ke rumah sakit. Sepertinya kita harus mengunjunginya malam ini,” ucap Mr. Paul sambil memutar tubuhnya. Lelaki itu merapikan penampilannya dengan satu ukiran senyuman licik.
Beberapa bawahan Mr. Paul mengikuti langkah sang majikan dari belakang. Mereka menyiapkan senjata api dan segala senjata tajam yang mungkin akan mereka perlukan untuk melindungi Mr. Paul nantinya.
***
Beberapa saat kemudian, Rumah Sakit.
Sharin duduk di samping tempat tidur Biao dengan semangkuk bubur di tangannya. Wanita itu menyuapi Biao dengan begitu telaten. Sesekali ia membantu Biao membersihkan bubur yang menempel di ujung bibir kekasihnya. Tama dan Pengawal kepercayaan Biao ada di ruangan itu juga. Dua lelaki itu hanya menjadi penonton atas pertunjukan romantis yang di buat Sharin dan Biao.
“Sharin, kau terlihat banyak berubah sekarang. Kau jauh lebih dewasa saat ini.” Tama mengukir senyuman memandang wajah Sharin.
Keponakan cantiknya selalu saja berbuat ceroboh dan tidak suka memiliki ikatan dengan lelaki. Tapi, malam itu Tama bisa melihat jelas Sharin menyerahkan hati dan hidupnya untuk Biao.
Biao memandang wajah Sharin sebelum menyentuh mangkuk bubur yang ada di tangan wanita itu. Menggeleng pelan sebagai pertanda kalau ia sudah kenyang dan tidak sanggup lagi memakan bubur yang di suapi Sharin.
“Hmm, baiklah. Sudah cukup malam ini.” Sharin meletakkan bubur yang ada di tangannya di atas meja. Wanita itu mengambil air putih untuk di berikan kepada Biao.
Tiba-tiba pintu terbuka. Mr. Paul muncul dengan beberapa anak buahnya. Lelaki itu memegang parsel buah dengan senyuman ramah, “Selamat malam, Presdir Bo. Bagaimana keadaan anda?”
Gelas yang sempat ada di tangan Sharin terlepas hingga menimbulkan suara kaca di permukaan lantai. Tama dan Pengawal pria itu beranjak dari sofa. Menatap waspada atas kehadiran Mr. Paul malam itu.
Biao menatap Mr. Paul sekilas sebelum membuang tatapannya ke arah lain. Ia tidak terlalu ingin memperdulikan kehadiran Mr. Paul malam itu. Biao tahu tujuan utama Mr. Paul hanya ingin membuatnya marah agar kembali merasakan sakit.
Mr. Paul melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan itu. Kedua bola matanya memperhatikan wajah Sharin dengan seksama. Ada luka di dahi wanita itu yang masih di tutupi perban putih. Lelaki itu menggertakkan giginya sebelum meletakkan buah yang ia bawa di atas tempat tidur Sharin.
Semua orang masih belum mau mengeluarkan kata. Walau sudah cukup yakin kalau Mr. Paul adalah dalang dari kecelakaan itu. Tapi, tetap saja mereka tidak memiliki bukti untuk menyeret Mr. Paul ke jalur hukum.
“Sharin Sayang, apa kau baik-baik saja? Aku sangat mengkhawatirkanmu,” ucap Mr. Paul dengan satu senyuman ramah.
“Selamat malam, Mr. Paul. Satu kehormatan bagi kami karena anda telah datang berkunjung malam ini. Silahkan duduk,” ucap Tama dengan senyuman terpaksa. Bagaimanapun juga, perusahaan mereka masih menjalin kerja sama. Tama memiliki rencana untuk membalikkan keadaan. Lelaki itu ingin perusahaan Mr. Paul yang di pandang jelek di depan pemilik saham.
“Terima kasih, Tuan Tama. Tapi, saya ke sini hanya untuk memandang wajah wanita saya,” ucap Mr. Paul yang terus berusaha memancing amarah Biao malam itu.
Tapi, Biao tidak lagi terpancing. Lelaki itu mengukir senyuman sambil memandang wajah Mr. Paul. “Wanita yang anda maksud adalah calon istri saya, Mr. Paul. Saya tidak pernah menyangka, kalau pria sukses yang selalu di hormati seperti anda suka dengan calon istri orang lain. Apa tidak ada wanita yang ingin hidup dengan anda? Hingga akhirnya anda harus mencintai Sharin saya?” Biao tertawa kecil, “Tidak, tidak. Sepertinya saya salah. Anda pria yang tidak bermutu. Pasti tidak ada wanita manapun di dunia ini yang memilih anda. Karena tidak mau berubah menjadi pecundang seperti anda.”
Tama mengukir senyuman saat mendengar kalimat perlawanan dari sahabat terbaiknya. Awalnya ia cukup khawatir kalau Biao akan terpancing emosi dan kembali mengalami sakit. Selama ini Biao memang terkenal dengan sosok yang tidak sabar dan mudah terpancing. Kedekatannya dengan Sharin memang sudah membuat perubahan yang jauh lebih baik.
Mr. Paul mengepal kuat tanganya. Lelaki itu tidak pernah menyangka kalau Biao tidak emosi sama sekali atas kalimat yang ia ucapkan. Justru lelaki itu melawannya dengan kalimat yang cukup menyakitkan.
Sharin hanya diam mendengar setiap kalimat yang di ucapkan Biao dan Mr. Paul. Sudah cukup sering dulu ia di perebutkan oleh pria kaya. Pemandangan seperti ini memang sudah sering terjadi. Namun, ia tidak pernah bermimpi akan bertemu dengan pria kaya yang kejam seperti Mr. Paul. Hingga berniat merenggut nyawa saingannya agar bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.
“Mr. Paul, sepertinya jawaban dari Presdir Bo sudah cukup jelas. Sebaiknya anda cari wanita lain yang cocok dengan kehidupan anda. Nona Sharin sudah menentukan pilihannya. Anda tidak pernah bisa memaksa kehendak anda pada wanita yang anda inginkan, Mr. Paul.” Tama mengukir senyuman sambil memperhatikan lelaki berbadan tegab yang ada di belakang Mr. Paul. Ia tidak ingin sesuatu yang buruk tiba-tiba terjadi.
“Sharin, apa kau tidak ingin mengatakan apapun?” ucap Mr. Paul yang masih belum mau menyerah.
Sharin masih tetap diam membisu sambil memandang wajah Biao. Wanita itu mengukir senyuman dengan satu tangan yang mengusap lembut wajah kekasihnya. Ia sengaja memamerkan kemesraannya dengan Biao. Kedua bola matanya melirik ke arah tangan Biao yang diam-diam memegang sebuah pistol yang tersimpan di balik selimutnya. Wanita itu juga bingung, sejak kapan senjata api itu ada di situ.
“Sebaiknya anda pergi dari sini, Mr. Paul. Jika anda benar-benar seorang pria, anda tidak akan menyerang lawan anda di saat lawan anda sakit seperti sekarang bukan?” Biao mengukir senyuman licik, “Saya akan menghadapi anda ketika keadaan saya sudah jauh lebih baik.”
Mr. Paul berjalan pelan untuk mendekati tempat tidur Sharin. Beberapa anak buah Mr. Paul menodongkan senjata api untuk mengancam semua orang.
Dengan gerakan cepat Pengawal Biao juga mengeluarkan dua pistol yang di genggam di tangan kanan dan kiri. Walau kalah jumlah ia tetap tidak ingin kalah dalam bertarung.
“Satu langkah lagi, saya akan menembak anda detik ini juga,” ancam Biao. Lelaki itu mengangkat senjata apinya lalu menodongkan benda berbahaya itu ke arah Mr. Paul.
Ancaman Biao berhasil membuat Mr. Paul menghentikan langkah kakinya. Wajahnya semakin kesal saat ia lagi-lagi harus gagal, “Kau akan membayarnya jauh lebih menyakitkan daripada sekarang, Biao!” ucap Mr. Paul kesal. Lelaki itu memutar tubuhnya lalu berjalan pergi meninggalkan ruangan itu. Diikuti beberapa bawahannya di belakang.
Biao meletakkan kembali senjata apinya di balik selimut. Adit yang memberikan senjata api itu kepadanya. Saat Biao bangun dari tidurnya ia melihat ada senjata api di balik selimut dengan selembar surat bertuliskan nama Adit.
“Aku akan segera memikirkan cara untuk melawan Mr. Paul,” ucap Tama yang sudah kembali duduk di atas sofa.
.
.
.
Hari ini hanya ada satu bab ya. Author uda gak bisa banyak2 update. Karena baru sembuh sakit tetap harus jaga kesehatan.
Terima kasih.