
Hari terus berlalu, hingga malam minggu telah tiba. Sharin berdiri di depan wastafel dengan wajah kebingungan. Wanita itu membersihkan wajahnya dan mengeringkannya dengan handuk.
“Apa yang harus aku lakukan?” ucap Sharin dengan debaran jantung tidak karuan. Malam ini Sharin telah memikirkan keputusannya dengan begitu matang. Ia telah siap melalui malam pertama dengan Biao. Tidak akan menunda lagi. Malam ini ia akan memberikan kejutan kepada Biao dengan menyerahkan dirinya untuk suami tercinta.
Tidak di sangka, cukup sulit bagi Sharin untuk mengungkapkan isi hatinya. Bahkan wanita itu berdiri di dalam kamar mandi hingga hampir satu jam lamanya. Teriakan Biao sudah terdengar berulang kali. Namun, Sharin hanya menjawab dengan kata sebentar.
Biao duduk di atas tempat tidur sambil membaca sebuah buku. Sebelumnya ia tidak pernah berkenalan dengan buku. Tapi, sejak menjadi seorang pengusaha. Ia mulai belajar untuk menjadi pribadi yang sempurna. Buku yang sering di baca juga buku yang di pilih langsung oleh Sharin. Biao memang tidak memiliki bakat apapun untuk menjadi sosok pemimpin. Bahkan memilih buku yang bagus saja ia tidak bisa.
Sharin keluar dari kamar mandi.Wanita itu duduk di tengah-tengah tempat tidur dengan wajah yang gelisah. Ia masih tidak tahu, bagaimana harus mengungkapkan isi hatinya. Jemarinya saling beradu. Napasnya terasa sesak bahkan di saat ia belum mengeluarkan kata.
Biao meletakkan buku yang sempat ia baca di atas nakas. Pria itu cukup bingung dengan sikap istrinya yang hanya duduk diam membelakangi. Sikap wanita itu memang tidak seperti biasanya. Jika malam-malam sebelumnya Sharin langsung berbaring dan tidur, tapi malam ini Sharin duduk diam.
“Sharin, apa kau baik-baik saja?” tanya Biao curiga. Ia cukup yakin, kalau Sharin baik-baik saja, ia tidak akan duduk seperti orang kebingungan.
Sharin mengangguk pelan, “Aku baik-baik saja.”
“Lalu, kenapa kau tidak berbaring?” sambung Biao. Kali ini pria itu duduk di samping Sharin agar bisa menatap jelas wajah istrinya.
“Sayang ...” ucap Sharin dengan suara lirih.
“Ya. Ada apa? Apa yang ingin kau katakan?” ucap Biao semakin bingung.
“Soal malam pertama kita.” Sharin memejamkan mata karena malu. Wanita itu cukup sulit mengatakan satu kata kalau ia telah siap.
Biao menaikan satu alisnya. Malam pertama yang di katakan Sharin membuat Biao menyimpan sejuta tanya. Bisa jadi wanita itu sudah siap. Bisa jadi wanita itu meminta maaf karena harus menundanya lagi.
“Apa yang ingin kau katakan?”
“Soal itu.” Sharin memejamkan matanya lagi sambil mengatur napasnya yang terputus-putus, “Aku sudah siap,” ucap Sharin mantap.
“Sharin, apa kau yakin? Kau tidak sedang mengerjaiku, kan?” ucap Biao dengan wajah yang cukup serius.
Wajah Sharin berubah memerah karena malu. Wanita itu menunduk lalu mengambil sebuah bantal dan meletakkannya di atas pangkuan. Kepalanya mengangguk pelan dengan bibirnya yang masih tetap membisu. Ia tidak tahu harus jawab ya atau tidak. Satu hal yang pasti, Sharin telah siap menyerahkan tubuhnya untuk Biao.
Debaran jantung Biao semakin tidak karuan. Melihat pertanda setuju dari Sharin memang telah membuatnya merasa bahagia. Bahkan Biao sendiri tidak tahu, bagaimana mengungkapkan rasa bahagia tiada terkira itu.
Biao menarik bantal yang di pangku Sharin sebelum meletakkan tangannya di leher istrinya. Pria itu mengecup pucuk kepala Sharin dengan lembut dan penuh perasaan. Kecupannya turun hingga ke bibir Sharin yang merah dan basah.
Dengan lembut Sharin membalas kecupan Biao. Wanita itu memegang pinggang suaminya dengan posisi masih duduk. Sama halnya dengan Biao. Debaran jantung Sharin juga semakin tidak karuan saat membayangkan malam pertama yang akan mereka lewati nantinya.
Biao melepas kecupannya dari bibir Sharin. Pria itu mulai menurunkan wajahnya dan mencium telinga dan leher istrinya. Satu respon yang cukup sulit di terima. Sharin tertawa kecil saat bibir Biao berhasil mengecup lehernya. Bahkan tawa wanita itu semakin kencang saat hembusan napas Biao terasa jelas di telinga kanannya.
“Sharin, apa kau bisa berhenti tertawa?” protes Biao dengan wajah yang cukup serius. Pria itu menatap wajah Sharin dengan wajah menuduh. Suasana romantis yang sempat ia buat tidak terasa jika istrinya yang ada di bawahnya tertawa dengan begitu kencang.
“Tapi itu sangat geli, jangan cium di situ,” protes Sharin dengan tawa kecil yang menggema. Wanita itu terus saja berusaha mendorong tubuh Biao agar menjauh dari dirinya karena tidak bisa menahan geli. Tawanya yang semula hanya suara kecil, lama kelamaan menjadi tawa riang yang memenuhi ruang.
Cukup sulit bagi Sharin untuk menguasai keadaan. Seharusnya detik itu ia larut dalam godaan Biao. Tapi, bukan larut dan mendesah, wanita itu justru tertawa riang seolah sedang menonton film komedi.
Biao menatap wajah Sharin dengan seksama. Pria yang juga tidak tahu harus bagaimana. Alisnya saling bertaut seolah protes dengan tawa Sharin yang terlihat bahagia.
“Aku tidak sedang menggelitikimu, kenapa kau tertawa seperti itu,” ucap Biao mulai kesal. Bahkan hasrat yang sempat memuncak itu sudah hilang entah kemana. Biao tidak lagi bersemangat untuk melanjutkan malam pertamanya.
“Tapi itu sangat geli,” ucap Sharin dengan tawa tertahan dan wajah yang ditutupi bantal.
Biao menghela napas sebelum beranjak dari atas tubuh Sharin. Pria itu berbaring di samping Sharin sambil menatap langit-langit kamar. Napasnya yang semula terputus-putus sudah kembali normal.
Biao menatap wajah Sharin yang masih tertutup bantal. Satu tangannya merebut paksa bantal itu lalu melemparnya ke bawah kaki, “Tertawalah, jika itu bisa membuatmu bahagia.”
Sharin yang masih menahan tawa, menatap wajah Biao dengan wajah ceria. Dalam hitungan detik, tawa Sharin pecah hingga memenuhi seisi kamar, “Maafkan aku.”
Biao menarik selimut lalu menutup tubuhnya. Satu tangannya ia letakkan di atas kepala sebagai bantal untuk kepalanya. Biao memejamkan mata untuk melupakan kejadian yang baru saja terjadi.
“Sayang, kau marah padaku?” ucap Sharin bingung. Wanita itu masuk ke dalam selimut yang sama dengan Biao lalu memeluk Biao dengan mesra.
“Ayo kita tidur, ini sudah larut malam,” ucap Biao sambil memeluk tubuh mungil Sharin.
Sharin mendongak sebelum mengukir senyuman. Setidaknya malam ini ia berhasil lolos. Walau sejak awal tawa itu bukan sengaja ia buat untuk mengagalkan malam pertamanya dengan Biao.
Biao mengecup pucuk kepala Sharin sebelum melanjutkan tidurnya. Harapan tentang malam pertama yang indah sudah hilang dan tak muncul lagi. Tubuh Biao sudah jauh lebih tenang dan nyaman. Pria itu memejamkan mata untuk meraih mimpi indah di alam bawah sadarnya.
.
.
.
Besok malam pertamanya 🤭