
Biao melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sahabatnya Tama, duduk di samping bangku kemudi. Sedangkan Sharin duduk di belakang dengan posisi nyamannya. Tidak ada suara di dalam mobil itu saat menjauh beberapa kilometer dari gedung S.G. Group. Hingga tiba di tengah kota, Tama mulai mengeluarkan suara. Lelaki itu mengukir senyuman sambil memandang wajah Biao.
“Kota ini sangat indah,” ucap Tama pelan. Kedua bola matanya terlihat memperhatikan keindahan kota San Fransisco dengan begitu teliti, “Pantas saja kau betah tinggal di sini, Biao.”
“Aku betah tinggal di sini karena ada Sharin di kota ini,” sambung Biao cepat. Lelaki itu memandang wajah Sharin melalui kaca spion. Ada senyuman penuh arti yang tersirat dari tatapan matanya.
“Biao, apa kalian benar-benar sudah berpacaran?” ucap Tama dengan wajah penasaran. Rasanya hatinya tidak cukup puas kalau belum mendengar jawaban itu langsung dari kedua belah pihak.
“Bahkan kami akan segera menikah,” ucap Biao dengan wajah yang cukup bahagia.
“Menikah?” celetuk Tama tidak percaya. Lelaki itu menatap wajah keponakan cantiknya untuk menagih satu penjelasan, “Apa itu benar, Sharin?” tanyanya sambil mengeryitkan dahi.
Sharin mengangguk dengan senyuman malu-malu, “Iya, Paman. Apa yang di katakan Paman tampan benar.”
“Aku tidak percaya kalau hubungan kalian berkembang secepat ini,” ucap Tama sebelum mengatur posisi duduknya di posisi semula, “Kapan rencananya kalian akan melangsungkan pernikahan?”
“Setahun lagi,” sambung Sharin cepat. Wanita itu terlihat cukup percaya diri saat menjawab pertanyaan Tama. Tidak ada beban atau rasa bersalah sedikitku di raut wajahnya.
Biao melirik melalui spion dengan tatapan tidak terima, “Satu bulan lagi. Aku sudah menunggumu menerima cintaku selama satu tahun. Lalu sekarang kau memintaku menunggu lagi selama setahun,” protes Biao tidak terima.
“Aku tidak mau secepat itu, setidaknya kita menikah saat usiaku 22 tahun,” rengek Sharin dengan wajah memelas.
“Sharin, apa kau tidak memikirkan usia lelaki ini. Kau memasuki usia ideal, sedangkan dia memasuki usia-” ucapan Tama terhenti saat sorot mata tajam milik Biao kini memandangnya dengan tatapan membunuh. Tama memukul pundak Biao dengan tawa kecil untuk memecah suasana, “Usia yang sangat ideal bagi pria,” sambung Tama.
“Tapi, aku belum siap kalau satu bulan lagi. Bahkan kami baru saja berpacaran. Aku ingin melewati masa-masa indah berpacaran. Paman Tampan juga belum melamarku lagi,” ucap Sharin pelan sebelum membuang tatapannya keluar jendela. Ia memang ingin menikah dan telah memutuskan mengubah statusnya menjadi istri Biao.
Tapi, tidak secepat yang Biao katakan. Masalah dengan Mr. Paul belum tentu ada solusinya, di tambah lagi keadaan S.G. Group yang masih belum stabil. Sharin tidak ingin pernikahannya di adakan secara mendadak dan tanpa persiapan. Ia ingin sebuah pernikahan yang benar-benar di rencanakan dengan secara tenang dan cukup santai. Tidak terburu-buru seperti apa yang kini di katakan oleh Biao.
“Tapi aku tetap tidak setuju jika kau meminta satu tahun,” ucap Biao sambil memutar stir mobilnya. Beberapa kilometer lagi mereka akan segera tiba di lokasi apartemen. Kini mobil lelaki itu akan melewati persimpangan jalan.
“Baiklah, kalau begitu sekitar-” ucapan Sharin terhenti. Kedua bola matanya membulat lebar saat melihat truk besar yang kini melaju kencang ke arah mobil yang ia tumpangi. Jarak mobil itu cukup dekat hingga membuat Sharin kehilangan napasnya detik itu juga. Wanita itu berteriak dengan cukup kuat saat merasa bahaya telah menyambutnya di depan mata. Kedua tangannya menutupi wajah dengan posisi tersilang.
Sama halnya dengan Sharin. Biao yang tiba-tiba mengetahui truk besar yang kini melaju kencang ke arahnya terlihat cukup panik. Lelaki itu berusaha menambah laju mobilnya di detik-detik terakhir mobil itu akan bersentuhan dengan truk yang mengincarnya.
“Aaaaa!” teriak Sharin dan Tama secara bersamaan saat mobil itu berhasil menyentuh mobil yang mereka tumpangi.
Bruakk!
Benturan yang cukup kuat telah terjadi. Suara tabrakan itu terdengar dengan cukup jelas. Ada suara pecahan kaca dari mobil yang baru saja mengalami kecelakaan. Tabrakan truk itu cukup kuat hingga membuat mobil yang di tumpangi Biao berputar-putar di jalanan raya. Truk itu masih mendorong mobil yang ia tabrak seolah sengaja dan berniat mencelakai penumpang yang ada di dalamnya.
Biao merasakan tubuhnya berputar-putar dengan posisi benturan yang cukup keras. Tidak ada hal lain yang ia ingat selain nama Sharin. Di saat kepalanya menghantam kuat bagian jendela kaca, ia berusaha memandang wajah Sharin.
Hingga beberapa meter berputar-putar di jalanan, mobil Biao berhenti di pinggiran jalan. Darah berkucur deras hingga membasahi seluruh bagian wajahnya. Lelaki itu memandang wajah Tama yang sudah tidak sadarkan diri. Biao dalam posisi terjepit. Lelaki itu tidak bisa bergerak. Kakinya seakan tidak terasa lagi. Bahkan seluruh tubuhnya cukup sulit untuk bergerak. Lehernya seolah patah dan hanya bisa memandang wajah Tama seorang.
Biao tidak bisa berbuat apa-apa untuk Sharin. Bahkan untuk memandang wajah wanita itu saja ia sangat kesulitan. Suaranya keluar dengan nada yang cukup lirih, “Sharin ....”
Suara yang di keluarkan Biao seakan menusuk ke relung jiwa. Suara itu dipenuhi dengan kesedihan yang cukup mendalam. Jantungnya seakan di remas hingga terasa cukup menyakitkan.
Sekuat mungkin Biao mengendalikan kesadarannnya. Namun, darah yang ia keluarkan memang cukup banyak. Bahkan jauh lebih banyak dari yang di keluarkan oleh Tama. Hampir separuh darah yang ia miliki telah hilang dan membasahi seluruh tubuh dan jas yang saat itu ia kenakan.
Bayangan wajah Sharin tiba-tiba saja kembali muncul. Senyuman dan tawa wanita itu mengiang di telinganya. Dalam hitungan detik Biao tidak lagi sadarkan diri. Lelaki itu memejamkan mata dengan hati dipenuhi rasa bersalah.
Suasana di dalam mobil itu dipenuhi dengan keheningan. Tidak ada suara di dalamnya. Di luar mobil terlihat orang-orang mulai berkerumun untuk menyelamatkan Biao dan yang lainnya. Bahkan mobil Polisi juga sudah tiba di lokasi.
Supir truk yang menjadi biang masalah telah tiada. Ia telah kabur dan melepas tanggung jawabnya begitu saja. Kini yang terlihat di pinggiran jalan raya kota San Fransisco adalah sebuah mobil sedan hitam dalam posisi terbalik. Ada sebuah truk besar yang melekat di bagian mobil sedan itu.
.
.
.
Like, Vote dan Komen. mulai besok kita up malam dan siang lagi kayak biasa... terimakasih...😘😘