
Sharin dan Biao sudah ada di dalam mobil. Bibir sepasang kekasih itu mengukir senyuman yang cukup indah. Bagi Biao masalah yang baru saja yang ia hadapi tidak lagi ada artinya. Kini satu hal penting yang harus ia pikirkan adalah pernikahannya dengan Sharin. Biao ingin segera melangsungkan pernikahan.
“Paman tampan, aku akan berusaha menghapus video perkelahian itu. Mungkin untuk video yang sudah di download akan sulit untuk menguasainya. Tapi aku akan berusaha untuk mencegahnya agar tidak tersebar ke seluruh penjuru dunia.” Sharin mengukir senyuman. Wanita itu kembali memandang layar laptopnya.
Biao menatap Sharin sekilas sebelum memandang ke arah jalan depan lagi, “Sharin. Jika aku tidak memiliki apapun apa kau akan tetap setia bersamaku?” ucap Biao ragu-ragu.
“Presdir Bo, itu bukan satu pertanyaan yang wajib untuk aku jawab.” Sharin menutup layar laptopnya. Meletakkan laptop itu di bawah kaki, “karena jawabannya sudah cukup pasti. Selamanya aku tidak akan meninggalkanmu. Bahkan di saat kau sedang terjatuh dan dalam kesulitan.”
“Terima kasih,” jawab Biao sambil mengukir senyuman. Lelaki itu menambah laju mobilnya agar segera tiba di gedung S.G. Group.
Beberapa menit kemudian, mobil yang di tumpangi Biao berhenti di depan gedung S.G. Group. Lelaki itu mengeryitkan dahi saat melihat kerumunan wartawan yang sudah siap untuk meminta penjelasan kepadanya.
Mr. Paul cukup terkenal di kalangan media.
Untuk masalah seperti ini sudah pasti berhasil mengguncang media. Di tambah lagi, Biao hanya di kenal sebagai pembisnis muda yang masih belajar. Belum cukup berpengalaman dan masih membutuhkan banyak bantuan dari pembisnis lainnya.
Sharin menutup wajahnya dengan tangan saat seluruh wartawan mengelilingi mobil yang ia tumpangi bersama Biao, “Paman, kita sudah menjadi artis mulai hari ini,” ucap Sharin dengan satu senyuman.
Biao menatap wajah Sharin dengan seksama sebelum membalas senyuman wanita itu, “Sharin, apa kau mau jalan-jalan?”
“Jalan-jalan?” celetuk Sharin kaget.
“Ya. Sepertinya kita sudah lama tidak jalan-jalan. Hari ini waktu yang tepat untuk jalan-jalan.” Tanpa menunggu persetujuan Sharin, Biao memundurkan laju mobilnya. Lelaki itu melirik kerumunan wartawan yang mengejar sebelum melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Beberapa mobil dan sepeda motor wartawan tampak mengejar mobil yang dilajukan oleh Biao. Mereka tidak ingin kehilangan Biao begitu saja.
“Hati-hati, aku takut,” ucap Sharin sambil memejamkan mata. Satu tangannya berpegangan kuat pada lengan Biao.
“Aku harus bisa menghindar dari kejaran wartawan di belakang. Mereka akan mengganggu jalan-jalan kita hari ini jika mereka tahu keberadaan kita nanti.” Biao melirik ke arah kaca spion.
Wartawan-wartawan itu sudah cukup jauh. Ada senyum puas di bibir Biao saat ia berhasil menghindari kejaran wartawan itu.
“Ada apa?” ucap Biao pelan.
“Para investor membatalkan kerja sama dengan perusahaan kita,” jawab Sharin dengan wajah kurang bersemangat.
“Aku sudah menduganya sejak tadi malam,” jawab Biao santai.
“Kenapa kau bisa setenang itu? Kita sedang dalam masalah besar. Seharusnya sekarang kita memikirkan solusi yang harus kita ambil untuk mengembalikan keadaan menjadi normal kembali.” Sharin terlihat kesal dengan jawaban Biao saat itu. Lelaki itu terlihat cukup santai dengan masalah besar yang baru saja terjadi.
“Sharin, kau melupakan sesuatu.” Biao menghentikan laju mobilnya saat lampu merah menyala.
“Apa yang aku lupakan?” ucap Sharin dengan wajah bingung yang diselimuti sejuta tanya.
Biao memiringkan tubuhnya untuk menatap wajah Sharin dengan seksama, “Kau lupa akan sesuatu. Kalau aku ada di sini karena untuk memperjuangkan cintaku. Bukan untuk melakukan bisnis dan menjadi pria Sukses. Sekarang aku sudah berhasil mendapatkan cintaku. Bahkan kau mau hidup berdua denganku. Apa lagi yang harus aku takutkan? Tidak ada satupun yang aku takutkan di dunia ini selain kehilangan orang yang aku sayangi. Apapun itu jika menyangkut orang yang aku sayangi, aku akan melindunginya hingga tetes darah terakhirku.” Biao mendaratkan satu sentuhan di wajah Sharin.
“Keluarga Tuan Daniel, Tama dan Kau. Kalian adalah prioritas utama kehidupanku selama ini. Bukan S.G. Group.”
Biao kembali melajukan mobilnya saat lampu merah telah hilang. Lelaki itu mengukir senyuman yang cukup indah dengan wajah yang cukup tenang.
Sharin membuang tatapannya keluar jendela. Wanita itu kembali mencermati setiap kalimat yang baru saja di ucapkan oleh Biao.
“Aku cukup bahagia karena bisa mendengar langsung kata-kata itu. Terima kasih karena sudah menjadikanku bagian terpenting di dalam hidupmu.”
Sharin mengukir senyuman sebelum mengatur posisi duduknya dengan senyaman mungkin. Detik itu ia setuju dengan rencana Biao untuk jalan-jalan. Setidaknya mereka bisa bersenang-senang sebelum memikirkan solusi selanjutnya.
.
.
Bab selanjutnya jam 12 siang. Terima kasih.