Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 46



Golden Gate Bridge.



Biao melajukan mobilnya menuju ke arah jembatan panjang yang menghubungkan antara kota San Fransisco dan kota Marin. Jembatan itu merupakan salah satu jembatan paling indah sejagad raya. Hanya dengan melewati jembatan itu saja sudah bisa membuat setiap pengunjung lupa diri. Lautan yang biru dengan hembusan angin yang kencang membuat pengguna jembatan ingin berlama-lama berada di atasnya.


Biao dan Sharin membuka jendela mobil. Membiarkan angin yang berhembus dengan begitu kencang masuk dan memenuhi bagian dalam mobil. Rambut Sharin tampak berterbangan. Wanita itu mengukir senyuman yang indah karena terlalu bahagia. Sejak dulu Biao memang selalu bisa membuat hatinya tenang.


Biao menghentikan mobilnya di salah satu tempat. Lelaki itu ingin membawa Sharin berdiri di pinggiran jembatan untuk menikmati keindahan laut biru, “Sharin, aku akan menunjukkan satu pemandangan yang cukup indah.”


Sharin mengukir senyuman saat mendengar perkataan Biao. Wanita itu melepas sabuk pengamannya sebelum keluar dari dalam mobil. Biao berjalan mengitari mobil untuk mendekati posisi Sharin berada. Melekatkan jemarinya di jemari Sharin hingga jari-jari itu saling terikat.


Biao mengukir senyuman sebelum membawa Sharin ke tepian. Angin yang cukup kencang menerpa rambut Sharin. Bahkan membuat rambutnya yang lembut menutupi wajah. Lelaki itu menarik rambut Sharin dengan satu senyuman. Menyelipkan rambut kekasihnya di balik telinga. Walaupun usahanya berakhir sia-sia. Karena lagi-lagi angin menerpa tubuh Sharin dan membuat rambutnya berantakan.



“Apa Paman tampan pernah ke sini sebelumnya?” tanya Sharin dengan wajah kegirangan.


“Ya. Aku pernah beberapa kali ke sini. Waktu itu aku berjanji untuk tidak mengunjungi tempat ini lagi jika tidak bersama dengan dirimu,” ucap Biao sebelum menarik tangan Sharin. Lelaki itu memutar tubuh Sharin agar membelakanginya. Kedua tangannya mengunci tubuh Sharin dengan satu pelukan mesra.


“Aku sangat senang berada di sini. Tempat ini sangat indah,” jawab Sharin dengan bibir tersenyum.


Sepasang kekasih itu memandang keindahan laut biru yang tersaji di depan mata. Beberapa kapal layar juga baru saja berangkat dan ingin menyebrang di bawah jembatan. Ombak di pinggiran pantai bisa terlihat indah jika di pandang dari atas jembatan. Beberapa wisatawan juga ada di lokasi yang kini di kunjungi Biao dan Sharin.


“Aku suka dengan kebebasan. Aku ingin selalu bebas seperti ini dengan wanita yang aku cintai,” bisik Biao di telinga Sharin.


Sharin mengangkat satu tangannya. Mengusap lembut wajah Biao dengan senyuman indah. Kata-kata Biao cukup romantis hingga membuat Sharin salah tingkah. Wanita itu semakin yakin dengan keputusan yang telah ia ambil. Pernikahan memang solusi utama untuk masalah yang kini ia hadapain bersama dengan Biao.


“Paman tampan juga harus bekerja dan menghasilkan uang. Aku ingin berkeliling dunia dengan fasilitas mewah,” jawab Sharin dengan tawa kecilnya.


Biao mengangkat satu alisnya saat mendengar ucapan Sharin. Lelaki itu mempererat pelukannya, “Aku akan membawamu keliling dunia dengan fasilitas mewah. Aku akan membuat hidupmu bahagia dan menjadi wanita paling beruntung di dunia ini.”


Sharin melanjutkan tawanya. Awalnya ia hanya iseng mengatakan kalimat itu. Tidak di sangka. Lagi-lagi Paman tampannya menanggapi harapannya itu sebagai satu hal yang wajib untuk di lakukan, “Kau memang pria yang cukup sempurna, Paman tampan. Terkadang aku sedikit menyesali penolakanku setahun yang lalu. Kau bahkan rela menungguku hingga aku siap menikah asal aku mau menerima lamaranmu,” gumam Sharin di dalam hati.


Sharin mengeryitkann dahi saat melihat anak kecil menangis dengan begitu kencang. Wanita itu memandang ke arah sumber suara. Terlihat jelas kalau ada seorang pria berbadan kekar yang menyeret paksa anak kecil berusia tujuh tahun. Di samping pria itu ada seorang wanita yang menangis dengan wajah ketakutan.


Sharin melepas pelukan Biao. Tanpa berbicara satu katapun ia berlari dan berniat untuk menolong anak itu. Biao mengeryitkan dahi saat melihat tingkah Sharin saat itu. Lelaki itu memasukkan kedua tangannya di dalam saku sambil memandang kejadian yang ada di depan matanya.


“Hei, apa yang kau lakukan! Apa kau penculik?” Sharin berdiri di hadapan pria berbada tegab itu. Meletakkan kedua tangannya di pinggang dengan wajah menantang. Sebenarnya ia tidak cukup berani melawan pria berbadan kekar itu. Hanya saja, saat itu ada Biao di sampingnya. Sudah pasti lelaki itu akan menolongnya.


“Nona manis, jangan halangi jalan saya. Anak ini harus saya bawa untuk menebus hutang wanita pela*cur ini.” Preman itu menatap wanita yang berdiri di sampingnya dengan tatapan menghina.


“Nona, tolong saya Nona. Saya tidak ingin berpisah dari anak saya,” ucap Ibu itu lirih dengan isak tangis yang tiada henti.


Preman itu melepas genggaman tangannya. Anak kecil yang sempat ketakutan telah berlari dan memeluk wanita berstatus ibunya, “Sepertinya untuk tawaranmu yang satu ini aku memiliki pengecualian. Kau bisa membayar hutang wanita ini dengan tubuhmu, Nona.”


Sharin tertegun beberapa saat. Menatap wajah preman itu dengan seksama. Ada Biao di dekatnya. Tidak ada hal apapun yang di takuti Sharin karena Paman tampannya akan menolong detik itu juga, “Seseorang akan menghajarmu dengan begitu menyakitkan jika kau berani menyentuhku,” ancam Sharin dengan senyuman kecil penuh arti.


“Siapa yang mau menolongmu? Apa pria yang sedang memandangmu itu?” Preman itu menunjuk ke arah Biao yang tidak melakukan apa-apa. Lelaki itu hanya berdiri diam untuk menonton Sharin dan Preman yang berdiri di hadapan Sharin.


Sharin memutar tubuhnya untuk memandang Biao. Wanita itu mengeryitkan dahi saat melihat Biao tidak melakukan kegiatan apapun, “Paman tampan, kenapa kau tidak menolongku.”


“Bukankah kau yang memutuskan sendiri keputusan untuk menolong wanita itu,” jawab Biao dengan wajah santainya.


Sharin menghela napas dengan perasaan campur aduk. Jika Biao tidak turun tangan dan membantunya, maka kini posisinya dalam bahaya. Secara perlahan Sharin memundurkan langkah kakinya. Bibirnya mengukir satu senyuman menyeringai. Wanita itu siap berlari dan memeluk Biao yang berdiri tidak jauh dari posisinya berdiri.


“Tangkap aku jika kau berani menyentuhku, jelek!” ledek Sharin sebelum berlari kencang. Wanita itu memeluk Biao dengan satu tawa di bibirnya.


Biao mengangkat alisnya saat melihat tingkah lucu Sharin siang itu. Satu tangannya ia angkat dan digerakkan sedikit sebagai kode agar seluruh anak buahnya yang tersembunyi keluar dan memberi pelajaran kepada preman itu.


“Kau cukup berani melawannya tadi. Kenapa di akhir pertujukan justru lari kepadaku?” ucap Biao sambil memandang anak buahnya yang sedang menyeret paksa preman itu.


“Aku takut padanya,” jawab Sharin pelan. Kepalanya masih ia benamkan di dalam dekapan Biao.


“Sharin, aku tidak mengijinkanmu melakukan hal seperti tadi. Itu bisa membuatmu celaka.” Biao membalas pelukan Sharin. Memberikan kehangatan kepada wanitanya.


“Aku melakukannya karena kau ada di sampingku. Jika kau tidak ada mungkin aku akan berlari mencari polisi dan meminta bantuan polisi itu,” jawab Sharin dengan penuh percaya diri.


Tiba-tiba saja ia tersadar dengan Preman yang tidak mengeluarkan suara apapun sejak tadi. Wanita itu melepas pelukannya untuk memandang wajah preman itu. Dahinya mengeryit saat melihat preman dan wanita itu sudah tidak ada pada tempatnya semula.


“Dimana Preman itu?”


“Sepertinya ia pergi karena takut melihatmu,” jawab Biao asal saja.


“Itu tidak mungkin. Ia pasti takut karena melihat sorot matamu yang menakutkan itu, Paman tampan.” Sharin memandang wajah Biao dengan seksama.


“Apa aku sangat menyeramkan?” tanya Biao dengan wajah cukup serius.


“Ya. Bagi orang lain kau menyeramkan. Tapi bagiku kau sangat menggemaskan.” Sharin mengukir senyuman sebelum memeluk lagi tubuh Biao. Hatinya tidak puas jika hanya memeluk Biao sebentar saja.


Biao mengukir senyuman yang cukup indah sebelum memeluk Sharin dengan penuh cinta. Menghalangi angin yang ingin menyerang tubuh wanitanya.


Vote jangan lupa ya reader... like juga. terima kasih.