
Siang yang terik telah berganti malam. Matahari yang bersinar terang sudah terganti bulan yang juga bersinar terang. Malam itu langit terlihat cerah hingga memamerkan taburan bintang yang cukup indah. Sharin dan Biao memutuskan untuk tidur di apartemen milik Sharin sebelum besok malam mereka pindah rumah. Ada banyak barang-barang yang ingin di bawah Sharin ke rumah barunya nanti.
Biao duduk di sebuah sofa sambil memeriksa setiap sudut apartemen Sharin. Ruangan itu cukup sempit jika di bandingkan dengan apartemen miliknya. Ini pertama kalinya Biao ada di dalam ruangan tersebut. Sejak kemarin-kemarin, ia sangat ingin memeriksa kamar Sharin. Namun, tidak ada kesempatan yang pas.
Suara pintu terbuka mengalihkan pandangan Biao. Sharin muncul dengan handuk kecil di kepalanya. Wanita itu mengeringkan rambutnya dengan handuk. Sharin sendiri tidak memiliki hairdryer seperti yang ada di apartemen Biao.
Wanita itu duduk sambil tersenyum kepada Biao. Kedua tangannya masih sibuk mengeringkan rambut, “Tidak mandi?”
Biao menurunkan pandangannya ke arah kaki Sharin yang memutih. Pria itu mengeryitkan dahi sambil menarik paksa kaki Sharin. Meletakkannya di atas pangkuan, “Kenapa kakimu sedingin ini. Apa kau baik-baik saja?” ucap Biao dengan penuh kekhawatiran.
“Aku sudah biasa seperti ini. Di apartemenku tidak ada pilihan air panas atau air dingin,” jawab Sharin dengan senyum menyeringai.
Biao memandang wajah Sharin sebelum mengusap lembut telapak kaki istrinya. Sebisa mungkin Biao memberi kehangatan agar kaki Sharin tidak lagi kedinginan.
“Itu terasa geli,” ucap Sharin sambil berusaha menarik kakinya.
“Berhentilah membantah. Kakimu sangat dingin. Bahkan jauh lebih dingin dari es,” ucap Biao. Pria itu semakin memperkuat genggamannya di kaki Sharin agar tetap ada di atas pangkuannya.
“Ya, tapi itu sangat geli,” ucap Sharin sambil tertawa geli, “Aku tidak bisa menahannya. Kau menyiksaku dengan cara seperti itu.”
Biao mengeryitkan dahi. Bukannya menghentikan gerakannya, ia justru terlihat semakin bersemangat untuk mengusap telapak kaki Sharin. Tawa yang terdengar dari bibir Sharin seperti satu hiburan tersendiri baginya.
“Sayang, hentikan,” protes Sharin di sela-sela tawanya, “Hentikan.”
Biao mengukir senyuman bahagia. Pria itu menghentikan gerakannya saat melihat Sharin tertawa riang. Satu tangannya menarik tangan Sharin agar wanita itu masuk ke dalam dekapannya.
“Kalau begini, apa masih dingin?” tanya Biao sambil mengusap lembut punggung Sharin.
“Aku tidak merasa kedinginan sejak tadi. Kau yang mengatakannya,” jawab Sharin sambil menjatuhkan kepalanya di dada Biao. Bibirnya tersenyum bahagia.
Biao mengangkat pinggang Sharin seolah wanita itu boneka yang cukup ringan. Mendudukan tubuh Sharin di atas pangkuannya. Kini, posisi mereka saling berhadapan. Hembusan napas Sharin bisa terasa jelas di wajah Biao.
Dengan manja, Sharin mengalungkan kedua tangannya di leher Biao. Satu kecupan singkat ia daratkan karena terlalu sayang kepada Biao.
Biao mengukir senyuman. Pria itu merasa kurang puas jika harus berciuman sesingkat itu. Satu tangannya menarik kepala Sharin agar wajah wanita itu kembali dekat dengan wajahnya.
Bibir Biao mendarat dengan lembut di atas bibir Sharin. Ia bisa merasakan manis dan dingin bibir wanita itu. Pasta gigi yang sempat di gunakan Sharin membuat bibir Sharin semakin nikmat untuk di cium. Tetap dengan perasaan dan kelembutan. Seperti itu cara Biao memperlakukan wanitanya.
Sharin membalas setiap gerakan ciuman yang diberikan oleh Biao. Matanya terpejam sambil menikmati sentuhan hangat suaminya. Sayangnya, suara bel pintu mengganggu suasana romantis mereka malam itu.
Sharin dan Biao saling memandang dengan wajah bingung. Tidak ada yang tahu alamat Apartemen Sharin seharusnya. Di tambah lagi, saat ini Sharin tidak sedang dekat dengan siapapun.
“Apa kau memesan makanan?” tanya Biao dengan wajah yang cukup serius.
Sharin menggeleng, “Aku sudah menyiapkan makan malam untuk kita di dapur.”
“Lalu siapa yang datang malam-malam begini?” tanya Biao dengan wajah menyelidik.
“Mungkin tetangga. Mereka juga sering memberiku makanan,” jawab Sharin tanpa rasa curiga, “Aku akan memeriksanya.” Wanita itu beranjak dari pangkuan Biao. Namun, langkahnya terhenti saat Biao menahan langkahnya.
“Aku ikut,” ucap Biao tanpa mau di bantah. Ia tidak mau mengambil resiko kalau bahaya yang akan di temui istrinya di depan pintu.
“Biar aku yang membuka,” ucap Biao. Pria itu menarik tubuh Sharin hingga bersembunyi di belakang tubuhnya.
Sharin hanya bisa menurut tanpa mau membantah. Ia juga tidak bisa mengambil keputusan sepihak. Mala petaka yang terjadi sebelum ini, sudah lebih dari cukup untuk membuat dirinya waspada.
Biao membuka pintu dengan cepat hingga pintu itu terbuka lebar. Alisnya saling bertaut saat melihat seorang pria berdiri di ambang pintu dengan kantung plastik berisi makanan.
“Siapa kau?” ucap Biao dengan tatapan sinis dan tidak suka.
“Presdir Bo,” celetuk Edo kaget.
Sharin mengintip dari balik tubuh Biao. Wanita itu mengukir senyuman terpaksa dengan tawa kecil. Ia segera mengambil posisi agar berdiri di samping Biao, “Apa yang kau lakukan di sini, Edo?”
Edo mengangkat kantung plastik yang ia bawa, “Aku hanya ingin memberi makanan ini.”
Sharin memandang wajah Biao sebelum memandang Edo lagi. Ia juga terlihat bingung karena ada karyawan S.G. Group yang mengetahui kedekatannya dengan Biao malam itu.
“Pergilah. Kami tidak butuh makanan seperti itu,” ketus Biao sebelum menutup pintu apartemen itu dengan emosi.
Sharin menghela napas saat pintu itu telah kembali tertutup rapat. Ia hanya mematung tanpa bisa mengeluarkan kata sedikitpun. Tidak pernah terbayangkan di dalam pikirannya kalau Edo akan menemuinya hingga di apartemen. Padahal, sejak pagi di S.G. Group Sharin terus saja menghindar.
“Kau ingin menemuinya?” tanya Biao saat melihat Sharin hanya diam melamun.
Sharin menggeleng pelan, “Aku hanya bingung. Bagaimana jika ia memberi tahu seluruh karyawan S.G. Group tentang keberadaanmu malam ini.”
Biao menghela napas, “Itu bagus. Agar seluruh S.G. Group tahu kalau kau milikku.”
Biao mengangkat tubuh Sharin ke dalam gendongannya, “Jangan memikirkan pria lain. Aku ada di sini bersamamu. Hanya boleh ada namaku di dalam ingatanmu itu.”
Sharin mengalungkan kedua tangannya di leher Biao. Ia tidak lagi mau terlalu pusing memikirkan kehadiran Edo malam itu. Sharin sudah memiliki alasan lain yang bisa membuat Edo percaya dengannya nanti.
Di sisi lain.
Edo masih berdiri di depan pintu apartemen Sharin. Ada rasa marah dan cemburu saat melihat Biao ada di apartemen Sharin. Segala gosip yang selama ini menjelekkan nama Sharin detik itu juga ia percaya. Kalau Sharin memang memiliki hubungan yang spesial dengan atasannya.
Namun Edo tidak tahu, hubungan seperti apa yang terjalin di antara Sharin dan Biao. Ia hanya tahu, kalau Sharin mendekati Presdir Bo demi karir dan masa depan yang jauh lebih cemerlang.
Dengan wajah kecewa Edo memutar tubuhnya. Kantung plastik berisi makanan yang ada di genggamannya ia lempar ke arah tong sampah. Tadinya ia berpikir bisa mendekati Sharin dengan makanan yang ia bawa. Tidak di sangka, ia mendapat sambutan mengerikan dari Biao.
“Sharin, aku tidak menyangka kalau kau sama dengan wanita yang lainnya. Awalnya aku berpikir, kalau kau wanita yang suci dan tidak suka dekat dengan pria. Tapi, kenapa malam ini aku melihatmu bersama pria itu. Usia kalian terlalu jauh dan pria itu adalah atasan kita. Apa benar kau wanita simpanan?” ucap Edo sambil terus berjalan pergi.
.
.
.
Like dan Komen.