Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 47



Setelah puas berjalan-jalan di jembatan, Biao mengajak Sharin berkeliling kota San Fransisco. Hingga jam makan siang kembali tiba. Kini sepasang kekasih itu sudah duduk santai dengan menu makan siang di hadapan mereka. Wajah Biao dan Sharin terlihat berseri. Masalah dengan Mr. Paul tidak lagi tersimpan di dalam pikiran mereka. Hanya ada bahagia dan canda tawa yang kini memenuhi isi pikiran sepasang kekasih itu.


Sesekali Sharin menyuapin Biao dengan makanan yang ada di piringnya. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih pada umumnya. Saling mencintai dan saling menyayangi.


Di sisi lain para pengawal yang biasa menjaga Biao telah memperhatikan Biao dengan seksama. Lokasi yang kini menjadi tempat makan siang Biao dan Sharin telah mereka periksa dan sudah di pastikan aman dari para wartawan.


“Setelah ini kita mau kemana?” Biao memandang wajah Sharin dengan satu senyuman.


“Tentu saja ke S.G. Group. Kita tidak bisa meninggalkan S.G. Group seharian. Ada tugas yang harus kita pertanggung jawabkan di perusahaan itu.” Sharin meletakkan sendok dan garpun di atas piring yang sudah kosong. Wanita itu meneguk air putih setelah menghabiskan makan siangnya.


“Aku akan menyuruh orang untuk mengusir wartawan itu dari S.G. Group.” Biao mengeluarkan ponselnya. Memberi perintah agar tidak ada lagi awak media saat ia kembali ke S.G. Group nantinya.


“Paman tampan, apa aku boleh kembali ke apartemenku?” bujuk Sharin dengan wajah memelas.


“Tidak!” celetuk Biao cepat.


Sharin menghela napas. Ekspresi wajahnya juga menjadi sedih. Wanita itu mengambil segelas jus yang ada di hadapannya. Mengaduk-ngaduk sedotan yang ada di dalam gelas. Wajahnya terlihat tidak bersemangat.


Biao memperhatikan wajah Sharin dengan seksama. Ia cukup tahu kekecewaan yang kini di rasakan oleh kekasihnya. Tetapi Biao tidak memiliki pilihan lain. Hanya dengan cara itu agar Mr. Paul tidak berani menyentuh Sharin lagi. Lelaki itu tidak ingin mengambil resiko untuk yang kedua kalinya.


Sharin memandang ke luar jendela. Restoran itu ada di lantai atas. Dari jendela bisa melihat dengan jelas keramaian kota yang ada di jalan raya. Wanita itu mengukir satu senyuman sambil membayangkan masa-masa kuliahnya dulu. Semua kenangan buruk yang pernah ia alami kembali mengiang di dalam ingatannya.


“Sharin, maafkan aku. Aku tidak ingin kau celaka lagi. Kita tidak tahu strategi apa yang kini telah di susun Mr. Paul. Ia pasti tidak akan tinggal diam melihat kita setenang ini.” Biao meraih tangan Sharin. Mengusap punggung tangan wanita itu dengan kelembuatan.


“Saat kuliah aku suka bersenang-senang dengan rekan sekelasku. Namun, aku tidak pernah mau memiliki satu ikatan.” Sharin menatap wajah Biao, “Aku mengenal banyak pria tampan. Bagiku pria tampan adalah sebuah hiburan. Aku bisa memamerkan pria tampan yang aku kenal kepada rekan sekelasku. Lalu mereka akan memujiku dengan kata hebat.”


Biao mencermati setiap kalimat yang diucapkan Sharin. Lelaki itu belum paham dengan maksud Sharin menceritakan hal itu.


“Di tambah dengan prestasiku yang luar biasa di kampus. Membuatku cukup terkenal saat itu. Bahkan aku mendapat tawaran pekerjaan di beberapa perusahaan. Kebanyakan perusahaan itu di pimpin oleh pria tampan yang aku kenal.” Sharin meletakkan tangannya di atas tangan Biao yang kini ada di atas tangannya, “Aku memilih S,G. Group setelah menyelesaikan pendidikanku. Menolak beberapa perusahaan yang ada.” Sharin mengukir senyuman sambil memandang wajah Biao dengan seksama.


“Kenapa kau memilih S.G. Group, Sharin? Aku cukup tahu alasan utamamu bukan karena aku.” Biao membuang tatapannya ke arah lain sebelum memandang wajah Sharin lagi.


Sharin mengangguk pelan, “Kau benar. Bukan karena dirimu aku memilih S.G. Group. Aku bahkan sangat ingin menghindarimu hingga aku memilih S.G. Group cabang Amerika.” Ada tawa kecil di bibir Sharin siang itu.


“Sharin, aku masih belum mengerti apa maksudmu. Tadi kita membahas soal apartemen. Sekarang kau membahas masa kuliah.” Biao mengeryitkan dahi dengan wajah penasaran.


“Paman tampan tidak mau bertanya, kenapa aku tidak memilih perusahan dari pria tampan yang aku kenal?”


Biao kembali membisu sambil mencerna perkataan Sharin, “Apa alasanmu menolak mereka?”


“Karena mereka semua mengajakku menikah. Aku memiliki trauma buruk karena perceraian kedua orang tuaku.” Sharin menunduk sedih, “Mereka berkelahi dan bercerai sebelum malam kecelakaan itu.”


Sharin menggeleng kepalanya pelan, “Aku anak angkat. Orang tua angkatku Kakak Paman Tama.”


Tiba-tiba saja suasana berubah hening. Walau masih banyak orang bercerita dan berlalu lalang di sekitar restoran itu.


“Sharin, kau dan Tama bukan saudara sedarah?”


Sharin menggeleng kepalanya pelan, “Aku meminta Paman Tama tidak menceritakan rahasia ini kepada siapa-siapa.”


Detik itu Biao baru saja mengerti kalau dirinya dan wanita yang ia cintai sama-sama sebatang kara. Bedanya Sharin pernah mengenal kedua orang tuanya. Sedangkan Biao tidak pernah tahu dimana dan siapa kedua orang tuanya.


Biao beranjak dari kursi yang ia duduki. Lelaki itu menarik tangan Sharin dan membawanya pergi dari meja itu. Wajahnya tidak terbaca. Sharin hanya bisa mengikuti tanpa mengeluarkan kata. Padahal masih banyak yang ingin ia ceritakan, tapi lelaki itu lebih dulu mengajaknya pergi.


“Sharin, masuklah.” Biao membuka pintu mobil sebelum menatap wajah Sharin.


Sharin masuk ke dalam mobil dengan wajah bingung.


Biao juga masuk ke dalam mobil dan duduk menghadap Sharin. Lelaki itu mengeluarkan foto Tuan dan Ny. Edritz yang ada di laci mobilnya, “Ini orang tuaku selama ini.”


Sharin menerima foto itu. Wajahnya cukup bingung saat melihat foto yang di tunjukkan oleh Biao adalah foto kedua orang tua Daniel, “Tapi, ini ....”


“Sharin, kau tidak perlu bersedih dengan kepergian kedua orang tuamu. Orang tuamu yang sekarang adalah orang yang harus kau pikirkan. Kau harus bisa melupakan trauma yang pernah kau alami. Sama sepertiku. Aku dulu cukup membenci wanita. Hanya Ny. Edritz wanita yang aku percaya perkataannya. Setelah itu Nona Serena. Aku sendiri sempat memutuskan untuk tidak menikah seumur hidupku.” Biao meraih tangan Sharin sebelum menggenggamnya dengan penuh perasaan, “Saat bertemu denganmu aku melupakan semua prinsip yang pernah aku buat. Aku bahkan melewati batas hingga ingin memilikimu dan menikahimu secepat yang aku inginkan.”


“Paman tampan, maafkan aku. Aku tidak tahu kalau kau memiliki kenangan buruk di dalam hidupmu.” Sharin menarik tangan Biao melekatkannya di pipi kanan.


“Sharin, kita sama-sama memiliki masa lalu yang sulit untuk dilupakan. Aku ingin kita melupakan kenangan buruk itu. Kita harus bisa memandang masa depan. Kita harus bisa membentuk masa depan yang jauh lebih indah. Aku berjanji untuk menjaga pernikahan kita nanti hingga maut memisahkan kita. Kau juga harus berjanji untuk menjadi wanita baik yang selalu mencintaiku.”


Sharin mengangguk sebelum memeluk Biao. Wanita itu kini bisa melupakan traumanya atas pernikahan kedua orang tuanya dulu. Sharin bisa sedikit tenang dengan pernikahan yang akan segera ia hadapi.


“Kau masa depan yang sudah di siapkan Tuhan untukku,” gumam Biao di dalam hati.


.


.


.


Mohon maaf. dikarenakan author jatuh sakit. asam lambung kumat. jadi akan up 1 bab ataupun GK update. tapi di usahakan up walau satu bab. setelah kembali pulih akan up normal dan kita crazy up lagi. terima kasih.🙏