
Siang hari. Sharin duduk dengan beberapa berkas yang ada di atas mejanya. Detik itu ia tidak lagi mau turun ke lantai bawah. Sesuai perkiraannya sejak awal. Semua karyawan kini memandangnya sebagai wanita penggoda. Sebagai karyawan baru, Sharin cukup hebat karena bisa mendapat perhatian lebih dari atasan S.G. Group.
Biao memberhentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk S.G. Group. Tidak cukup sampai di situ. Lelaki itu juga tidak membiarkannya turun lebih dulu sebelum Biao membukakan pintu.
Amelia menepuk pundak Sharin saat wanita itu sibuk melamun di depan layar komputernya. Kepalanya mendongak ke samping unutk melihat sosok yang baru saja membuatnya kaget.
“Apa kau mau menemaniku?” ucap Amelia dengan senyuman yang cukup indah.
“Kemana?” tanya Sharin dengan dahi mengeryit.
“Ke suatu tempat. Tapi kali ini kau harus membantuku,” bisik Amelia di telinga Sharin.
“Membantu apa?” Sharin semakin penasaran dengan permintaan sahabatnya siang itu.
“Aku mau seluruh cctv di gedung ini mati selama satu jam. Kau bisa melakukannya, Sharin. Aku tidak ingin kepergian kita di ketahui orang lain.”
“Kenapa harus seperti itu? Hal itu cukup beresiko, Amelia,” tolak Sharin dengan nada cukup pelan.
“Sekali ini aja, Please.” Amelia memasang wajah memelas.
“Aku tidak bisa mematikannya. Itu akan cukup mencurigakannya. Mungkin aku bisa mengaturnya agar kepergian kita tidak terlihat.” Sharin menatap layar komputernya, “Tapi, ingat. Setelah jam makan siang berakhir kita harus sudah kembali ke gedung ini.”
“Ok, Cantik,” ucap Amelia sambil mengedipkan sebelah matanya.
Sharin mulai menguasai camera cctv yang di miliki gedung S.G. Group. Tidak ada hal membuatnya cuirga atas permintaan sahabatnya itu. Sudah berulang kali Sharin membantu shabatnya itu agar tidak ketahuan saat pergi. S.G. Group memang memiliki peraturan yang cukup tegas. Tidak ada yang boleh meninggalkan gedung S.G. Group sebelum jam bekerja berakhir.
“Dengan cara seperti ini, pria itu tidak akan bisa mengikutiku. Bahkan bawahannya yang selama ini menjaga Sharin juga tidak akan sadar kalau Sharin sudah tidak ada di gedung perusahaan ini. Sharin, Sharin. Kau memang wanita bodoh yang sangat mudah di tipu. Pantas saja pria itu membohongimu hingga sejauh ini. Kau terlalu mudah percaya dengan orang lain,” gumam Amelia di dalam hati.
“Ok. Sudah selesai,” ucap Sharin sebelum beranjak dari kursi yang ia duduki. Wanita itu mengambil tasnya untuk berangkat pergi menemani Amelia.
Di sisi lain.
Biao terlihat sibuk di ruang rapat. Pria itu memimpin rapat siang hari dengan penampilan yang cukup sempurna. Tidak sia-sia semua ilmu yang diberikan oleh Tama kepadanya selama ini. Detik itu ia sudah bisa di katakan berhasil menguasai jabatan yang diberikan Daniel kepada dirinya. S.G. Group cabang Amerika berkembang pesat berkat kerja kerasnya selama ini.
“Selamat, Presdir Bo. Anda memang pria yang sangat luar biasa,” ucap salah satu investor yang juga berada di ruang rapat.
“Terima kasih, Tuan.” Biao mengukir senyuman ramah. Senyuman dan sifat ramah Tama selama ini ia tiru hingga kini ia berhasil membentuknya.
Setelah semua orang meninggalkan ruangan rapat, Biao duduk kembali di atas kursi. Memandang seluruh kursi yang sudah tidak berpenghuni. Bibirnya mengukir senyuman. Gedung itu miliknya saat ini. Maju atau mundurnya gedung itu ada di tangannya.
Tiba-tiba saja Biao kembali ingat dengan Sharin. Sejak pertemuannya tadi pagi dengan Sharin, ia belum melihat wajah Sharin lagi. Pria itu berniat untuk memanggil Sharin agar datang berkunjung ke ruang kerja miliknya. Biao ingin segera melihat camera cctv dari laptopnya untuk melihat kegiatan Sharin saat ini.
Belum sempat ia meninggalkan ruang rapat. Ponselnya berdering. Biao mengambil ponselnya dari dalam saku. Dahinya mengeryit saat melihat nama Walker ada di layar ponselnya. Tidak biasanya lelaki itu menelpon jika masih di jam kerja seperti ini.
“Gawat! Sharin hilang bersama dengan Amelia. Aku cukup yakin kalau Amelia merencanakan sesuatu. Ceritanya cukup panjang. Aku tidak bisa menemuimu sejak pagi karena kau terlalu sibuk untuk rapat.” Suara Walker terdengar cukup panik.
“Sekarang dimana dia?”
“Aku akan mengirim alamatnya. Sekarang aku sudah dekat dengan lokasi itu.”
Biao mematikan panggilan masuk Walker bahkan di saat pria itu belum sempat menyelesaikan ucapannya. Bagi Biao detik itu yang penting adalah alamat keberadaan Sharin. Setelah alamat itu masuk ke dalam layar ponselnya, Biao bergegas pergi. Ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang ada. Baginya Sharin sangat berharga bahkan lebih berharga dari nyawa yang ia miliki. Ia tidak ingin Sharin terluka.
“Sharin, aku harap kau baik-baik saja.” Biao berlari menuju ke arah lift. Hatinya kini di penuhi harapan kalau ia datang tepat waktu.
***
Amelia menghentikan mobilnya di depan rumah kumuh. Dari lokasinya saja Sharin sudah tidak percaya dengan tempat yang kini mereka kunjungi.
“Amelia, rumah siapa ini?” Sharin memandang wajah Amelia yang kini duduk di balik kemudi.
“Ini rumahku. Rumah keluargaku, Sharin. Aku sangat merindukan kedua orang tuaku hingga sangat ingin berkunjung ke rumah ini,” ucap Amelia dengan tetesan air mata kebohongan.
“Maafkan aku, Amelia. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu bersedih seperti ini.” Sharin menepuk pelan pundak Amelia dengan wajah merasa bersalah.
“Sekarang ayo kita turun,” ucap Amelia.
Kedua wanita itu melepas sabuk pengaman secara bersamaan sebelum keluar dari dalam mobil. Amelia menarik tangan Sharin dengan senyuman yang cukup manis. Sharin membalas senyuman itu sebelum mengikuti jejak kaki Amelia.
Dengan hati-hati, Amelia membuka pintu yang dipenuhi dengan debu. Sharin bahkan menutup sebagian wajahnya saat debu itu berterbangan. Barang-barang yang ada di rumah itu masih tertata rapi di tempatnya. Hanya saja, ada debu yang cukup tebal menutupi warna catnya.
Amelia membawa Sharin menuju ke sebuah pintu yang ada di sudut ruangan. Hingga detik itu, Sharin belum sadar dengan niat jahat Amelia. Wanita itu masih tetap percaya dengan perkataan sahabatnya.
“Ini kamarku dulunya,” ucap Amelia. Wanita itu membuka pintu ruangan itu dengan senyuman.
“Rumah ini sangat besar. Kenapa kau tidak menempatinya?” Sharin memperhatikan ruangan yang ada dengan seksama. Ia cukup kagum dengan desain rumah Amelia. Andai saja rumah itu di rawat pasti akan menjadi rumah yang cukup nyaman untuk di tempati.
“Kedua orang tuaku meninggal di tempat ini. Aku tidak ingin dihantui dengan bayang-bayang mereka,” jawab Amelia dengan suara cukup pelan.
“Kau harus sabar, Amelia.” Sharin memeluk tubuh Amelia saat mereka sudah tiba di dalam kamar.
“Terima kasih,” jawab Amelia dengan suara yang cukup pelan.
Amelia mengukir senyuman saat merasa waktunya sudah tiba. Dengan gerakan cepat ia mendorong tubuh Sharin ke arah sofa. Hingga tubuh Sharin tiba-tiba melayang dan terduduk di atas sofa.
“Amelia,” ucap Sharin pelan.