
Mr. Paul mengukir senyuman penuh arti. Baginya tamparan Sharin tidak ada artinya sama sekali. Satu hal yang paling penting hanya tubuh Sharin. Siang itu ia ingin melahap habis tubuh mangsanya.
“Anda pria menjijikkan yang pernah saya temui. Beraninya anda menghina saya dengan kalimat seperti itu. Anda pikir saya wanita seperti apa? Apa anda pikir saya wanita murahan yang bisa dengan mudah anda beli dengan uang?” teriak Sharin dengan wajah memerah karena marah.
“Menjijikkan kau bilang?” ucap Mr. Paul dengan tatapan menyeramkan. Awalnya ia tidak terlalu peduli dengan penolakan yang di lakukan oleh Sharin. Namun dengan kata menjijikan yang baru saja di ucapkan oleh Sharin cukup membuatnya merasa tersinggung.
“Ya. Anda pria yang cukup menjijikkan!” ucap Sharin mantap.
“Baiklah. Akan aku beri tahu bagaimana menjijikkan yang baru saja kau sebutkan itu,” ucap Mr. Paul cepat.
Satu tangannya mencelak kedua tangan Sharin dan satunya lagi menarik pinggang wanita itu. Bibirnya mulai mendarat di bibir merah Sharin yang memang sudah beberapa hari ini ia inginkan. Hatinya cukup puas karena berhasil menyentuh wanita yang inginkan.
Sharin terus saja menghindari sentuhan lelaki asing yang kini ada di hadapannya. Seluruh tenaga yang ia miliki ia kerahkan untuk mendorong tubuh Mr. Paul agar menjauh dari tubuhnya. Tapi, semua seakan sia-sia. Tubuhnya yang mungil tidak akan mudah untuk melawan tubuh lelaki kekar dan berotot seperti Mr. Paul.
“Kau sungguh nikmat sayang,” ucap Mr. Paul sebelum melanjutkan ciuman rakusnya lagi.
Sharin terus mengunci mulutnya dan menggerak-gerakkan kepalanya dari sentuhan Mr. Paul. Napas lelaki itu terasa hangat di depan wajahnya. Aroma tubuhnya yang khas seperti sudah melekat di baju yang saat itu ia kenakan.
“Lepaskan! Dasar ********!” umpat Sharin semakin kesal. Hatinya cukup menyesal karena tidak mendengarkan perkataan Biao selama ini. Andai saja ia tidak seceroboh ini maka semua ini tidak akan terjadi.
“Kau milikku, Sharin. Kau tidak akan pernah bisa menolakku. Detik ini juga kau akan menjadi milikku seutuhnya,” ucap Mr. Paul penuh penekanan.
Sharin semakin panik tak karuan. Ia tidak ingin hal buruk itu menimpahnya. Tubuhnya hanya milik Biao. Paman tampan yang sangat ia sayangi seumur hidupnya. Pria yang ia cintai dan tak akan pernah tergantikan oleh yang lainnya.
“Paman Biao,” teriak Sharin dengan suara serak, “Tolong Sharin.” sambungnya lagi.
Genggaman tangan Mr. Paul terlepas saat lelaki itu mendengar teriakan Sharin. Nama Biao memang cukup terkenal di kalangan S.G. Group sebagai orang yang paling berbahaya dan selalu melindungi Daniel sejak kecil.
Tetapi, pria itu sangat jarang menghadiri satu pertemuan. Bahkan Mr. Paul sendiri tidak tahu kalau Predir Bo dan Biao adalah orang yang sama.
Plaakk
Satu tamparan mendarat lagi di pipi Mr. Paul. Kali ini Sharin mendorong tubuh lelaki itu dengan sekuat tenaga. Satu tangannya menghapus bekas ciuman Mr. Paul yang sempat ada di bibirnya.
Dengan gerakan cepat Sharin mengambil barang-barang miliknya. Wanita itu berjalan setengah berlari menuju ke arah pintu. Ia ingin segera menjauh dari rumah itu.
Mr. Paul mengumpat kesal karena lagi-lagi ia harus gagal. Bukan karena nama Biao yang membuatnya takut. Tapi nama Biao membuatnya cemburu. Ia tidak pernah menyangka kalau sudah ada nama pria lain yang mengisi hidup Sharin.
Dengan langkah kasar ia berjalan menuju ke bar miliknya. Menuang minuman beralkohol ke dalam gelas sebelum meneguknya dengan rakus. Setelah meneguk isinya ia setengah membanting gelas kristal itu di atas meja.
Seorang pria berjalan mendekati posisi Mr. Paul saat itu, “Tuan. Apa kita perlu mengejarnya?”
“Biarkan saja dia pergi,” ucap Mr. Paul cepat sebelum menuang kembali minuman itu pada gelasnya.
“Tuan, kami menemukan ini.” Lelaki itu menunjukkan gelang yang biasa di pakai oleh Sharin. Gelang itu terjatuh saat tangannya terus berontak dan berusaha menghindar dari ciuman Mr. Paul.
Mr. Paul meneriman gelang itu dengan bibir tersenyum, “Sepertinya kami akan bertemu lagi.” Tangannya menggenggam erat gelang Sharin, “Aku mau kalian menyelidiki tentang Biao. Dimana dia sekarang berada dan tunjukkan pada saya bagaimana wajahnya.”
“Baik, Tuan.” Pria itu menunduk hormat sebelum pergi meninggalkan Mr. Paul.
Sharin terus berlari untuk menjauh dari rumah besar itu. Bahkan gerbang yang tinggi dan di jaga ketat itu terbuka untuk membiarkannya pergi tanpa halangan. Setelah benar-benar menjauh dan berlari untuk menghindar, Sharin duduk di pinggiran jalan. Kejadian itu kembali membuatnya takut. Tubuhnya gemetar dengan perasaan campur aduk.
Sharin menangis dengan perasaan yang dipenuhi penyesalan. Wanita itu mendongakkan kepalanya saat melihat hujan yang akan segera turun. Sharin tersesat. Ia tidak tahu sekarang ada di mana. Lokasi yang ia tempati bukan sebuah kota dengan gedung-gedung tinggi. Lokasi itu di penuhi pepohonan yang rindang dengan lapangan hijau yang cukup luas.
Sharin kembali melanjutkan langkah kakinya di tengah-tengah hujan yang sudah turun dan cukup deras. Bahkan semua dokumen dan isi tas yang ia miliki tidak lagi ia pedulikan. Semuanya basah bersamaan dengan baju yang ia kenakan.
Sesekali Sharin menghilangkan tetes air hujan yang menghalangi pandangan matanya. Ia tidak mau Mr. Paul mengirim orang dan menangkapnya lagi saat ini. Sharin mempercepat larinya dengan wajah dipenuhi ketakutan.
Satu tangan menahan pundaknya secara tiba-tiba. Sharin kembali kaget dan trauma dengan Mr. Paul, “Jangan sentuh aku. Pergilah!” teriak Sharin sambil melanjutkan langkah kakinya.
“Sharin,” ucap Biao pelan.
Sharin terdiam untuk beberapa detik. Ia tidak yakin dengan suara yang baru saja ia dengar. Wajahnya cukup ragu jika lelaki itu benar-benar kekasihnya.
“Sharin, apa kau baik-baik saja?” ucap Biao sekali lagi untuk kembali memastikan kondisi yang kini di alami Sharin.
Sharin memutar tubuhnya secara perlahan. Hatinya kembali tenang saat melihat wajah Biao kini berdiri di hadapannya, “Paman tampan?” ucapnya sekali lagi untuk kembali memastikan.
“Ya. Ini aku. Aku mencarimu sejak tadi,” sambung Biao cepat.
Sharin segera memeluk tubuh Biao dengan penuh kerinduan. Detik itu ia kembali merasa aman karena pria yang ia cintai telah kembali. Sharin tidak lagi merasa takut.
“Aku sangat merindukanmu,” ucap Sharin pelan.
“Ya. Aku juga sangat merindukanmu. Ayo kita masuk ke dalam mobil.” Biao menarik tangan Sharin dan membawa wanita itu menuju ke arah mobil. Ia tidak tahu apa yang di lakukan kekasihnya di tempat itu.
Sharin masuk ke dalam mobil dan duduk dengan tenang. Air hujan menetes dari baju yang saat itu ia kenakan. Biao juga masuk ke dalam mobil. Lelaki itu mengambil jas miliknya di kursi belakang. Menutupi tubuh Sharin yang basah kuyup dengan jas itu.
Setelah melihat tubuh Sharin tertutupi, Biao melajukan mobilnya. Lelaki itu berniat untuk membawa Sharin ke apartemen yang ia tempati.
.
..
...
Thor, Biao kok bisa gak tau sih Sharin dalam bahaya...
Sabar.. penjelasan nya ada di part selanjutnya .
...
..
.
Like dan Vote ya reader...terima kasih.