
Waktu terus berlalu. Jam sudah menunjukkan hampir delapan malam.
Biao menyandarkan tubuhnya di kursi mobil. Pria itu juga merasa sangat lelah karena seharian berhadapan langsung dengan beberapa investor. Rasa rindunya kepada Sharin tidak lagi bisa tertahan. Biao ingin segera tiba di rumah agar bisa memeluk dan mencium wanita yang ia cintai.
“Jam berapa Sharin pulang ke rumah?” tanya Biao pada pengawal pribadinya.
“Nona Sharin masih ada di S.G Group, Tuan,” jawab pengawal itu takut-takut.
“Apa?” teriak Biao hingga posisinya menjadi tegak kembali, “Putar arah. Aku ingin menjemputnya sekarang. Beraninya dia tidak pulang hingga selarut ini.”
“Baik, Tuan.” Pengawal itu memutar arah mobilnya ke arah gedung S.G. Group. Sejak awal ia sangat ingin memberi tahu keberadaan Sharin. Hanya saja, Biao tidak memberinya kesempatan sama sekali.
Di S.G Group.
Sharin masih ada di dalam S.G. Group. Walau supir sudah menunggu sejak sore di parkiran, tapi tetap saja Sharin belum ingin pulang. Di tambah lagi, tidak ada yang bisa memaksanya malam ini. Biao juga belum pulang. Ada pertemuan penting lainnya di jam makan malam.
“Tubuhku sangat lelah,” ucap Sharin sambil merentangkan tangannya ke atas. Wanita itu meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku.
Matanya mulai terasa berat karena terlalu lelah. Sharin melihat jam pada layar ponselnya. Matanya melebar saat melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.
“Jam delapan!” teriaknya kaget.
Sharin segera beranjak dari duduknya. Biao sempat mengirim pesan jam delapan ia sudah tiba di rumah. Jika Sharin tidak tiba sebelum Biao pulang maka semua akan menjadi kacau. Dengan gerakan terburu-buru, Sharin membawa barang yang menurutnya penting.
“Aku harus cepat,” ucap Sharin sambil berlari kecil meninggalkan ruangan kerja itu. High heelsnya terdengar dengan begitu jelas di tengah-tengah lantai yang sunyi. Sharin memandang jendela kaca yang menampilkan langit malam yang indah sebelum masuk ke dalam lift.
“Aku harus tiba di rumah sebelum suamiku pulang,” ucapnya kebingungan.
Namun, tiba-tiba saja lampu mati secara mendadak dan terganti dengan lampu darurat. Lift yang di gunakan Sharin juga berhenti mendadak. Sharin terlihat sangat panik malam itu. Ia menekan-nekan kembali tombol lift dengan wajah panik.
“Apa yang terjadi,” ucapnya mulai bingung. Sharin memukul-mukul pintu lift sambil berteriak. Berharap ada orang yang akan menolongnya malam itu, “Tolong aku.”
Beberapa menit kemudian.
Di lantai bawah, Biao baru saja tiba di gedung S.G. Group. Pria itu mengeryitkan dahi saat melihat para teknisi sedang berkumpul di depan lift. Tidak ada rasa curiga di dalam hatinya sama sekali. Dengan wajah tenang dan cukup santai, ia berjalan mendekati teknisi dan sekuriti yang berkumpul.
“Selamat malam, Presdir Bo,” ucap semua orang secara serempak.
“Apa yang terjadi?” tanya Biao sambil melirik lift yang menguhubungkan dirinya ke lantai kerja.
“Lift mengalami masalah Presdir Bo,” jawab Security dengan wajah takut-takut.
“Saya mau ke atas,” sambung Biao dengan ekspresi dingin favoritnya.
“Anda bisa menggunakan lift yang ada di sebelah sini, Presdir Bo.” Salah satu teknisi angkat bicara, “Dua lainnya juga mengalami kerusakan.”
Biao mengangguk sebelum berjalan ke arah lift. Tapi, tiba-tiba ia teringat dengan Sharin. Lift itu menghubungkan dirinya ke ruang kerja. Lift yang di khususkan untuknya dan Sharin.
“Nona Sharin-”
“Apa kau bilang!” teriak Biao sambil mencengkram kuat kerah kemeja sang security.
“No-nona Sharin terjebak di dalam lift yang berhenti di lantai lima, Presdir Bo.”
Bruakk
Satu pukulan yang cukup kuat Biao layangkan ke wajah security tersebut, “Sharinku terjebak di dalam lift dan kau bisa bersikap setenang ini.”
Suara Biao memenuhi ruang kerja yang sunyi. Pria itu berlari cepat menuju ke lift untuk segera tiba di lantai lima. Debaran jantungnya sudah tidak karuan saat mendengar kabar Sharin yang kini dalam bahaya. Ingin sekali ia juga membunuh semua orang yang berdiri dengan tenang di depan lift tadinya.
Setelah pintu lift kembali terbuka, Biao keluar dengan tergesa-gesa lalu menatap pintu lift yang masih tertutup rapat. Pria itu mengedor-gedor pintu lift dengan wajah sangat khawatir.
“Sharin, apa kau ada di dalam, Sayang? Sharin, jawab Aku,” teriak Biao dengan napas yang tidak lagi normal.
Tidak ada jawaban sama sekali. Biao semakin di selimuti ketakutan. Segala pikiran buruk itu sudah menghantui pikirannya saat ini. Tidak ada cara lain. Biao tidak suka menunggu apa lagi yang menyangkut nyawa wanita yang ia cintai. Dengan sekuta tenaga, Biao menggeser pintu lift tersebut.
Tenaga Biao memang sangat kuat. Pintu lift itu sedikit demi sedikit mulai terbuka. Namun, lift yang terlihat hanya separuh. Hanya sekitar setengah meter yang bisa membuat Biao melihat wajah Sharin.
Hatinya lagi-lagi harus mengumpat kesal karena posisinya yang cukup sulit menyelamtkan Sharin. Terlihat jelas di dalam lift Sharin yang tidak lagi sadarkan diri.
Pengawal pribadi Biao muncul dengan beberapa teknisi lainnya. Mereka membawa alat untuk membuka bagian atas lift agar bisa masuk ke dalam lift.
“Tuan, biar mereka yang membantu anda. Saya yakin, Nona Sharin akan baik-baik saja dan bisa segera kita selamatkan,” ucap pengawal pribadi Biao. Hanya pria itu yang berani berbicara kepada Biao.
Biao terlihat cukup menyeramkan malam itu. Dengan hati yang berat ia mundur dan memberi jalan kepada petugas yang bekerja.
“Apa kau bisa melakukannya dengan cepat!” teriak Biao tidak sabar. Walau baru menunggu satu menit rasanya ia telah menunggu selama satu jam.
Bagian atas lift terbuka. Beberapa teknisi mengambil tali agar bisa masuk ke dalam lift dan menolong Sharin. Tidak dengan Biao. Pria itu mendorong bawahannya lalu melompat masuk ke dalam lift.
“Sharin,” ucap Biao dengan wajah khawatir. Pria itu segera menarik tubuh Sharin ke dalam pulakannya, “Bangun, Sayang.”
Sharin membuka mata secara perlahan. Bibirnya mengukir senyuman tipis sebelum memejamkan mata lagi. Lift tersebut kembali menyala. Bergerak turun ke bawah menuju ke lantai satu. Biao mengangkat tubuh Sharin ke dalam gendongannya. Ia ingin segera membawa Sharin ke rumah sakit untuk di periksa.
Setelah pintu lift terbuka, Biao menatap tajam wajah bawahannya, “Jangan pernah perlihatkan wajah kalian lagi di hadapanku lagi.”
Biao berjalan cepat menuju ke arah mobil. Sesekali ia kembali menatap wajah istrinya yang masih belum mau membuka mata.
Pengawal Biao yang juga ikut masuk ke dalam lift yang lainnnya juga terlihat kebingungan. Pria itu berlari kencang ke arah mobil untuk mengikuti jejak kaki Biao. Pintu mobil ia buka agar Biao tidak kesulitan masuk ke dalam mobil.
“Semoga Nona Sharin baik-baik saja,” gumam pengawal itu di dalam hati.