
Dokter Adit baru tiba di rumah sakit. Lelaki itu membawa Diva dan Angel untuk mengunjungi Biao. Kabar kalau Tuan dan Ny. Edritz telah tiba di ruangan Biao membuat Adit terlihat sangat bersemangat. Lelaki itu juga sudah meminta Sonia untuk datang ke rumah sakit hari ini. Rencana besar penyerangan Mr. Paul akan segera di rencanakan walau Biao tidak ada di antara mereka untuk melawan lelaki itu.
“Sayang, apa Nona Serena juga ikut?” Diva memandang wajah Dokter Adit dengan seksama. Sesekali wanita itu mengukir senyuman memandang wajah Angel kecilnya yang ada di gendongan Adit.
“Tidak, Sayang. Hanya ada Tuan dan Ny. Edritz. Nona Serena tidak bisa ikut karena baby kembar baru saja keluar dari rumah sakit. Mereka harus fokus menjaga kesehatan baby kembar akhir-akhir ini.” Adit menekan tombol lift. Pria itu menahan liftnya saat melihat wajah Tama muncul dengan Sharin dan Anna di sampingnya.
“Tama, kau dari mana?” ucap Adit sambil mengukir senyuman.
“Dari kantin,” jawab Tama dengan senyuman yang tidak kalah indah dari Adit, “Anna, ini Dokter Adit. Adit sahabatku sejak masa kuliah. Kami kuliah di tempat yang sama dengan jurusan yang berbeda,” ucap Tama sambil memandang wajah Anna.
Anna dan Diva saling berkenalan. Dua wanita itu terlihat akrab walau baru pertama kali bertemu. Sharin juga berkenalan dengan Diva. Wanita itu sangat suka bermain dengan Angel. Ocehan-ocehan lucu Angel di dalam lift berhasil membuat semua orang tertawa pagi itu.
“Apa Angel masih mengingat Nona Serena?” Tama menatap wajah imut Angel sambil tersenyum bahagia. Lelaki itu sudah tidak sabar menanti kelahiran anak yang kini di kandung oleh Anna.
“Sesekali ia masih menanyakan soal Nona Serena. Bahkan kami berencana dalam waktu dekat ini menemui Nona Serena agar Angel bisa berkenalan dengan Baby Al dan Baby El,” jawab Adit sambil mendaratkan satu kecupan di pipi Angel.
Pintu lift terbuka. Semua orang keluar dari dalam lift secara bergantian. Anna dan Diva telah larut dalam obrolan ringan. Sama halnya dengan Adit dan Tama bersama Angel. Sedangkan Sharin, wanita itu lebih memilih menjadi pendengar setia sambil mengikuti langkah kaki yang lainnya dari belakang.
Sorot matanya terhenti kepada beberapa perawat pria yang terlihat mencurigakan. Tiba-tiba saja wanita itu kembali ingat dengan penjahat yang sempat menyamar menjadi perawat. Ia memundurkan langkah kakinya secara tiba-tiba hingga menabrak sebuah meja yang berisi alat-alat medis. Tubuhnya terjatuh bersamaan dengan alat-alat yang berserak di lantai. Kejadian itu menimbulkan suara yang cukup berisik.
Tama dan yang lainnya menghentikan langkah kaki mereka lalu memandang Sharin dengan wajah bingung. Anna segera berlari untuk memeluk Sharin saat wajah wanita itu berubah ketakutan.
“Sharin, apa kau baik-baik saja?” ucap Anna yang sudah berjongkok untuk membantu Sharin berdiri.
“Aku ....” ucapan Sharin tertahan. Wanita itu memandang dua perawat pria yang sempat muncul di hadapannya. Namun, perawat pria itu tidak ada lagi di lorong rumah sakit saat Sharin ingin melihat wajahnya.
“Sharin, ayo berdiri,” ucap Anna sambil memegang tangan Sharin. Setelah berdiri, Anna memeluk tubuh Sharin lalu mengusap lembut punggung keponakannya, “Semua baik-baik saja. Apa kau masih trauma dengan kecelakaan itu?”
Sharin menggeleng pelan, “Aku melihat dua perawat pria yang cukup mencurigakan. Aku kembali ingat dengan Mr. Paul yang jahat. Ia pasti sudah menyiapkan satu rencana untuk mencelakai Paman Tampan lagi,” sambung Sharin dengan wajah sedih.
“Sharin, walaupun mereka ada di sekitar kita. Tapi mereka tidak akan bisa mencelakai kau dan Biao lagi. Mr. Paul harus berpikir dua kali saat ini untuk menyerang kalian. Dan soal perawat yang kau lihat.” Adit menghentikan kalimatnya. Lelaki itu memetikkan jarinya untuk memberi satu perintah.
Beberapa perawat yang sempat di lihat Sharin kembali keluar. Mereka semua menundukkan kepala di hadapan Adit dengan wajah penuh hormat.
“Apa mereka yang kau maksud?” ucap Adit dengan senyuman.
Sharin mengangguk sambil memperhatikan wajah perawat pria itu dengan seksama, “Apa Dokter Adit mengenal mereka?”
“Tentu saja aku tidak kenal. Tapi, aku tahu kalau mereka orang Sonia. Sejak tadi pagi, rumah sakit ini sudah di jaga oleh orang-orang kepercayaan Sonia. Walau orang kiriman Mr. Paul ada di rumah sakit ini juga. Kau tidak perlu takut Sharin. Mereka juag tidak akan bisa melakukan apapun kepadamu. Semua bawahan Sonia akan segera menolongmu saat ada tanda bahaya yang mendekatimu. Kecuali, kau sendiri yang kabur dari pengawasan mereka,” ucap Adit dengan satu mata berkedip.
“Apa maksud Dokter?” tanya Sharin dengan dahi mengeryit.
“Tidak ada. Aku hanya memintamu untuk tidak keluar dari rumah sakit ini sampai Biao juga keluar dari rumah sakit. Soal pekerjaan akan di atasi Tama dan Anna. Mereka sepasang suami istri yang cukup bisa di handalkan,” ucap Dokter Adit dengan penuh keyakinan.
“Aku akan tetap ada di dalam rumah sakit sampai Tuan Biao pulih dan diijinkan pulang,” jawab Sharin dengan penuh keyakinan. Tidak ada hal lain yang penting di dalam hidupnya selain nama Biao. Bahkan pekerjaan di S.G. Group yang selalu ia utamakan kini terasa tidak terlalu penting lagi.
“Baiklah. Sekarang ayo kita kunjungi Biao,” ucap Adit dengan senyuman. Pria itu memutar tubuhnya sebelum melannjutkan langkah kakinya menuju ke ruangan Biao. Diikuti dengan yang lainnya.
***
Orang suruhan Mr. Paul telah tiba di kediaman lelaki itu. Ia telah menceritakan rencana pernikahan Sharin dan Biao yang akan di laksanakan dalam waktu dekat.
“Menikah?” teriak Mr. Paul dengan wajah menakutkan. Lelaki itu mengepal kuat tangannya hingga memutih. Menggertakkan giginya karena tidak terima dengan berita yang baru saja ia dengar.
“Benar, Tuan. Mereka juga sudah menyebar pengawal bersenjata di seluruh rumah sakit. Sepertinya mereka juga akan melakukan penyerangan ke markas kita dalam waktu dekat. Sebaiknya anda segera pergi meninggalkan kota San Fransisco, Tuan. Penyeranagn itu untuk menyerang anda. Penyerangan mereka tidak akan ada artinya jika anda tidak ada.” Pengawal itu berusaha membujuk Mr. Paul. Ia tidak ingin atasannya dalam bahaya apa lagi sampai tewas.
Mr. Paul tertawa terbahak-bahak walaupun tidak ada kalimat yang lucu dari ucapan pengawalnya, “Kau benar. Mereka juga harus tahu kalau aku telah pergi meninggalkan kota San Fransisco.”
“Maksud anda, anda ingin membuat cerita seolah anda telah pergi meninggalkan kota San Fransisco tapi ternyata tidak?” ucap Pengawal itu penuh keraguan.
“Apa itu sulit?” Mr. Paul menatap tajam wajah Pengawalnya.
“Tidak, Tuan. Saya akan mengurus semuanya.” Pengawal itu membungkukkan tubuhnya.
“Aku tidak akan pergi dari kota ini tanpa Sharin di sampingku. Selidiki semua orang yang melindungi Biao hari ini.”
“Kami sudah berhasil menyelidiki pengawal-pengawal di rumah sakit, Tuan. Semua berasal dari Nona Sonia. Mereka memiliki hubungan kekerabatan yang cukup baik dengan Nona Sonia.” Pengawal itu mengeluarkan foto Sonia dan beberapa foto yang berisi wajah Tama, Aldi dan Adit.
“Sonia? Maksudmu Sonia Ananta?” Mr. Paul meraih foto-foto tersebut.
“Benar, Tuan. Mereka berempat memiliki hubugan yang cukup baik.”
“Lalu bagaimana dengan Daniel?” Mr. Paul menaikan satu alisnya.
“Tuan Daniel tidak melakukan pergerakan apapun sejauh ini,” jawab Pengawal itu penuh semangat, “Tuan, saya punya rencana terakhir yang cukup beresiko. Namun, rencana ini cukup berhasil membawa Nona Sharin keluar dari rumah sakit. Kita bisa membawa Nona Sharin saat ia pergi dengan sendirinya dari rumah sakit.” Pengawal itu mengukir senyuman.
Mr. Paul menatap wajah bawahannya dengan senyuman penuh arti, “Apapun caranya dan apapun resiko aku tidak peduli. Aku hanya ingin membawa Sharin pergi menjauh dari kota ini.”
“Baik, Tuan. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membawa Nona Sharin kepada anda.” Pengawal itu pergi meninggalkan Mr. Paul sendirian di kamarnya.
Mr. Paul mencengkram foto yang ada di genggaman tangannya, “Kau hanya memiliki pengawal bayaran. Tapi, cukup percaya diri dengan kemampuan pengawalmu, Sonia. Siapapun orangnya, jika berani menganggu rencanaku. Maka, akan menjadi musuh yang segera aku habisi dalam waktu dekat. Apa dia lupa kalau aku sudah banyak berjasa kepadanya selama ini? Aku tidak suka dikhianati apa lagi oleh seorang wanita.”