Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 93



Mobil yang ditumpangi Biao dan Sharin tiba di depan restoran bintang lima yang ada di kota San Fransisco. Sepasang suami istri itu turun dengan bergandengan tangan. Dari belakang Biao dan Sharin telah ada pengawal yang sejak tadi siap siaga.


Seorang pelayan berpakaian hitam-hitam membukakan pintu untuk memberi jalan kepada Sharin dan Biao. Tidak lupa pria itu membungkuk hormat dengan senyuman ramah.


“Sayang, aku ingin makan steak,” ucap Sharin sambil membayangkan daging yang lembut lalu di siram dengan saus yang gurih. Bahkan hanya membayangkannya saja Sharin sudah merasa sangat lapar dan tidak sabar menunggu.


“Apapun itu akan aku belikan nanti. Bahkan jika kau ingin makan semua menu yang di hidangkan di tempat ini,” jawab Biao dengan senyuman.


“Perutku tidak akan muat jika harus memakan semuanya,” protes Sharin. Wanita itu memandang ke arah pengunjung yang juga ingin makan siang di restoran tersebut.


Biao mengukir senyuman kecil saat mendengar jawaban Sharin. Lengan Sharin yang sejak tadi melingkari tangannya ia lepaskan. Biao mengganti posisi tangan itu menjadi sebuah pelukan yang melingkari pinggang ramping Sharin. Biao berjalan beriringan dengan Sharin dengan wajah berseri.


Siang itu Biao memilih tempat yang terlihat sejuk. Ada hiasan dedaunan dan air mengalir di dinding berwarna hitam. Sebuah sofa berporsi dua orang dan menghadap langsung ke sebuah kolam kecil yang di penuhi ikan-ikan kecil berwarna orange.


Sharin mengukir senyum bahagia saat melihat keindahan yang tersaji di depan matanya. Wanita itu menghirup udara segar yang tersaji. Suara percikan air membuat Sharin lupa kalau kini ia ada di sebuah gedung restoran.


Biao membawa Sharin duduk di sebuah sofa berwarna cokelat. Pria itu melepaskan genggaman tangannya di pinggang Sharin saat istrinya telah duduk dengan posisi nyaman.


Dua pengawal setia Biao berdiri di sisi kanan dan kiri sofa tersebut. Mereka tampak waspada saat menjaga sang majikan. bertekad kuat untuk melindungi Biao dan Sharin dari bahaya.


Seorang pelayan pria berjalan mendekati Biao untuk mencatat pesanan mereka. Buku menu dengan yang di isi daftar menu utama restoran tersebut telah di letakkan di atas meja. Senyum ramah dan penuh hormat menjadi ciri khas kesopanan pelayan tersebut.


“Aku mau yang ini,” ucap Sharin sambil menunjuk sebuah foto steak yang memang terlihat menggugah selera.


Biao mengukir senyuman sebelum menunjuk beberapa menu makanan dan minuman. Siang itu ia sangat bahagia karena bisa melewati makan siang yang tenang dan nyaman bersama istri tercintanya.


“Aku sangat suka tempat ini.” Sharin menjatuhkan kepalanya di atas pundak Biao. Dengan manjanya ia melingkarkan tangannya di lengan Biao, “Terima kasih.”


Biao menatap wajah Sharin sebelum mendaratkan satu kecupan singkat di pucuk kepala wanita itu, “Kita akan sering berkunjung ke tempat ini jika kau menyukainya.”


Dari kejauhan, seorang pria berjas hitam-hitam terlihat mengawasi Sharin dan Biao. Pria itu mengenakan kaca mata hitam dengan senyuman tipis di bibirnya. Dua pengawal yang menjaga Biao mulai mencurigai gerak-gerik pria tersebut.


Tanpa perhitungan dan peringatan, mereka berlari untuk menangkap pria yang menurut mereka mencurigakan itu. Suasana berubah kacau. Dengan mudahnya dua pengawal itu berhasil menangkap pria yang tidak di ketahui identitasnya itu.


Biao beranjak dari sofa yang ia duduki dengan wajah panik. Sama halnya dengan Sharin. Wanita itu bahkan bersembunyi di balik lengan Biao saat merasakan sesuatu yang menurutnya tidak nyaman lagi.


“Kami melihat pria ini sejak tadi memperhatikan anda dan Nona Sharin, Tuan,” jawab pengawal itu sambil mempererat genggamannnya.


“Kalian tidak bisa menuduhku seperti itu. Aku pria tua yang buta, kenapa kalian tega menangkapku dengan cara seperti ini.” Pria berkaca mata hitam itu protes. Ia berulang kali berusaha berontak agar bisa terlepas dari genggaman pengawal Biao.


Biao memberi kode kepada pengawalnya untuk melepas pria itu, “Bagaimana bisa pria buta seperti anda ada di tempat seperti ini sendirian.”


Pria itu mendengus kesal, “Apa hanya manusia yang bisa melihat saja bisa makan di tempat seperti ini?”


Sharin mengusap lembut lengan Biao sambil menggeleng pelan, “Dia tidak melakukan apapun kepada kita. Ayo kita lanjutkan makan siang kita.”


Biao memandang ke arah wajah Sharin sebelum memandang wajah pria itu lagi, “Maafkan atas kelalaian pengawal saya, Tuan. Sebagai ganti ruginya. Saya akan membayar makanan anda nanti.”


Pria itu tertawa kecil, “Terima kasih, Tuan. Apa dua pengawal anda ini bisa mengantar saya kembali ke kursi yang saya duduki?”


“Tentu saja,” jawab Biao cepat.


Tanpa menunggu perintah Biao lagi, dua pengawal setia Biao mengantar pria berkaca mata hitam itu kembali ke kursinya semula. Tidak ada hal yang perlu mereka khawatirkan lagi. Keadaan kembali tenang seperti semula.


Beberapa pelayan restoran dan seorang chef muncul untuk menghidangkan makan siang Sharin dan Biao. Sepasang suami istri itu memulai makan siang mereka dengan suka cita.


Tapi, tidak dengan pria yang mereka anggap buta tadi. Dari kejauhan, pria itu menunduk sambil memakan makanannya. Ada senyum tipis seperti sebuah kode kemenangan.


“Kita jumpa lagi Biao. Aku tidak akan membiarkan hidupmu bahagia seperti ini. Ada harga yang harus kau bayar untuk kesalahanmu di masa lalu.” Pria itu melanjutkan makan siangnya dengan wajah yang cukup tenang.


.


.


.


Siapakah pria berkaca mata hitam itu? Ayo kita main tebak-tebakan. Hahaha.


😂