Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 29



Biao memandang beberapa karyawannya yang baru saja selesai menata meja kerja untuk Sharin. Lelaki itu menatapnya dengan tatapan yang cukup membuat debaran jantung tidak karuan. Satu persatu sorot mata karyawan wanita dan lelaki itu ia tatap tanpa berkedip.


“Presdir Bo, semua sudah selesai,” ucap salah satu karyawan wanita.


“Pergilah,” ucap Biao. Beberapa karyawan itu segera memutar tubuh dan berjalan menuju ke arah pintu. Mereka masih menyimpan rasa curiga atas perkataan Sharin yang baru saja terucap beberapa detik yang lalu. Biao mengeryitkan dahi saat melihat tatapan bawahannya kini tertuju pada Sharin, “Satu lagi.”


Dua kata yang di ucapkan oleh Biao berhasil membuat karyawan itu menghentikan langkah kakinya. Memutar tubuh untuk menunggu perintah selanjutnya dari Biao.


“Perkataan Sharin yang baru saja kalian dengar, anggap seolah kalian tidak pernah mendengarnya. Jika kalian melakukan satu kesalahan, kalian akan tahu akibatnya,” ancam Biao dengan tatapan wajah cukup serius.


“Baik, Presdir Bo,” ucap beberapa karyawan itu secara bersamaan sebelum pergi meninggalkan ruangan Biao.


Biao mengukir senyuman saat melihat karyawan-karyawannya telah pergi. Lelaki itu menatap wajah Sharin dengan seksama, “Maafkan aku. Apa aku sudah membuatmu lelah?”


Sharin mengangkat kepalanya sebelum berjalan masuk ke dalam. Wanita itu melirik meja kerja yang ada di dalam ruangan Biao. Sekilas ia tidak terlalu peduli dengan meja kerja itu. Di tambah lagi, tujuannya ke sini ingin memarahi Biao bukan untuk membahas sebuah meja.


“Paman tampan, aku tidak lelah jika harus berulang kali berkunjung ke ruangan ini. Hanya saja, tatapan karyawan itu membuatku tidak nyaman. Mereka terlihat berubah dan seperti tidak suka melihatku saat ini.” Sharin menjatuhkan tubuhnya di kursi yang ada di depan meja kerja Biao.


“Apa kau ingin aku memecet mereka hari ini?” tanya Biao sambil mengeryitkan dahi.


“Bukan begitu maksudku. Reaksi yang mereka timbulkan itu alami. Karyawan baru sepertiku mendapat perlakuan istimewa tentu saja membuat mereka menimbulkan tanya.” Sharin menopang wajahnya dengan satu tangan, “Aku tidak ingin memikirkannya lagi. Sekarang ada apa lagi? Kenapa Paman memanggilku ke sini?”


Biao menatap wajah Sharin tanpa berkedip. Lelaki itu lagi-lagi terpesona saat memandang setiap kedipan mata yang diberikan oleh Sharin, “Aku hanya ingin mengatakan. Kalau mulai hari ini kau resmi menjadi sekretaris pribadiku,” ucap Biao dengan wajah penuh keyakinan.


“Apa?” celetuk Sharin dengan wajah kaget.


“Jangan terlalu kaget seperti itu. Aku hanya ingin membuatmu berada di sampingku selama bekerja. Dimanapun dan kapanpun.” Biao beranjak dari duduknya untuk mendekati posisi tubuh Sharin berada. Lelaki itu mengitari meja kerja miliknya dengan langkah pelan, “Jangan katakan terima kasih. Aku bahagia bisa melakukan semua ini untukmu,” sambung Biao dengan senyuman menyeringai.


Sharin menghela napas sebelum bersandar dengan wajah lesu. Ekspresi wajah wanita itu tidak lagi sama dengan apa yang di bayangkan oleh Biao. Justru ada rasa tertekan di dalam hati Sharin saat itu. Ia baru saja memikirkan cara agar tidak terlalu sering bertemu dengan Biao hingga akhirnya menimbulkan gosip. Justru detik ini lelaki itu membuat satu keputusan secara sepihak.


“Paman, dimana sekretaris Paman selama ini?” Sharin mendongak agar bisa memandang wajah Biao dengan jelas.


“Aku tidak memiliki sekretaris sebelumnya. Hanya ada beberapa karyawan khusus yang aku tugaskan untuk membantu setiap kali di butuhkan.” Biao menundukkan tubuhnya agar bisa berada semakin dekat dengan wajah Sharin, “Apa kau bahagia?”


“Aku tidak tahu harus berkata apa. Dari segi gaji tentu saja aku bahagia. Bahkan gajiku naik hingga tiga kali lipat. Tapi, bagaimana dengan gosip ini. Mereka akan semakin sering menceritakan diriku,” ucap Sharin dengan wajah lesu. Kedua bola matanya juga menatap wajah Biao dengan seksama.


“Sharin, sejak kapan kau memikirkan perkataan orang lain. Awalnya aku kira kau masa bodoh dengan apa yang mereka katakan,” ucap Biao pelan.


“Kau sudah sukses berkat bakat yang kau miliki, Sharin.” Biao mengatur napasnya lagi.


“Benarkah?” ucap Sharin dengan wajah berseri.


“Ya. Bakat merayu hatiku,” sambung Biao dengan tawa kecil.


“Paman tampan! Kenapa kau sangat menyebalkan!” teriak Sharin untuk yang kedua kalinya hingga suaranya lagi-lagi harus memenuhi seisi ruangan kerja itu. Kedua tangannya memukul pundak Biao dengan pukulan mesra.


Biao menarik pinggang Sharin saat wanita itu berdiri di hadapannya. Menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya, “Apa itu artinya kau bersedia menjadi sekretaris pribadiku?” bisik Biao di telinga Sharin saat tubuh wanita itu berada di pelukannya.


Sharin mengangguk pelan, “Tentu saja aku bersedia. Aku juga ingin selalu ada di sampingmu,” ucap Sharin dengan wajah merah merona karena malu.


Biao mengukir senyuman sebelum mempererat pelukannya. Lelaki itu kini lagi-lagi bisa bernapas lega karena wanita yang ia cintai telah ada di dalam pelukannya, “Aku sangat mencintaimu, Sharin.”


“Aku juga sangat mencintai Paman Tampan,” jawab Sharin sambil mendongakkan wajahnya agar bisa menatap wajah Biao dengan jelas, “Apa itu artinya aku bisa ikut dalam sebuah rapat?”


Biao mengangguk pelan. Kali ini lelaki itu sedikit membungkukkan kepalanya agar bisa memandang wajah Sharin yang kini telah memandangnya, “Tentu saja. Kemanapun dan dimanapun aku berada kau harus selalu ada di sampingku. Aku akan mengirim orang untuk mengajarimu.”


Biao mengangkat tangannya secara perlahan sebelum menyentuh pipi Sharin. Jemarinya mengusap lembut wajah wanita itu. Sentuhan itu turun dan berhenti di bibir Sharin yang merah dan basah.


Lagi-lagi tanpa permisi, Biao mendaratkan satu ciuman mesra di bibir kekasihnya. Hatinya cukup lega saat mendapat penyataan setuju dari Sharin atas ide cemerlang yang baru saja ia dapatkan.


Sharin sedikit berjinjit untuk bisa mengimbangi tinggi Biao saat itu. Kedua tanganya ia lingkarkan di leher jenjang lelaki itu. Matanya terpejam untuk menikmati sentuhan lembut dan penuh kasih sayang dari lelaki yang ia cintai. Kedua tangan Biao yang kini mengunci pingganganya terasa begitu hangat.


Setelah diawali dengan keributan, suasana ruangan luas itu akhirnya di huni dengan kesunyian. Tidak ada suara apapun yang terdengar selain gedup jantung Biao dan Sharin yang kini tidak karuan.


Cinta. Bukan aku yang memaksanya untuk hadir. Bahkan ketika ia hadir aku sempat mengusirnya agar segera pergi. Tapi, siapa sangka. Saat aku berbalik cinta sudah menanti di belakang tubuhku berada. Hingga akhirnya aku menyerah dan tidak bisa menolak lagi.


~Sharin


Hai Hai... Hari ini Biao's Lovers hanya up satu Bab. Jangan kecewa dunk...Author pengen istirahat juga...


Terima kasih atas pengertiannya...


Otor sayang Readers....😘😘