Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 37



Sharin tidak terlalu ingin berlama-lama. Dengan gerakan cepat ia memeriksa kembali berkas yang sejak tadi ia bawa. Setelah yakin dengan isinya, Sharin menatap wajah pria yang kini duduk di hadapannya.


“Maaf, Mr. Paul. Tapi saya ingin anda menandatangani ini untuk menjalin kerja sama dengan S.G. Group.” Sharin menyodorkan berkas yang sempat ia bawah.


Tanpa banyak kata lagi, Mr. Paul meraih dokumen itu dan menandatanganinya dengan segera. Tidak seperti pertemuan mereka semalam yang terlihat sulit dan terlalu banyak alasan.


“Setidaknya aku sudah berhasil membuatnya menyetujui perjanjian itu,” gumam Sharin di dalam hati.


“Nona Sharin, saya harap anda tidak lupa dengan syarat yang sebelumnya saya ajukan.” Mr. Paul beranjak dari kursi yang ia duduki. Lelaki itu berjalan untuk mendekati posisi Sharin berada.


“Syarat?” ucap Sharin yang tiba-tiba saja tidak lagi ingat dengan janjinya untuk makan siang.


“Anda lupa atau sengaja melupakannya?” tanya Mr. Paul dengan senyuman. Sorot matanya cukup tajam saat itu. Matanya sangat sulit untuk berkedip saat menatap wajah Sharin yang kini cukup dekat dengannya.


“Soal makan siang?” tanya Sharin kembali memastikan.


Mr. Paul mengangguk pelan, “Saya sudah menyiapkan semuanya. Mari kita mulai makan siang kita.”


Sharin memandang wajah Mr. Paul sekilas. Memang lelaki itu cukup menyeramkan tetapi dari segi kesopanannya, tidak ada yang membuat Sharin curiga sama sekali. Wanita itu beranjak dari duduknya untuk mengikuti langkah Mr. Paul dari belakang.


Mr. Paul membukakan pintu untuk memberi jalan kepada Sharin. Lelaki itu berjalan lurus menuju ke arah meja makan, “Kenapa aku tidak menyentuhnya saja di ruangan tadi. Bukankah itu rencanaku sejak awal? Sial! Kenapa aku menjadi lemah dan penuh perasaan seperti ini,” umpat Mr. Paul di dalam hati.


Sharin hanya diam sambil terus mengikuti langkah Mr. Paul dari belakang. Sesekali ia melirik rumah besar dan mewah yang kini ia kunjungi. Ini kedua kalinya ia berada di rumah konglemerat yang memiliki rumah seluas mall. Rumah pertama yang sempat ia masuki adalah rumah utama Edritz Chen.


“Silahkan,” ucap Mr. Paul saat mereka sudah tiba di meja makan.


Sharin mengangguk pelan dengan senyuman kecil. Beberapa berkas dan tas yang ada di tangannya ia letakkan di kursi yang ada di sampingnya duduk.


Sharin memandang menu-menu lezat yang kini tersaji di depan matanya. Wanita itu memang tidak terlalu rakus dengan makanan. Bahkan ia cukup ahli saat menahan perutnya yang lapar. Makan siang kali ini justru membuat nafsu makannya hilang. Walau ada aneka menu yang menggoda, tapi tetap saja Sharin tidak nyaman untuk melakukannya.


“Mungkin di jam makan siang ini kita bisa bersikap seperti manusia normal pada umumnya,” ucap Mr. Paul pelan.


Sharin mengeryitkan dahi saat mendengar perkataan Mr. Paul. Baginya hidupnya sudah sama seperti manusia normal lainnya. Bahkan terlalu normal hingga ia takut untuk bermimpi menjadi orang kaya.


“Anda wanita yang cukup berbakat, Nona Sharin. Apa anda tidak mau pindah kerja di perusahaan saya? Saya akan memberi anda gaji tiga kali lipat dari apa yang anda dapatkan di S.G. Group.” Mr. Paul mulai mengambil menu makan siangnya. Bibirnya berbicara tanpa mau memandang rekan bicaranya.


“Maaf, Mr. Paul. Saya tidak bisa pindah kerja ke tempat lain. Saya sudah cukup nyaman dengan perusahaan yang kini saya tempati.” Sharin juga mengambil menu makan siangnya. Bagi Sharin, segera makan maka akan segera pulang.


“Sayang sekali,” sambung Mr. Paul sebelum melakukan aktifitas makan siangnya. Lelaki itu makan dengan begitu elegan dan cukup mempesona.


Setelah beberapa menit menikmati makan siang. Kini Sharin dan Mr. Paul sudah menyelesaikan makan siang mereka. Beberapa pelayan muncul untuk membersihkan meja makan dari menu yang sempat memenuhi meja.


Sharin melirik jam yang ada di pergelangan tangannya, “Maaf, Mr. Paul. Saya harus segera kembali ke S.G. Group untuk bekerja. Terima kasih atas kerja sama yang sudah anda setujui dan makan siang hari ini.” Sharin beranjak dari duduknya.


“Tunggu,” ucap Mr. Paul tiba-tiba. Lelaki itu berdiri di hadapan Sharin dengan wajah yang cukup serius, “Jadilah kekasihku,” sambungnya tanpa beban. Sorot matanya yang tajam seolah memenuhi pandangan mata Sharin siang itu.


Sharin terlihat cukup kaget dengan kalimat yang baru saja ia dengar.


“Aku akan memberi apapun yang kau inginkan jika kau mau menjadi wanitaku.” Mr. Paul terlihat cukup percaya diri dengan apa yang ia tawarkan kepada Sharin siang itu.


“Termasuk gedung S.G. Group?” ucap Sharin dengan wajah serius.


Mr. Paul tertawa kecil. Ia tidak pernah menyangka kalau Sharin akan mengajukan permintaan yang cukup fantastis siang itu. Lelaki itu memajukan tubuhnya agar bisa menatap wajah Sharin dengan seksama, “Apapun itu asal kau mau menjadi wanitaku,” bisik Mr. Paul dengan tatapan mesum ciri khasnya.


Sharin mengatur napasnya yang tiba-tiba saja sesak. Detik itu ia percaya dengan semua perkataan Biao. Kalau pria yang kini ada di hadapannya adalah pria yang cukup berbahaya dan wajib untuk dihindari.


“Sangat di sayangkan, Mr. Paul. Anda rela menghambur-hamburkan uang hanya untuk bersenang-senang dengan seorang wanita. Satu hal yang harus anda ketahui, tidak semua wanita bisa di beli dengan harta. Ada sebagian wanita yang hanya bisa dibeli dengan cinta dan kasih sayang.” Sharin memutar tubuhnya untuk mengambil dokumen dan tas miliknya, “Sudah cukup pertemuan kita siang ini. Saya tidak ingin terlalu lama berada di dekat anda. Sepertinya ini akan menjadi pertemuan terakhir kita. Karena mulai detik ini saya tidak lagi mau bertemu denga pria seperti anda.”


Mr. Paul mengepal kuat tangannya hingga memutih. Giginya saling beradu saat mendengar penolakan yang di ucapkan oleh Sharin.


“Beraninya, kau menolakku!” teriak Mr. Paul hingga memenuhi isi ruangan itu. Dengan kasar ia menarik tangan Sharin. Mendorong tubuh Sharin hingga wanita itu bersandar di dinding.


“Kau harus jadi wanitaku. Menemaniku di tempat tidur. Aku akan membayarmu dengan bayaran mahal. Memberikanmu uang, apartemen mewah, mobil dan apapun itu yang kau inginkan,” ucap Mr. Paul dengan wajah penuh semangat. Bahkan lelaki itu tidak lagi peduli dengan wajah menahan amarah Sharin detik itu.


Sharin hanya diam dengan hembusan napas yang terputus-putus. Tatapan matanya benar-benar di penuhi dengan kebencian.


“Kenapa kau diam saja? Apa ada yang kurang? Bahkan jika kau benar-benar menginginkan gedung S.G. Group, aku bisa membeli satu cabangnya dengan namamu.” Mr. Paul sudah gelap mata. Baginya uang tidak ada artinya lagi. Hanya Sharin yang membuatnya tertarik saat ini.


Plaakkk!


Satu tamparan di daratkan Sharin di pipi lelaki yang ada di hadapannya. Wajahnya memerah karena di penuhi dengan emosi.


“Beraninya anda mengatakan hal itu kepada saya!” ucap Sharin dengan suara berat yang dipenuhi sesak.


Seperti biasa. Bab selanjutnya jam 12 siang. Terima kasih....