Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 60



Matahari kembali muncul di permukaan. Keadaan Biao pagi itu sudah jauh lebih membaik. Sama halnya dengan Sharin dan Tama. Kini mereka tidak lagi berstatus sebagai pasien rumah sakit. Hanya kondisi Biao yang masih belum pulih total. Dokter Adit meminta Biao untuk tinggal selama lima hari ke depan di rumah sakit. Walau awalnya Biao menolak, tapi berkat bujukan Sharin ia mau menyetujui perintah Adit.


Tuan dan Ny. Edritz juga sudah tiba di San Fransisco. Sepasang suami istri itu tidak sendirian, ada Anna yang ikut bersama dengan mereka pagi itu. Kini mereka telah ada di dalam ruangan Biao. Ny. Edritz duduk di tepian tempat tidur Biao dengan wajah sedihnya. Sejak dulu ia memang sudah menganggap Biao sebagai anak kandungnya sendiri.


Kecelakaan ini merupakan pertama kalinya yang di alami Biao. Sejak tinggal di rumah utama, Biao belum pernah masuk rumah sakit apa lagi sampai mengalami masa kritis di ruang operasi.


Tetes demi tetes air mata tidak lagi bisa terhenti. Sudah berulang kali Biao membujuk Nyonya Edritz agar tidak lagi bersedih. Tapi, wanita itu belum juga memperlihatkan tanda-tanda akan mengakhiri tangisannya.


“Apa saja yang kau kerjakan? Aku memintamu untuk menjaganya seperti kau menjaga hidupku dulu. Sekarang Biao justru masuk ke dalam rumah sakit seperti ini,” protes Ny. Edritz kepada Pengawal yang selama ini ada di samping Biao. Lelaki itu adalah orang kepercayaan Ny. Edritz sejak dulu. Setiap pertolongan yang di berikan kepada Daniel dan Serena dulunya juga tidak luput dari campur tangan lelaki itu.


Saat Biao memutuskan untuk menetap di San Fransisco, Ny. Edritz meminta tangan kanannya itu untuk menjaga Biao. Baginya, kehidupannya yang sekarang tidak lagi membutuhkan bantuan Pengawal itu. Menantu dan anak lelakinya telah ahli dalam ilmu bela diri.


“Maafkan saya, Nyonya.” Pengawal itu membungkuk dengan penuh rasa bersalah.


Biao angkat bicara. Lelaki itu tidak tega meliat bawahannya di tindas oleh Ny. Edritz, “Maaf, Nyonya. Ini semua murni kesalahan sa-”


“Berhenti untuk membelanya Biao. Saya akan memecatnya detik ini juga,” sambung Ny. Edritz dengan wajah di penuhi amarah.


Tuan Edritz, Tama, Anna dan Sharin yang kini duduk di sofa hanya bisa menjadi pendengar setia. Tidak ada yang bisa mereka lakukan dan mereka ucapkan. Di ruangan itu, Ny. Edritz yang memiliki posisi tertinggi. Tidak ada satu orangpun yang bisa membantah perkataannya termasuk Tuan Edritz Chen sendiri.


“Nyonya, maafkan saya. Beri saya kesempatan satu kali lagi.” Pengawal itu berlutut di bawah kaki Ny. Edritz.


Wajahnya dipenuhi dengan rasa bersalah yang amat besar. Sudah berpuluh-puluh tahun ia ada di samping Ny. Edritz secara tersembunyi. Belum pernah sekalipun wanita paruh itu kecewa padanya. Detik ini kalimat yang diucapkan Ny. Edritz memang cukup membuatnya takut. Pengawal itu sudah berjanji untuk mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk Ny. Edritz.


“Baiklah. Hanya satu kesempatan terakhir. Aku masih memandang jasamu selama ini.” Ny. Edritz membuang tatapannya ke arah Biao, “Beri tahu saya informasi lengkap tentang kecelakaan yang di alami Biao. Saya ingin lihat wajah orang yang sudah berani mengusik hidup keluarga saya kali ini.”


Pengawal itu berdiri tegab. Sudah cukup lengkap informasi yang ia dapatkan. Permintaan Ny. Edritz pagi itu tidak menyulitkannya sama sekali. Semua informasi yang ingin di dengar oleh Ny. Edrizt telah terekam rapi di dalam ingatannya.


“Mr. Paul, Nyonya. Lelaki itu adalah rekan bisnis Tuan Daniel. Sudah hampir lima tahun S.G. Group menjalin kerja sama dengan perusahaan yang di pimpin oleh Mr. Paul. Bahkan kerja sama ini juga sudah banyak menguntungkan bagi S.G. Group. Setahun terakhir ini, S.G Group cabang San Fransisco mengalami keuntungan hingga-”


“Saya tidak ingin mendengar hal seperti itu. Apa kau pikir saya sedang bernegosiasi dalam bisnis?” protes Ny. Edritz dengan napas tertahan.


“Maafkan saya, Nyonya,” ucap Pengawal itu sebelum menundukkan kepalanya.


“Saya hanya ingin tahu. Kenapa dia ingin mencelakai Biao!” tegas Ny. Edritz dengan tatapan yang cukup menyeramkan. Wanita itu memegang kepalanya yang tiba-tiba saja terasa sakit.


“Ma, jangan terlalu memaksakan diri seperti itu,” ucap Tuan Edritz dengan wajah khawatir.


“Pa, sebaiknya Papa duduk di situ dan jangan ganggu Mama,” ucap Ny. Edritz sebelum memandang wajah Pengawal itu untuk menagih satu penjelasan.


“Nyonya, maafkan saya. Ini semua salah saya. Anda tidak perlu menyalahkan Pengawal yang selalu menemani saya,” ucap Biao dengan nada yang cukup lembut.


“Katakan, apa yang sebenarnya terjadi?” ucap Ny. Edritz sambil memandang wajah Pengawal itu. Wanita paruh baya itu tidak terlalu peduli dengan bujukan yang di ucapkan oleh Biao.


“Mr. Paul menginginkan Nona Sharin, Nyonya.” Pengawal itu menunduk dalam dengan perasaan yang dipenuhi rasa bersalah karena telah melanggar perintah Biao.


“Sharin?” celetuk Ny. Edritz kaget. Wanita itu memandang wajah Sharin yang duduk di samping Anna, “Maksudmu, keponakan Tama?”


“Benar, Nyonya.” Pengawal itu mengangguk pelan.


Ny. Edritz mengeryitkan dahi. Wanita itu memandang wajah Sharin dengan seksama. Ada sejuta pertanyaan di balik tatapan matanya yang tajam. Sharin menunduk saat Ny. Edritz memandang dirinya tanpa berkedip. Debaran jantungnya tidak lagi normal detik itu. Sharin tidak percaya diri dengan keadaannya saat ini. Ia hanya wanita biasa yang mungkin tidak akan pernah bisa bersanding dengan orang selevel Biao.


“Nyonya, Sharin adalah wanita yang saya cintai. Semua ini karena masalah hubungan saya dengan Sharin. Mr. Paul juga tertarik dengan Sharin. Ia berniat untuk menyingkirkan saya agar bisa mendapatkan Sharin.” Biao berusaha membantu Pengawal yang kini dalam kesulitan. Lelaki itu juga tidak ingin berdiam diri dan menyaksikan orang yang selalu membantunya berada dalam posisi yang sulit.


“Biao, kau sudah bisa merasakan jatuh cinta?” ucap Ny. Edritz dengan mata berkaca-kaca.


Biao mengukir senyuman sambil mengangguk pelan, “Benar Nyonya. Sharin yang membuat saya bisa merasakan perasaan itu. Saya tidak ingin ada yang menyentuhnya. Maafkan saya karena sudah membuat S.G. Group dalam kesulitan,” ucap Biao dengan hati yang cukup tulus.


Ny. Edritz menggeleng pelan. Wanita itu masih tidak percaya saat mendengar lelaki yang tidak memiliki perasaan seperti Biao akhirnya bisa jatuh cinta, “Tidak, Biao. Kau tidak salah.”


Ny. Edritz memandang wajah Tama dan Ny. Edritz secara bergantian, “Lalu, apa kalian masih mempertahankan rekan bisnis yang seperti itu? Kita tidak butuh oranag seperti itu. Perusahaan kita sudah cukup besar dan kuat saat ini. Hanya kekuatan lelaki seperti Mr. Paul tidak akan pernah bisa menandingi kekuatan S.G. Group yang kita punya.”


“Ma, masalah ini tidak semudah yang Mama pikirkan. Kita juga membutuhkan persetujuan Daniel dalam hal ini. Bukankah Mama sendiri yang bilang. Kita tidak boleh ikut campur dalam urusan perusahaan yang di kelola Daniel. Jika kita mengambil keputusan secara sepihak seperti sekarang, Papa takut Daniel akan kecewa sama kita.


Papa yakin, Daniel juga sudah memikirkan cara terbaik untuk mengatasi masalah ini,” ucap Tuan Edritz dengan penuh kesabaran.


“Apa yang di katakan oleh Tuan Edritz benar, Nyonya. Tuan Daniel mengirim saya ke San Fransisco untuk mengorek informasi yang Tuan Daniel butuhkan. Setelah semua hal yang di minta Tuan Daniel berhasil saya dapatkan, Tuan Daniel akan mengambil keputusan untuk mengatasi masalah ini.” Tama menatap wajah Ny. Edritz dengan penuh keyakinan. Lelaki itu juga setuju dengan apa yang di katakan oleh Tuan Edritz. Mereka tidak bisa mengambil keputusan secara sepihak yang akhirnya membuat Daniel merasa tidak di hargai.


“Baiklah. Kalau begitu. Saya akan menunggu kalian menyelesaikan masalah ini.” Ny. Edritz memandang wajah Pengawalnya lagi, “Perkuat pertahanan di San Fransisco. Saya tidak ingin hal seperti ini terlulang kembali.”


“Baik, Nyonya.” Pengawal itu membungkuk hormat untuk menerima perintah Ny. Edritz.


Semua orang kembali bernapas lega saat Ny. Edritz sudah bisa kembali tenang. Kini ruangan itu kembali sunyi saat semua orang kembali membisu. Sharin melirik wajah Biao sebelum menunduk lagi. Wanita itu masih bingung dengan sikap Ny. Edritz yang terlihat sangat khawatir. Bahkan rasa khawatir yang di tunjukan oleh Ny. Edritz sama seperti ia melihat anak kandungnya yang berada dalam kesulitan.


“Ini pertama kalinya aku melihat seorang majikan mengkhawatirkan pengawal putranya hingga seperti ini,” gumam Sharin di dalam hati.


Bab selanjutnya akan up jam 12 siang. terima kasih. vote, like dan komen