Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 21



Sharin dan Biao baru saja menyelesaikan sarapan pagi. Mereka berdua berdiri dan berjalan menuju ke arah pintu secara bersamaan. Biao memandang wajah Sharin dengan wajah gugup. Pria itu memang selalu merasa seperti itu saat berada di dekat Sharin.


“Presdir Bo. Saya mau ke apartemen dulu sebelum berangkat ke S.G. Group. Terima kasih karena anda sudah menolong saya tadi malam,” ucap Sharin dengan senyuman kecil.


“Ya. Sama-sama.” Biao membukakan pintu. Sharin keluar dari ruangan apartemen. Wanita itu berjalan lebih dulu. Ia tidak ingin terlalu lama berada di dekat pria berstatus atasannya itu.


Biao menutup pintu ruangan apartemen. Pria itu berdiri di depan pintu sambil memandang punggung Sharin yang hampir menjauh.


“Sharin,” teriak Biao.


Sharin menghentikan langkah kakinya secepat mungkin. Wanita itu memutar tubuhnya untuk memandang wajah pria yang memanggilnya.


“Ya. Ada apa, Presdir Bo?” tanyanya sambil mengeryitkan dahi.


“Biar aku yang mengantarmu ke apartemen. Kau akan terlambat jika pergi menggunakan taksi. Kita juga bisa pergi ke S.G. Group bersama-sama.” Biao menatap wajah Sharin dengan seksama. Tatapan tajamnya berhasil membuat Sharin terlihat gugup dan salah tingkah.


“Itu akan sangat merepotkan,” ucap Sharin dengan suara yang dipenuhi keraguan. Ia tidak ingin pagi ini namanya menjadi bahan ceritaan seluruh penghuni S.G. Group di tempatnya bekerja. Bagaimanapun juga, jabatannya tidak terlalu tinggi. Bagaimana mungkin ia bisa pergi bekerja dengan mobil yang sama dengan pimpinan tertinggi.


“Tentu tidak.” Biao berjalan lebih dulu menuju lift. Bibirnya mengukir senyuman bahagia.


“Kau tidak akan pernah bisa menolakku lagi Sharin. Cukup sekali. Untuk seterusnya aku ingin kau selalu mengatakan kata ya,” gumam Biao di dalam hati.


Sharin berdiri dengan wajah lesu, “Apa yang akan terjadi selanjutnya. Kenapa keadaannya semakin rumit seperti ini.”


Melihat tidak punya pilihan lain, Sharin mengikuti jejak kaki Biao dari belakang. Mereka berdua masuk ke dalam lift secara bersamaan. Biao menekan tombol yang membawanya menuju ke lokasi parkir. Satu tangannya ada di dalam saku dengan tatapan lurus ke depan.


Sharin menunduk sambil terus memikirkan cara agar bisa menjauh dari pria itu, “Apa yang harus aku katakan,” gumam Sharin di dalam hati.


Pintu lift terbuka. Biao dan Sharin keluar dari lift secara bersamaan. Mereka berdua berjalan menuju ke arah mobil Biao yang terparkir. Pagi itu Biao ingin menyetir sendiri mobilnya.


“Masuklah,” perintah Biao. Pria itu berdiri di samping mobil sebelum membuka pintu untuk memudahkan Sharin masuk ke dalamnya.


Sharin menghela napas sebelum masuk ke dalam mobil. Wanita itu memasang sabuk pengaman sebelum memandang Biao yang berjalan mengitari mobil. Biao duduk dengan posisi nyaman dan wajah yang cukup tenang. Bahkan saat melajukan mobilnya juga ekspresi wajahnya terlihat sangat menenangkan.


Sharin melirik Biao lagi saat pria itu hanya fokus ke jalanan depan, “Bagaimana ini?” gumam Sharin di dalam hati.


“Sharin, apa kau tidak ingin pindah apartemen? Kau bisa tinggal di apartemen milik perusahaan,” ucap Biao dengan tatapan masih fokus pada jalanan depan.


“Tidak, Presdir Bo. Terima kasih. Saya sudah cukup nyaman tinggal di apartemen itu. Selain tetangganya ramah saya juga bisa tiba tepat waktu saat masuk kerja.”


Biao mengunci mulutnya. Wanita yang kini ada di sampingnya bukan tipe wanita penggila harta. Ia tidak ingin Sharin salah sangka terhadap dirinya hingga nanti membuat wanita itu menjauh.


“Presdir Bo. Sebaiknya saya turun di sini saja. Anda akan terlambat jika mengantar saya hingga ke apartemen,” ucap Sharin dengan wajah ragu-ragu.


Biao melirik ke arah Sharin dengan tatapan tidak suka. Belum sempat pria itu mengeluarkan kata Sharin lebih dulu melanjutkannya kalimatnya.


“Anda bosnya bukan? Tidak akan ada yang memarahi anda jika terlambat,” sambung Sharin dengan senyum menyeringai.


Biao mengangkat satu alisnya sebelu menambah laju mobilnya. Jarak apartemen Sharin memang tidak terlalu jauh dari S.G. Group. Justru jarak antara apartemen Sharin dan Biao yang memiliki jarak cukup jauh. Perlu memakan waktu sekitar 30 menit untuk tiba di apartemen milik Sharin.


“Kenapa rasanya sangat menakutkan,” ucap Sharin di dalam hati. Suasana mobil itu memang terasa cukup mengerikan. Biao fokus pada jalanan depan dengan tatapan yang tida terbaca. “Terkadang ia berubah serius dan terkadang ia mudah tertawa. Kenapa sangat sulit untuk mengenal karakter yang ia miliki.”


Beberapa menit kemudian.


“Hmm, Presdir Bo. Anda ingin menunggu di sini atau ....”


“Aku ingin melihat tempat yang kau tempati,” potong Biao cepat.


“Baiklah kalau begitu,” jawab Sharin dengan wajah semakin tidak bersemangat.


“Kenapa orang penting seperti dia harus mau repot-repot masuk ke dalam apartemen kecil seperti ini,” gumam Sharin di dalam hati.


Sharin dan Biao turun secara bersamaan dari dalam mobil. Biao memperhatian keadaan sekitar dengan seksama. Jika diperhatikan dari jarak dekat, tidak ada yang mencurigakan dari apartemen itu. Hanya tempatnya saja yang tidak terlalu terawat.


“Mari, Presdir Bo.” Sharin berjalan lebih dulu menuju ke arah tangga. Wanita itu terus saja mengumpat kesal karena saat ini atasannya masih ada di belakangnya. Bahkan sangat ingin tahu kamar yang ia tempati.


Di tengah tangga Sharin berpapasan dengan Amelia. Wanita itu terlihat bersiap-siap untuk berangkat kerja. Tatapan matanya terlihat menyelidik saat melihat Sharin bersama dengan Biao di tangga itu.


“Sharin, kau darimana saja? Aku sangat mengkhawatirkanmu.” Amelie menatap tajam wajah Biao, “Aku ingin memberikan ini padamu.” Amelia mengeluarkan sebuah flashdick. Memberikan benda berisi rekaman itu kepada Sharin.


“Aku harap kau bisa secepatnya untuk melihat isi di dalamnya. Sebelum seseorang berusaha menghapusnya lagi.” Amelia menepuk pundak Sharin sebelum berjalan pergi menuruni anak tangga.


“Apa yang dia maksud? Rekaman apa ini?” Sharin memegang flashdisk itu dengan wajah penuh tanya.


“Apa itu?” tanya Biao dengan dahi mengeryit.


Sharin menggeleng pelan, “Saya juga tidak tahu, Presdir Bo.” Sharin memasukkan flashdisk itu ke dalam tasnya. Hatinya sudah dipenuhi dengan rasa penasaran yang sangat besar akan isi di dalamnya.


Tiba-tiba ponsel Biao berdering. Lelaki itu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Satu alisnya terangkat saat melihat nama Walker yang tertera di layar ponselnya.


“Sharin, kau duluan saja. Aku akan menunggumu di parkiran,” ucap Biao sebelum mengangkat panggilan masuknya dan melekatkan ponselnya di telinga.


Biao memutar tubuhnya lalu menuruni anak tangga. Lelaki itu melihat punggung Sharin sekilas sebelum mengeluarkan suara.


“Ada apa? Kenapa kau menggangguku?” umpat Biao dengan wajah kesal.


“Amelia. Aku tidak tahu kalau tadi malam dia meretas data S.G. Group. Sekarang dia sudah tahu kalau kau adalah Biao. Aku sudah berusaha mengendalikannya tetapi belum juga berhasil. Dia menggunakan virus untuk merusak sistem yang aku punya,” teriak Walker dengan suara yang sangat panik.


Biao mematung dengan wajah tiba-tiba pucat. Ia kembali ingat dengan flashdisk yang diberikan oleh Amelia beberapa menit yang lalu. Pria itu tidak lagi mau melanjutkan obrolannya dengan Walker. Biao memutuskan panggilan teleponnya sebelum memasukkan ponselnya ke dalam saku. Dengan gerakan cepat ia berlari menuju anak tangga. Ia ingin merebut paksa flashdisk itu dari Sharin sebelum terlambat.


.


.


.


Apakah Babang Biao ketahuan?. Akan segera up bab selanjutnya. Sabar...mata author agak2 ngantuk soalnya. jadi agak lama🤣


.


.


**Vote di Novel Moving On ya readers... Sama aja bentuk dukungan buat author juga kok. Satu Bab lagi akan segera meluncur...terima kasih😘😘


oiya, like yg penting ya😂**