
Hari-hari indah menjadi semakin indah. Rumah tangga Biao dan Sharin dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang. Hubungan mereka semakin harmonis. Sifat Sharin yang manja dan lucu selalu bisa membuat Biao melupakan beban kerjanya.
Hari ini adalah hari terakhir bagi Sharin untuk menyelesaikan proyek yang ia tangani. Wajahnya terlihat berseri. Ia berharap kalau proyek ini bisa di terima semua orang. Bukan main-main upah yang akan ia terima. Bahkan Daniel sendiri yang memberi upah saham sebesar 50 persen untuk siapa saja yang berhasil.
Sharin kini berada di depan meja kerjanya yang lama. Ada beberapa data yang ia cari. Wajahnya cukup serius saat memeriksa isi laci meja kerjanya tersebut.
“Sharin, apa yang kau lakukan di sini?”
Seorang wanita muda berparas cantik berdiri di samping Sharin. Wanita itu memperhatikan Sharin dengan seksama. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Ia terlihat sangat benci dengan Sharin.
“Saya sedang mencari berkas yang tertinggal di meja kerja saya,” jawab Sharin sambil terus memperhatikan beberapa berkas penting yang ingin ia ambil.
Sejak Sharin meninggalkan meja kerjanya, belum ada karyawan baru yang menempatinya. Biao ingin semua barang-barang yang pernah di pakai Sharin tetap ada di situ tanpa di sentuh oleh siapapun.
“Bukankah kau sudah bekerja di ruangan Presdir Bo, untuk apa datang kemari lagi.” Wanita itu duduk di atas meja sambil melipat kakinya. Ia sengaja meletakkan kakinya hingga melayang walau ia tahu ada Sharin yang sedang berjongkok.
Sharin merasa tidak suka melihat tingkah laku wanita itu. Ia mendongak untuk melihat wajah wanita itu sebelum berdiri.
“Anda tidak sopan. Apa anda bisa menyingkir dulu. Saya harus mencari beberapa berkas yang penting,” protes Sharin.
“Apa karena anda sekretaris Presdir Bo maka saya harus menuruti perintah anda?” jawab Wanita itu dengan wajah menantang.
Sharin menghela napas. Ia tidak ingin berdebat dengan wanita itu. Dengan sikapnya yang mengalah, Sharin kembali berjongkok dan mencari berkas yang ia butuhkan.
Tapi kelihatannya wanita yang ada di hadapan Sharin tidak ingin menyerah. Wanita itu justru berusaha mencari gara-gara lagi. Berkas yang tertumpuk di atas meja sengaja ia jatuhkan hingga menimpahi kepala Sharin.
“Au,” celetuk Sharin saat merasakan kepalanya sakit terkena tumpukan dokumen.
“Hufs, maaf.” Wanita itu berdiri dan menutup mulutnya dengan telapak tangan. Ada senyum menghina saat ia berhasil membuat Sharin kesakitan.
“Siapa nama anda,” bentak Sharin tidak suka. Wanita itu telah kehabisan kesabarannya. Ia mengepal kuat kedua tangannya sambil menatap wajah wanita itu dengan tatapan menantang.
“Aku yang paling lama kerja di sini dan di hormati semua orang. Kau wanita yang sombong, Sharin. Bisa-bisanya kau tidak kenal siapa aku.” Sorot mata wanita itu semakin tajam, “Kau ingin tahu namaku. Setelah itu kau akan melaporkan perbuatanku kepada Presdir Bo agar aku di pecat. Begitu?”
Sharin melipat kedua tangannya, “Ya. Wanita tidak sopan seperti dirimu tidak pantas bekerja di S.G. Group.”
Wanita itu mengangkat tangannya lalu siap melayangkannya ke wajah Sharin. Namun, gerakannya terhenti saat Edo muncul dan mencengkram kuat tangan wanita itu.
“Apa yang anda lakukan? Apa anda sudah bosan bekerja di S.G. Group?” ucap Edo sambil menghempaskan tangan wanita itu.
“Kau membela wanita murahan ini? Semua orang tahu, kalau Sharin menjual dirinya hanya untuk jabatannya yang sekarang. Aku cukup yakin, kalau proyek yang ia tangani juga ada campur tangan Presdir Bo,” ucap Wanita itu dengan nada meninggi.
“Aku tidak percaya,” jawab Wanita itu sambil membuang tatapannnya.
“Aku tidak butuh rasa percayamu,” sambung Sharin. Wanita itu tidak lagi bersemangat untuk mencari berkas yang ia butuhkan. Ia hanya ingin segera kembali ke ruangan kerjanya untuk bertemu dengan Biao.
“Tunggu.” Wanita itu mencengkram kuat pergelangan tangan Sharin, “Sebaiknya kau segera mengundurkan diri dari perusahaan ini. Kami tidak lagi suka denganmu. Kau yang paling muda di perusahan ini. Tapi, kau yang paling sombong dan angkuh di antara jajaran karyawan baru yang ada.”
Sharin menghempaskan tangan wanita itu, “Jika saya tidak ingin mengundurkan diri, apa yang bisa anda lakukan? Bukankah anda sendiri tahu, kalau saya bisa saja merayu Presdir Bo untuk memecat anda.”
Edo menunduk sambil menahan tawa. Perlawanan Sharin siang itu membuatnya ingin tertawa geli.
“Wanita murahan. Beraninya kau membantah perkataanku.” Wanita itu terlihat semakin kesal. Ia cukup sakit hati mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Sharin siang itu.
Biao muncul di lantai itu. Ada seorang pengawal pribadi yang menemaninya di belakang. Wanita licik itu melihat kemunculan Biao. Sedangkan Sharin dan Edo tidak melihat karena posisinya membelakangi Biao.
Dengan wajah sedih, wanita itu menjatuhkan tubuhnya seolah Sharin telah mendorongnya. Satu tangannya memegangi kaki untuk akting, agar kakinya terlihat sedang kesakitan.
Sharin dan Edo sama-sama terlihat bingung. Mereka berdua tidak tahu tujuan wanita itu akting seperti itu. Hingga tiba-tiba suara Biao terdengar.
“Ada apa ini?” ucapnya sambil memasukkan kedua tangannya di dalam saku. Matanya memandang wajah Sharin sebelum menatap wajah wanita yang terjatuh, “Apa yang kau lakukan di situ?”
“Presdir Bo, Nona Sharin mendorong saya hingga terjatuh. Padahal tadinya saya ingin membantunya. Tapi, ia bilang tidak butuh bantuan saya dan mendorong saya hingga terjatuh.” Wanita itu meneteskan air mata seolah kakinya benar-benar sakit.
Sharin dan Edo terperanjat kaget. Mereka tidak menyangka kalau wanita itu bisa akting hingga seperti itu.
“Jika anda tidak percaya anda bisa tanya pada semua orang yang ada di lantai ini,” sambung wanita itu sambil memberi kode kepada semua karyawan yang ada.
“Benar Presdir Bo. Nona Sharin telah melakukannya,” ucap mereka secara bersamaan.
Wanita itu mengukir senyuman kemenangan. Sudah cukup lama ia ingin menjebak Sharin agar bisa menjatuhkan Sharin. Ia cukup cemburu dan tidak suka atas posisi yang dimiliki Sharin saat ini.
“Beraninya kau memfitnah Sharin. Dan kalian, kenapa kalian juga ikut-ikutan?” protes Edo dengan wajah tidak suka.
“Siapa yang menyuruhmu berbicara?” ucap Biao kepada Edo. Kalimat yang diucapkan Biao membuat Sharin mengeryitkan dahi. Sedangkan Edo lebih memilih menunduk dengan wajah bersalah.
“Maafkan saya, Presdir Bo. Tapi,memang benar Nona Sharin tidak bersalah.”
“Apa anda mempercayai perkataan wanita ini, Presdir Bo?” tanya Sharin dengan wajah yang cukup serius.
“Apa ada alasan lain yang membuatku tidak percaya? Bukankah semua orang melihat kejadiannya? Itu berarti dia tidak bohong,” jawab Biao dengan wajah yang cukup santai.