Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 65



Hanya terdengar canda tawa dari suara Sharin dan Biao. Hingga beberapa saat kemudian pintu kamar terbuka. Sonia muncul dari balik pintu dengan setelan celana panjang hitam dan kemeja berwarna merah. Rambutnya yang pendek tertata rapi, ada tas branded di tangannya.


“Selamat siang, Biao.” Ada senyum kecil di bibirnya yang merah. Tatapan matanya yang tajam memandang Sharin dengan begitu teliti, “Selamat siang, Sharin.”


“Sonia,” ucap Biao pelan. Kali ini ada senyum ramah di raut wajahnya saat menyambut Sonia. Sungguh ekspresi wajah yang berbeda jauh jika di bandingkan dengan yang dulu.


“Bagaimana keadaanmu?” Sonia mulai melangkah untuk mendekat dengan tempat tidur Biao. Suara High Heelsnya terdengar dengan begitu jelas. Langkahnya pelan namun pasti. Lekuk kakinya yang tertutup dengan celana tetap saja terlihat dengan begitu jelas dari gayanya berjalan.


“Aku sudah jauh lebih baik. Tama bilang kau mengirim orang untuk menjaga rumah sakit ini. Terima kasih, Sonia.” Biao memegang tangan Sharin dengan begitu erat, “Ini Sharin.”


Sonia duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Biao. Matanya mengelilingi ruangan mewah yang di tempati Biao, “Aku tidak menyangka kalau kau bisa tinggal di ruangan seperti ini.”


Biao mengangguk pelan, “Bukankah ruangan ini juga nyaman. Bedanya ada beberapa bau obat dan alat-alat medis yang melekat di tubuhku,” ucap Biao sambil memamerkan jarum infus yang menancap di punggung tangannya.


Sharin menunduk. Sorot mata Sonia yang cukup mengerikan sangat sulit untuk ia pandang. Walaupun suara Sonia terdengar begitu ramah.


“Sharin, kita belum kenalan. Kau wanita beruntung yang sudah meluluhkan hati pria ini.” Sonia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Sharin. Bibirnya tersenyum ramah agar Sharin tidak lagi takut padanya.


“Saya Sharin, Nona Sonia,” ucap Sharin dengan suara pelan.


“Sonia. Jangan panggil aku Nona,” protes Sonia sebelum melepas cengkraman tangan mereka.


Wajah Sonia berubah serius. Wanita itu memandang wajah Biao sebelum mengungkapkan isi hatinya. Ada tujuan tersendiri bagi Sonia atas kunjungannya siang itu.


“Biao, ada hal penting yang ingin aku katakan padamu. Mengenai Paul ....” ucapan Sonia terhenti. Hanya mengucapkan namanya saja sudah bisa membuat Biao merubah ekspresi wajahnya yang semula ramah sekarang menjadi menakutkan.


“Ada apa dengannya?” ucap Biao dengan nada tidak suka.


“Biao, kau temanku. Tapi, Paul juga temanku. Jika harus memilih, aku tidak bisa memilih salah satu di antara kalian. Kalian berdua memiliki cerita yang berbeda-beda hingga bisa sedekat ini denganku.” Sonia menghela napas sebelum melanjutkan kalimatnya, “Apapun yang terjadi, aku tidak ingin kau membunuh Paul. Berjanjilah Biao. Aku akan memperkuat orangku untuk menjaga Sharin. Walau aku sendiri kurang yakin dengan pertahanan yang aku miliki.” Sonia membuang tatapannya ke arah lain.


Biao dan Sharin diam sejenak untuk mencerna setiap kalimat yang di ucapkan oleh Sonia. Ada rasa lega karena Sonia mau mengirim pengawal untuk menjaga rumah sakit. Tapi, di sisi lain. Permintaan Sonia merupakan permintaan yang sulit untuk di setujui oleh Biao. Pria itu telah bertekad untuk membunuh Mr. Paul jika ia sudah keluar dari rumah sakit.


“Aku tidak bisa berjanji padamu, Sonia. Jika ia masih sayang dengan nyawanya, sebaiknya dia tidak lagi mendekat dengan orang yang aku sayang. Jika ia masih berani melanggarnya, maka ia harus siap untuk mati,” ucap Biao dengan ekspresi wajah tidak terbaca.


Sonia terdiam seribu bahasa. Apa yang dikatakan Biao juga benar. Pria mana yang diam saja saat wanita yang ia cintai di ganggu pria lain. Namun, Sonia tidak ingin ada pertumpahan darah dari kedua bela pihak.


“Aku tidak pernah bermimpi ada di posisi sulit seperti ini. Siapa yang harus aku pilih. Kalian kedua temanku yang cukup dekat denganku. Jika seperti ini, aku jadi semakin bingung,” gumam Sonia di dalam hati.


Sharin mengerti wajah bingung Sonia saat itu. Ia memegang tangan Sonia dengan senyuman manis, “Sonia, semua akan baik-baik saja. Tidak akan ada yang harus terluka dan kehilangan nyawa. Baik Biao maupun Mr. Paul. Aku juga tidak suka permusuhan. Aku berharap setelah kami menikah, Mr. Paul tidak lagi menginginkanku.”


“Jatuh cinta?” ucap Sharin bingung. Wanita itu cukup tahu kalau Biao mencintainya sejak dulu. Tapi, bagaimana dengan Mr. Paul? Pria itu terobsesi dengannya hingga berubah menjadi jauh lebih menyeramkan. Sharin tidak menyangka kalau perasaan Mr. Paul terhadapnya adalah cinta.


“Ya. Mr. Paul juga mencintaimu. Karena itu aku membelanya,” ucap Sonia pelan sambil menunduk, “Aku juga pernah melakukan kesalahan di saat aku mencintai seseorang dulunya.”


Biao tertegun mendengar perkataan Sonia. Pria itu masih ingat jelas bagaimana jahatnya Sonia terhadap Serena sebelum ia akhirnya berubah.


“Aku tidak akan melepas apa yang seharusnya menjadi milikku kepada orang lain. Apapun alasannya, Sonia. Jika kau memang dekat dengan pria itu. Kau bisa mengatakan kepadanya untuk tidak lagi mengganggu hubungan kami. Aku akan memaafkannya karena ia orang yang kau kenal.” Biao membuang tatapannya ke arah lain, “Untuk sekarang, jangan bahas tentang pria itu lagi. Aku tidak suka mendengar namanya.”


“Maafkan aku, Biao,” ucap Sonia dengan suara pelan.


Pintu terbuka secara tiba-tiba. Dua pria berbadan tegab berjalan cepat mendekati Sonia.


“Nona, perusahaan di London mengalami kebakaran,” ucap salah satu pria yang berstatus menjadi pengawal Sonia.


“Apa?” Sonia terlihat kaget saat mendengar kabar itu. Cabang pusat perusahaannya saat ini ada di London, “Bagaimana dengan Aldi? Dimana dia?”


“Nona, kebakarannya sangat hebat. Kami belum tahu keberadaan Tuan Aldi saat ini,” ucap Pengawal itu ragu-ragu.


Sonia mengepal kuat tangannya. Hanya nama Mr. Paul yang muncul di dalam pikirannya saat ini. Ia cukup yakin kalau Mr. Paul melakukan semua ini agar Sonia segera meninggalkan San Fransisco dan tidak mengganggu rencananya.


“Kita kembali ke London. Beberapa ikut denganku, sisanya tetap di sini,” perintah Sonia dengan suara lantang, “Biao, aku harus segera pergi. Kau juga harus memikirkan cara untuk melindungi Sharin. Bukan hanya sebuah gedung yang bisa ia runtuhkan. Berhati-hatilah.”


Sonia segera pergi meninggalkan ruangan itu diikuti dua pengawal yang baru saja tiba. Wanita itu terlihat sangat khawatir atas keadaan suaminya yang memang masih ada di London.


Biao menatap wajah Sharin yang terlihat pucat, “Sharin, semua akan baik-baik saja. Aku akan segera sembuh dan kita akan menikah. Pengawal S.G. Group juga sudah ada di rumah sakit ini. Mereka akan berjuang untuk melindungimu.”


Sharin mengukir senyuman kecil, “Aku tidak pernah takut jika ada di sampingmu.”


Senyuman yang kini ada di wajah Sharin dan Biao adalah senyuman palsu. Hati mereka kini di penuhi dengan kekhawatiran. Tidak lama lagi Mr. Paul pasti akan segera melakukan satu penyerangan. Walaupun masih dalam kondisi lemah, Biao tetap bertekad untuk melawan Mr. Paul dan mempertahankan Sharin agar tetap di sisinya.


.


.


Mulai hari ini Biao up siang ya reader... jam 12 siang. terima kasih...😘