
Dokter Adit berjalan cepat menuju ke ruang operasi. Lelaki itu mengenakan perlengkapan operasi yang memang harus ia gunakan. Jantungnya berdebar tidak karuan karena mendengar kabar buruk tentang kondisi sahabatnya.
Di dalam ruang operasi. Biao berbaring tak berdaya dengan detak jantung yang semakin melemah. Dokter Sarah memasang alat picu jantung di dada lelaki itu. Ia terus berusaha untuk memperjuangkan kehidupan Biao.
“Apa yang terjadi?” ucap Dokter Adit yang langsung saja mengambil alih tugas Dokter Sarah. Lelaki itu memeriksa denyut nadi dan beberapa alat bantu yang terpasang di tubuh Biao.
“Dok, detak jantung pasien melemah, pasien juga mengalami kesulitan dalam pernapasan,” jawab Dokter Sarah dengan wajah panik.
Dokter Adit kembali mengunci mulutnya sambil memandang wajah Biao yang kini terlihat cukup menyedihkan. Lelaki itu terus berusaha menyelamatkan nyawa Biao, “Kita lakukan operasi ulang pada bagian kepala belakang pasien,” ucap Dokter Adit. Satu keputusan yang cukup beresiko itu harus ia ambil demi menyelamatkan rekan terbaiknya. Jika operasinya gagal, maka nyawa Biao tidak akan tertolong lagi malam itu.
Pemandang ini adalah pemandangan pertama Adit melihat lelaki yang di kenal tangguh itu dalam kondisi lemah. Lampu berukuran bulat yang ada di atas terpasang dengan begitu terang. Semua orang sibuk mengambil tugasnya masing-masing.
“Biao, bangunlah. Jangan buat semua orang sedih karena kehilangan dirimu,” gumam Dokter Adit di dalam hati sebelum memulai proses operasinya.
Di ruang lain.
Sharin mulai menggerak-gerakkan jarinya secara tiba-tiba diikuti dengan gerakan matanya. Secara perlahan Sharin membuka matanya. Wanita itu memandang langit-langit kamar dengan wajah tanpa ekspresi. Satu tangannya terangkat ke atas untuk memegang kepalanya yang terasa sakit.
Lelaki yang menjadi bawahan Biao menatap Sharin dengan seksama. Ada rasa lega dan bahagia saat melihat Sharin bisa kembali sadar. Lelaki itu berlari meninggalkan ruangan untuk memanggil Dokter agar memeriksa keadaan Sharin.
Sharin kembali mengingat kejadian yang baru saja ia alami. Suara benturan itu memang masih mengiang jelas di telinganya bahkan menyisakan satu trauma yang cukup menakutkan. Tiba-tiba saja ia kembali ingat dengan Biao.
Sharin mencari-cari ke sekeliling kamar untuk melihat keberadaan lelaki yang ia cintai. Wajahnya terlihat sedih dan kecewa saat tidak berhasil menemukan wajah Bioa di dalam ruangan itu.
“Paman Tampan, Paman Tama,” ucap Sharin dengan suara yang serak dan sangat pelan.
Suara pintu terbuka. Seorang Dokter dengan satu perawat masuk ke dalam kamar. Mereka terlihat bahagia karena bisa melihat Sharin kembali sadar. Dengan cepat Dokter itu memeriksa keadaan Sharin saat ini. Perawat yang ada di samping Dokter itu juga membantu sang Dokter untuk memeriksa Sharin.
“Dok, dimana keluarga saya?” tanya Sharin dengan suara yang lirih.
“Mereka bai-baik saja, Nona. Sebaiknya anda jangan terlalu banyak pikiran karena anda baru saja sadar.” Dokter itu mengukir senyuman ramah, “Kondisi anda sudah jauh lebih baik. Anda akan segera sembuh, Nona.”
Sharin memandang wajah pria yang selalu menjadi pengawalnya saat Biao tidak ada. Wanita itu mengangkat satu tangannya sebagai kode agar lelaki itu mendekatinya.
Pengawal itu menundukkan kepalanya sebelum berjalan mendekati Sharin. Ia berdiri di samping tempat tidur Sharin dengan wajah menunduk.
Pengawal yang berdiri di samping tempat tidur Sharin memperhatikan Dokter dan perawat yang baru saja pergi. Lelaki itu kembali menatap wajah Sharin saat Dokter dan perawatnya telah hilang di balik pintu, “Selamat malam, Nona. Ada yang bisa saya bantu?” ucap Pengawal itu ragu-ragu.
“Di mana, Biao?” ucap Sharin sambil memandang wajah Pengawal itu dengan seksama.
“Tuan Biao baik-baik saja, Nona.” Pengawal itu menunduk sedih. Hatinya kini juga di selimuti dengan kesedihan karena baru saja mendengar kabar kalau Biao sedang kritis.
Sharin mengukir senyuman, “Jika dia baik-baik saja. Dia tidak akan meninggalkanku sendirian. Bukankah dia berjanji untuk selalu ada di sampingku,” jawab Sharin dengan mata berkaca-kaca. Tiba-tiba saja hatinya merasa sedih. Ia sangat rindu dengan Biao. Ia ingin melihat langsung wajah Biao saat ini, “Antar aku untuk menemuinya.”
“Nona, tapi kondisi anda masih belum pulih. Anda harus banyak istirahat dan tidak boleh banyak pikiran.” Pengawal itu berusaha mencegah Sharin yang mulai berusaha beranjak untuk duduk.
“Aku tidak peduli dengan kondisiku saat ini. Hanya Biao yang aku pedulikan. Aku ingin melihatnya sekarang,” ucap Sharin pelan. Dengan susah payah ia berusaha untuk duduk. Namun, entah kenapa kaki dan pingganganya terasa sakit. Rasa sakit itu sungguh menyiksa hingga membuat Sharin menyerah, “Di mana dia!” teriak Sharin dengan suara serak saat tubuhnya gagal untuk turun dari tempat tidur.
“Nona, anda tidak boleh banyak bergerak.” Pengawal itu terus saja berusaha untuk membujuk Sharin agar tidak banyak bergerak.
Namun Sharin memang cukup keras kepala. Wania itu terus berusaha untuk bangkit dan menemui Biao, “Aku ingin melihat Paman Tampanku sekarang.” Tangis Sharin pecah detik itu juga. Ia tidak lagi bisa membendung air mata yang telah penuh di matanya. Isakan tangisnya sungguh menyayat hati. Ia tahu kalau kini telah terjadi sesuatu kepada Biao.
“Nona, Tuan Biao baik-baik saja.” Pengawal itu menatap wajah Sharin dengan perasaan tidak tega. Kini wanita yang harus ia jaga keselamatannya sedang menangis. Isak tangisnya membuat hati siapa saja yang mendengarnya menjadi ikut sedih.
“Hanya kau yang bisa membantuku saat ini. Tolong aku. Aku ingin menemuinya. Hanya sebentar saja,” ucap Sharin dengan penuh permohonan.
Suara pintu terbuka. Seorang suster masuk sambil mendorong kursi roda. Kabar kalau Sharin sudah sadar kini telah terdengar di telinga Dokter Adit. Lelaki itu memberi perintah kepada perawatnya untuk membawa Sharin melihat Biao. Ia tidak tahu cara itu berhasil atau tidak. Tapi, ia percaya kalau Sharin adalah bagian terpenting dalam hidup Biao.
“Nona Sharin, Dokter Adit meminta saya untuk membawa anda.” Suster itu meletakkan kursi roda di samping tempat tidur Sharin, “Tuan, apa anda bisa membantu saya mengangkat Nona Sharin ke kursi roda?” Perawat itu menatap wajah pengawal yang berdiri tegap.
Pengawal itu mengangguk pelan tanpa suara. Ia berjalan lebih dekat lagi dengan tempat tidur Sharin, “Maaf, Nona,” ucapnya sebelum mengangkat tubuh Sharin. Meletakkannya dengan hati-hati di atas kursi roda.
“Terima kasih, Tuan,” ucap perawat itu.
“Biar saya yang mendorong kursinya,” sambung Lelaki itu. Walau sudah jelas-jelas perawat wanita itu orang suruhan Adit, tapi tetap saja ia masih belum percaya seratus persen.
“Baik, Tuan. Silahkan.” Perawat itu mengukir senyuman sebelum berjalan lebih dulu. Ia akan memimpin jalan untuk membawa Sharin menuju ke ruang operasi sesuai permintaan Dokter Adit.