
Sharin dan Biao berada di dalam mobil. Sepasang kekasih itu kini dalam perjalanan menuju ke Bandara. Tidak terlalu banyak kata yang mereka ucapkan. Di dalam mobil itu suasanannya cukup hening. Hanya ada MP3 yang terdengar dari arah depan mobil.
Siang itu Biao memilih pergi dengan supir. Ada banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan walaupun kini ia ada di dalam mobil. Sejak dulu segala pekerjaan yang seperti ini selalu di ambil alih oleh Tama atau Daniel secara langsung.
Sharin mengeryitkan dahi saat melihat wajah serius Biao. Wanita itu melirik ke arah laptop yang ada di pangkuan Biao. Bibirnya mengukir senyuman kecil saat melihat tugas yang dikerjakan oleh Biao.
“Paman Tampan, sini biar aku bantu.” Sharin menarik paksa laptop yang ada di atas pangkuan Biao. Wanita itu mulai memeriksa beberapa pekerjaan yang kini dikerjakan oleh Biao, “Pekerjaan seperti ini adalah tugas sekretaris. Kenapa kau mengerjainya sendirian tanpa mau meminta bantuanku?” ucap Sharin dengan senyuman.
Biao membalas senyuman Sharin, “Aku menjadikanmu sekretaris pribadi bukan untuk membuatmu susah. Tujuanku agar kau selalu ada di depan mataku, Sharin.”
“Ya. Tapi aku tidak ingin bekerja dengan cara seperti itu. Aku ingin menggunakan ilmu dan bakat yang aku miliki.” Sharin mengembalikan laptop Biao pada tempatnya, “Akan ada banyak pertemuan yang harus Paman Tampan hadiri selama dua hari ini. Apa aku boleh mewakilinya? Aku cukup bisa di handalkan,” ucap Sharin sambil mengedipkan sebelah matanya. Satu tangannya memukul pelan pundak Biao.
“Ya. Tentu saja. Kau boleh mewakiliku untuk menemui beberapa klien penting S.G. Group.” Biao memandang laptopnya beberapa menit sebelum mematikan laptop itu dan meletakkannya di bawah.
“Paman, jika kau sudah tiba di Sapporo. Katakan pada Paman Tama kalau aku sangat merindukannya.” Sharin menatap wajah Biao dengan seksama.
“Ya. Aku akan menyampaikannya pada Tama.” Biao mengusap lembut tangan Sharin yang tergeletak di atas kursi, “Kau harus bisa menjaga dirimu selama aku tidak ada.”
“Baiklah, Paman. Jangan mengkhawatirkanmu.” Sharin menjatuhkan kepalanya di pundak Biao. Hatinya cukup sedih dengan kepergian Biao nanti malam.
Baginya, ini hari bahagia yang tidak ingin ia sudahi. Namun, semua sudah takdir. Ia hanya bisa bersabar sampai pria yang ia cintai kembali datang untuk menemuinya.
***
Beberapa saat kemudian.
Mobil yang di tumpangi Sharin dan Biao tiba di Bandara. Sepasang kekasih itu turun secara bersamaan dari dalam mobil. Biao menggandeng tangan Sharin saat ingin masuk ke dalam Bandara. Segala keperluan sudah di persiapkan oleh supir sekaligus orang kepercayaannya itu.
Biao hanya tinggal mempersiapkan diri untuk berangkat. Wajahnya masih memancarkan kesedihan. Sesekali ia menarik tangan Sharin dan mengecupnya berulang kali.
“Sharin, aku pergi dulu.” Biao berdiri di hadapan Sharin. Satu tangannya telah sibuk mengusap pipi kekasihnya yang lembut. Bibirnya tersenyum dengan tatapan wajah sendu.
“Ya. Jika sudah sampai segera hubungi aku. Jam berapapun itu aku akan tetap menunggu kabarmu, Paman Tampan.” Sharin memegang tangan Biao yang ada di pipi kirinya. Wanita itu memejamkan mata beberapa detik untuk mengatur air matanya yang ingin menetes.
Biao menarik tubuh Sharin ke dalam pelukannya. Lelaki itu ingin merasakan kehangatan dan aroma tubuh kekasihnya. Pelukannya sangat erat. Ada rasa rindu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Matanya terpejam untuk menekan kesedihan yang kini memenuhi hatinya.
Sharin mengangguk pelan pertanda setuju. Wanita itu berjinjit untuk mencium pipi kekasihnya sebelum pergi. Bibirnya mengukir senyuman lagi sebelum ciumannya beralih ke pipi sebelahnya.
“Jangan terlalu memikirkan aku di sini. Aku pasti akan baik-baik saja.” Sharin
mengerak-gerakkan tubuhnya sebagai bentuk ciri khas dirinya selama ini.
“Tuan, sudah waktunya,” ucap lelaki yang menjadi pendamping Biao saat berangkat nanti.
Biao melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. Lelaki itu menarik pinggang Sharin dan mengecup bibirnya dengan durasi cukup lama. Matanya terpejam saat mereka saling bertukar oksigen.
“Aku pergi dulu,” ucap Biao pelan. Dahinya ia lekatkan di dahi Sharin. Satu tangannya mencengkram kuat rambut wanitanya.
Sharin mengangguk. Tiba-tiba saja air mata yang sejak tadi ia tahan jatuh menetes. Ada rasa tidak rela saat lelaki itu berpamitan untuk pergi.
“Hei, jangan menangis. Kau akan membuatku berat untuk melangkah pergi.” Biao mengeryitkan dahi sambil menghapus tetesan air mata yang membasahi wajah Sharin.
Sharin memeluk Biao sekali lagi. Setidaknya itu yang bisa ia lakukan saat ini sebelum tubuh lelaki itu menjauh dari pandangan matanya.
“Aku pasti akan sangat merindukan, Paman tampan.”
Biao mengusap lembut punggung Sharin dengan senyuman.
Setelah melewati adegan sedih karena harus berpisah selama beberapa hari. Kini akhirnya Biao telah pergi untuk berangkat. Sharin masih berdiri pada posisinya. Menatap punggung Biao yang sudah semakin menjauh dan hilang di balik kerumunan.
Dengan wajah sedih dan sisa tetesan air mata, Sharin berjalan menuju mobil. Supir yang sejak awal mengantarnya juga kini ada di belakang Sharin untuk menjaga wanita itu.
“Nona, anda ingin kembali ke kantor atau pulang ke partemen?” tanya supir itu dengan hati-hati.
“Saya ingin kembali ke kantor. Ada banyak pekerjaan yang harus segera saya selesaikan.”
Sharin bertekad untuk membantu Biao mencapai kesuksesan di perusahaan S.G. Group. Wanita itu masuk ke dalam mobil lalu duduk dengan posisi nyaman. Ia membuka jendela kaca mobil sambil memandang langit biru yang indah. Satu pesawat baru saja berangkat hingga membuat Sharin harus merasa kesedihan.
“Cepat kembali dan temui aku,” ucapnya sebelum memejamkan mata.