Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 70



Ruangan itu kembali sunyi saat semua pengawal S.G. Group telah keluar dari dalam kamar. Tuan dan Ny. Edritz sudah kembali ke hotel. Kondisi sepasang suami istri itu juga kurang baik. Akhir-akhir ini mereka memiliki banyak pikiran dan kurang beristirahat.


Tama berjalan pelan mendekati Sonia. Pria itu masih belum yakin dan percaya dengan kata-kata yang di ucapkan oleh Mr. Paul. Dengan wajah tidak suka, Tama memperhatikan buket bunga yang ada di bawah kaki Sharin.


“Apa itu tidak beracun? Aku takut ia hanya pura-pura saja. Tadi pagi Tuan Daniel telah berhasil mengalahkannya. Sudah bisa dipastikan kala nama Mr. Paul tidak akan terkenal lagi seperti sebelumnya. Ia akan di kenal sebagai pemilik saham terburuk yang pernah ada.” Tama tertawa kecil sambil memegang surat yang ada di buket bunga itu. Alisnya terangkat satu setelah selesai membaca isinya, “Cukup romantis. Aku harap ia benar-benar berubah.”


Tama mengambil buket bunga itu. Meletakkannya di atas nakas yang ada di samping tempat tidur Biao. Pria itu lagi-lagi harus berubah sedih saat melihat wajah Biao. Sahabat terbaik yang memiliki derita dalam urusan percintaannya.


“Biao akan segera bangun,” ucap Adit yang seolah mengerti dengan ekspresi wajah Tama saat itu.


“Sharin juga akan segera bangun. Kami sudah mengeluarkan pelurunya. Peluru itu tidak terlalu dalam dan tidak menyentuh organ vital yang cukup berbahaya. Kemungkinan Sharin akan segera bangun.” Dokter Sarah merapikan peralatan medis yang telah ia gunakan untuk memeriksa Sharin.


“Ya. Biao juga akan sadar pada malam hari. Sepertinya saat ini mereka juga sedang berduaan di alam bawah sadar,” ucap Adit dengan tawa kecil.


Sonia hanya diam membisu sambil mendengarkan perkataan Tama dan Adit. Wanita itu masih sedih atas nasip buruk yang di alami sahabatnya, Paul. Walaupun Sonia sendiri tahu, bukan hanya perusahaan yang menjadi sumber keuangan Mr. Paul selama ini. Bisnis terlarang yang di miliki pria itu jauh lebih menjanjikan.


Sonia cukup yakin, kalau Mr. Paul benar-benar tulus melepaskan Sharin dan Biao. Ia sudah lama kenal dengan pria itu. Mr. Paul tidak pernah membohonginya.


“Sonia, apa kau baik-baik saja?” celetuk Adit sambil merapikan alat medisnya.


“Aku harus kembali pulang untuk menemui Aldi,” ucap Sonia sambil memutar tubuhnya.


“Tunggu, Sonia. Aku ingin tahu, kenapa kau bisa datang tepat waktu saat Sharin dan Biao di serang. Terakhir kali memberi kabar bukannya kau masih ada di London?” tanya Tama dengan wajah penuh selidik. Ia masih menganggap Sonia sebagai sahabatnya. Namun, Tama tidak ingin berbuat ceroboh untuk kesekian kalinya. Dari sahabat yang ia miliki, hanya Sonia yang memiliki sifat susah di tebak. Jalan pikiran wanita itu selalu saja di luar akal sehat.


“Apa kau menuduhku?” jawab Sonia tidak suka.


“Apa kau merasa seperti itu?” sambung Tama sambil melipat kedua tangannya di depan dada, “Apa kau lupa kejatahatan yang sudah pernah kau perbuat kepada keluarga Tuan Daniel dan Nona Serena. Bahkan Diva hampir hilang saat itu.” Ada penekanan dan tuduhan di dalam ucapan Tama malam itu. Kalimat yang ia ucapkan telah berhasil membuat Sonia merasa terpojokkan.


“Apa aku tidak boleh berubah? Apa segala hal yang aku lakukan selalu akan menjadi kesalahan?” teriak Sonia dengan bibir gemetar. Cukup sakit dan terluka saat seorang sahabat yang selama ini ia hargai kini menuduhnya dengan cara seperti itu.


“Tama, Sonia. Sudahlah. Masalah ini sudah selesai. Kalian tidak boleh bertengkar seperti itu. Masalah yang di alami Biao adalah masalah kita semua. Biao sahabat terbaik kita dan akan selamanya kita lindungi.” Adit berusaha menjadi penengah antara Tama dan Sonia. Pria itu tidak ingin ada keributan di ruangan pasiennya.


Anna berjalan pelan untuk mendekati Tama. Wanita itu mengusap lembut pundak suaminya, “Sayang, sudah. Jangan memperburuk keadaan. Yang terpenting saat ini, Biao dan Sharin selamat. Kita tidak bisa menyalahkan Sonia terus-terusan seperti ini.”


Sonia meneteskan air mata dengan perasaan yang cukup sedih, “Maafkan aku jika aku sudah membuatmu tidak nyaman, Tama. Katakan pada Biao dan Sharin maafku.” Wanita itu memutar tubuhnya dengan perasaan sedih. Ia cukup kecewa atas tuduhan Tama malam itu.


Di dalam ruangan, Adit menghela napas, “Kau keterlaluan, Tama. Aku yang mengundangnya agar ikut campur dengan masalah Biao. Kenapa malam ini kau menuduhnya seperti itu? Kau pria yang selama ini aku kenal sabar dan mudah memaafkan. Kenapa hari ini kau terlihat jauh berbeda?”


Tama membung tatapannya untuk memandang wajah Sharin, “Aku hanya takut ia bekerja sama dengan pria itu.”


“Sayang, sekarang yang harus kita pikirkan adalah kesehatan Sharin dan Biao. Kita akan menemui Sonia lagi setelah Biao dan Sharin sembuh.” Anna mengukir senyuman agar Tama tidak sedih lagi. Biao dan Sharin adalah orang terdekat Tama. Pria itu akan terpuruk jika terjadi sesuatu kepada mereka.


“Aku akan kembali ke hotel bersama Anna. Tolong jaga Biao dan Sharin.” Tama memijat kepalanya yang terasa sakit.


“Kau tenang saja, serahkan semuanya padaku,” ucap Adit dengan wajah menyakinkan.


Tama dan Anna memilih pergi meninggalkan rumah sakit. Bagi mereka, keberadaan mereka di dalam rumah sakit itu tidak lagi di butuhkan. Tama juga harus memperhatikan kesehatan istrinya yang kini sedang hamil. Ia tidak ingin masalah yang kini di hadapi Sharin dan Biao juga membuat kesehatan Anna dan calon buah hatinya menjadi buruk.


Dokter Sarah memperhatikan Anna dan Tama yang sudah hilang di balik pintu. Wanita itu mengukir senyuman kecil sebelum mengeluarkan kata, “Anda berbohong, Dok?” celetuk Dokter Sarah sambil memeriksa cairan infus Biao.


“Jika tidak berbohong keadaannya akan semakin parah,” jawab Adit dengan wajah serius. “Aku harap besok malam ia sudah bangun. Jika ia tidak bangun, aku takut reaksi benturan itu akan semakin serius.” Adit memeriksa sekali lagi luka yang ada di kepala Biao. Ia memeriksanya dengan hati-hati. Biao akan sadar setelah melewati koma lebih dari 24 jam.


“Kondisinya semakin stabil, Dok. Seharusnya tidak ada lagi yang harus kita khawatirkan,” ucap Dokter Sarah dengan suara pelan.


“Bagaimana dengan Sharin? Apa ia benar-benar akan segera sadar?” ucap Adit sambil menatap wajah Sharin.


“Ya, Dok. Paling lama 12 jam reaksi obat ini bertahan.”


Adit mengukir senyuman, “Sebaiknya kita tinggalkan mereka untuk beristirahat. Aku akan memeriksa keadaan mereka satu jam lagi.”


Dokter Adit dan Sarah sama-sama pergi meninggalkan ruangan tempat Sharin dan Biao beristirahat. Dua Dokter itu masih belum bisa merasakan tenang, sebelum Biao dan Sharin membuka mata dan kembali berbicara. Mereka terpaksa berbohong karena tidak ingin membuat semua orang semakin khawatir dengan keadaan Biao dan Sharin saat ini.