Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 82



Waktu terus berlalu hingga pagi yang cerah berubah menjadi siang yang terik. Sepasang suami istri itu sudah ada di dalam mobil.


Sesuai dengan rencana mereka sejak pagi, kalau mereka akan mengunjungi suatu tempat. Sharin terlihat sangat penasaran. Wanita itu sesekali mengukir senyuman memandang wajah Biao sebelum memasang wajah penasaran lagi.


Sedangkan Biao. Ia duduk dengan tenang sambil memainkan ponsel miliknya. Dimanapun posisinya berada, jika ada waktu luang Biao selalu memeriksa pekerjaannya.


Sharin menjatuhkan kepalanya di pundak Biao. Tangannya melingkari lengan Biao dengan begitu manja, "Jangan terlalu banyak pikiran. Aku khawatir kepala ini sakit lagi."


"Aku hanya memeriksa. Sebentar lagi juga selesai," jawab Biao dengan senyuman. Perhatian dari Sharin memang berhasil membuatnya semakin bahagia.


Sekitar lima belas menit dalam perjalanan, mereka mulai memasuki jalanan sunyi yang di kelilingi taman bunga yang cukup indah. Tidak jauh dari taman bunga itu ada danau yang cukup indah yang di kelilingi kursi-kursi besi.


Sharin mengukir senyuman bahagia saat melihat pemandangan yang ada di depan matanya. Wanita itu bahkan melepas tangannya dari tangan Biao. Ia lebih memilih duduk di dekat kaca agar bisa melihat jelas pemandangan taman tersebut.


"Kita ada di mana?" ucap Sharin dengan suara pelan.


Biao memasukkan ponselnya ke dalam saku saat melihat lokasi yang ia tuju sudah semakin dekat, "Selamat datang di rumah," jawab Biao.


Mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan pagar tinggi berwarna putih. Ada dua pria berjas resmi S.G. Group yang membuka pintu gerbang tersebut. Tidak lupa mereka membungkuk hormat sebagai bentuk sambutan mereka kepada Biao dan Sharin.


Sharin memandang pintu gerbang tersebut sebelum memandang wajah Biao lagi. Secara perlahan bibirnya mengukir senyuman, "Ini rumah kita?"


Biao meraih tangan Sharin lalu mengecup punggung tangannya, "Ya, Sayang. Rumah ini adalah rumah kita. Tepatnya rumahmu."


Sharin memeluk tubuh Biao karena terlalu bahagia. Padahal ia belum tahu bentuk rumah yang akan ia tempati nantinya. Baginya, bagaimanapun ukuran rumahnya. Tetap rumah itu yang terbaik.


"Terima kasih," ucap Sharin dengan senyum bahagia.


Biao melingkarkan tangannya di pinggang Sharin, "Apapun akan aku lakukan asal kau bahagia."


Mobil yang mereka tumpangi kembali berjalan. Kali ini mobil itu melewati rumput hijau yang dipenuhi bunga warna-warni. Di arah depan telah ada rumah mewah bercat putih abu-abu. Rumah itu memiliki ukuran yang sangat luas dengan desain modern.


Mobil berhenti di depan teras yang menghubungkan ke pintu utama. Ada beberapa pelayan yang berbaris rapi menyambut kedatangan Sharin dan Biao siang itu.


Dua pria berjalan cepat agar bisa membukakan pintu mobil untuk memberi jalan kepada Sharin dan Biao.


Sharin masih tidak percaya dengan rumah yang akan ia tempati. Wanita itu turun dari dalam mobil sambil memperhatikan bangunan rumah yang ada di depan matanya. Kepalanya mendongak dengan tatapan tidak percaya.


Rumah itu tidak jauh beda dari kemewahan rumah milik Edrtiz Chen. Awalnya Biao hanya ingin memiliki rumah yang tidak terlalu mewah dan besar. Namun, setelah ia menemukan lokasi yang pas. Ny. Edritz ikut campur di dalamnya hingga rumah itu menjadi seperti sekarang.


"Ada dua lagi rumah yang sudah aku persiapkan. Jika kau tidak suka maka-"


"Aku sangat suka," jawab Sharin cepat sebelum berlari ke arah pintu.


"Selamat datang Tuan, selamat datang Nyonya." Semua pengawal dan pelayan yang dilewati Sharin dan Biao terus menyapa dengan penuh hormat.


Sharin terlihat tidak percaya, kalau hari ini ia bisa diperlakukan layaknya seorang putri. Wanita itu merangkul lengan Biao lalu menjatuhkan kepalanya di atas pundak.


"Aku sangat senang," ucapnya pelan.


Biao mengukir senyuman sebelum membawa Sharin masuk ke dalam. Pria itu belum membayar rumah yang akan ia tempati tersebut tapi Ny. Edritz sudah menyiapkan pembantu dan pengawal di dalamnya.


Semakin masuk ke dalam Biao semakin tidak percaya jika rumah itu berharga murah, "Sepertinya Mama mengerjaiku kali ini," gumam Bioa di dalam hati.


Sharin terus memeriksa setiap sudut rumah. Dapur, ruang tamu, ruang keluarga bahkan ruang kerja milik Biao. Ada perpustakaan juga di dalam rumah mewah itu.


Setelah puas mengelilingi lantai satu, Sharin mengajak Biao melihat lantai dua.


Dengan hati-hati pengantin baru tersebut menjejaki anak tangga. Dari tangga saja sudah terlihat jelas kalau rumah yang mereka tempati memang tidak di bangun sembarangan.


"Kapan kita tinggal di sini?" tanya Sharin sambil terus berjalan.


"Besok," jawab Biao cepat.


"Malam ini kita tidur di apartemen?" Sharin menatap wajah Biao dengan seksama.


"Ya. Bukankah kau ingin mengajakku tidur di apartemen milikmu," ujar Biao sambil mencubit pipi Sharin dengan senyuman.


"Benarkah? Malam ini kita tidur di apartemenku?" teriak Sharin kegirangan.


"Ya, sayang," jawab Biao penuh keyakinan.


Sharin lagi-lagi melepas tangannya dari lengan Biao lalu memeluk tubuh pria itu. Wajahnya sangat bahagia, "Terima kasih, aku sangat mencintaimu."


"Aku juga sangat mencintaimu, Sharin."


.


.


.


Belum jumpa alur action buat Biao... aku mau dia hidup tenang dulu sampai malam pertamanya sukses...🤣