
Matahari lagi-lagi muncul untuk memamerkan cahaya terangnya. Kicauan burung terdengar dengan begitu jelas karena kamar Sharin dan Biao tidak jauh dari pepohonan.
Sharin membuka mata sambil memandang wajah Biao yang masih memejamkan mata. Jika mengingat kejadian tadi malam membuat Sharin kembali tersenyum geli. Bisa-bisanya malam pertama yang sudah mereka rencanakan harus gagal karena alasan yang sepele.
Sharin tertawa sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan. Baginya adegan yang terjadi tadi malam seperti sebuah komedi yang akan menimbulkan tawa saat di putar kembali.
Tawa Sharin berhasil membuat Biao membuka mata secara perlahan. Melihat Sharin ada di depan matanya, Biao menarik pinggang Sharin agar berada di dalam pelukannya, “Apa yang kau tertawakan? Kau meledekku?”
“Kau pria yang cukup lucu,” ucap Sharin di sela-sela tawanya. Wanita itu menjatuhkan kepalanya di atas dada Biao.
Biao memandang langit-langit kamar sebelum mengukir senyuman. Jika dibayangkan lagi memang dirinya cukup konyol tadi malam.
“Sayang,” sapa Sharin dengan suara yang lembut.
“Hmm,” jawab Biao singkat.
“Setelah proyek ini berhasil, aku ingin jalan-jalan.”
“Kemana?” tanya Biao dengan wajah yang cukup serius.
“Aku ingin jalan-jalan ke tempat yang cukup indah.”
“Apa itu artinya kita bulan madu?” Alis Biao saling bertaut.
Sharin mengangguk setuju, “Aku ingin berduaan denganmu. Berlibur sambil bersenang-senang.
Biao memutar tubuhnya hingga kini posisi Sharin ada di bawahanya, “Kalau bulan madu, itu berarti kita akan menghabiskan banyak waktu di kamar.”
“Kenapa kau menjadi mesum seperti ini,” ucap Sharin dengan debaran jantung yang tidak karuan.
“Aku mencintaimu, Sharin.” Biao mengecup pucuk kepala Sharin sebelum turun ke hidung. Pria itu terus saja memberi kecupan mesra di seluruh wajah Sharin. Hingga akhirnya ciumannya berlabuh pada bibir Sharin.
“Apa dia berlatih di alam mimpi hingga bisa menjadi ahli seperti ini dalam menggoda wanita?” gumam Sharin di dalam hati.
Sharin menggenggam seprei yang ia tiduri dengan perasaan takut-takut. Jika tadi malam ia berhasil lolos, kemungkinan besar pagi ini tidak lagi. Tidak ada waktu untuk menunda. Ia juga tidak ingin menyiksa suaminya terus-terusan. Hubungan seperti itu memang sudah menjadi hal yang wajar bagi pasangan yang sudah menikah.
Ciuman Biao benar-benar terasa lembut dan dipenuhi perasaan. Hal itu juga yang membuat Sharin melayang dan merasa tenang. Satu persatu kancing piyama yang di kenakan Sharin mulai lepas. Hingga tanpa di sadari, mereka berdua sudah berpenampilan polos tanpa sehelai benangpun.
Sharin hanya bisa memejamkan mata saat waktunya telah tiba. Wanita itu sudah siap memberikan dirinya kepada pria yang kini ada di atas tubuhnya. Suaminya, cinta sejatinya bahkan pria yang akan selalu menemaninya hingga tua nanti.
“Aku mencintaimu, Sharin,” ucap Biao sebelum melanjutkan cumbuannya.
Gairah mereka sudah ada dipuncak. Sudah sulit untuk di tahan lagi. Akhirnya merekapun menyatukan diri mereka. Sharin merasakan sakit yang luar biasa saat itu. Cairan merah segar juga keluar sebagai tanda kehormatannya yang telah hilang.
Biao menahan gerakannya. Pria itu memberi kesempatan kepada istrinya untuk bisa menerima dirinya di dalam sana. Mata mereka saling memandang dengan penuh cinta. Sharin mengusap lembut pipi Biao sebelum mengukir senyuman. Sebisa mungkin ia memasang wajah baik-baik saja walau sebenarnya sakit itu masih terasa jelas.
“Aku mencintaimu,” ucap Biao sebelum mendaratkan satu kecupan di bibir Sharin.
Setelah cukup lama menyatu, akhirnya mereka mencapai puncaknya masing-masing. Biao menyiram ****** ***** di dalam rahim istrinya. Tubuh mereka di penuhi keringat sebelum akhirnya Biao melepaskannya. Ia berbaring di samping Sharin dengan napas yang terputus-putus.
Sepasang suami istri yang baru melewati percintaan pertama mereka terlihat bingung mau melakukan apa lagi. Langit di luar semakin terang karena matahari juga sudah mulai tinggi. Jam sudah hampir menunjukkan jam Sembilan pagi. Mereka berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Masih di bawah selimut yang sama.
Walaupun hari libur, tapi tetap saja mereka harus segera bangun untuk mandi dan sarapan.
“Aku mau minum,” ucap Sharin sebelum duduk di atas tempat tidur.
“Biar aku ambilkan,” ucap Biao dengan cepat. Pria itu turun dari tempat tidur lalu mengenakan celana pendek. Ia berjalan ke arah meja lalu mengambil air putih untuk Sharin. Biao naik lagi ke atas tempat tidur lalu menyerahkan gelas berisi air putih itu kepada Sharin.
“Kau bilang tidak tahu cara melakukannya. Kenapa melakukannya hingga cukup lama seperti itu,” protes Sharin sambil meneguk air putih yang baru saja di berikan Biao.
Biao menyeringai lalu menggaruk kepalanya. Tidak tahu mau bicara apa lagi pagi itu. Semua yang diucapkan istrinya memang benar adanya.
“Aku mau ke kamar mandi,” ucap Sharin sebelum meletakkan gelas kosongnya di atas nakas. Kakinya ia turunkan satu persatu sebelum duduk di tepian tempat tidur.
Satu pemandangan yang cukup membuatnya merasa geli. Mereka melepas seluruh pakaian di atas tempat tidur. Tapi, sekarang pakaian itu terlihat berserak dilantai yang cukup jauh dari tempat tidur. Sharin sendiri tidak bisa menjangkau pakaiannya.
Secara tiba-tiba Biao membungkus tubuh Sharin dengan kemeja putih miliknya. Pria itu memeluk tubuh Sharin dari belakang sebelum mengancing satu persatu kancing kemeja yang melekat di tubuh Sharin.
Sharin mengukir senyuman. Wanita itu mengecup pipi Biao yang berada tidak jauh dari bibirnya, “Terima kasih, Sayang.”
Biao mengangguk sebelum melepas pelukannya. Dahinya harus mengeryit saat melihat Sharin berdiri lalu meringis kesakitan. Dengan sigap pria itu turun dari tempat tidur dan mengangkat tubuh Sharin ke dalam gendonganya.
“Biar aku bantu,” ucap Biao sebelum berjalan ke arah kamar mandi.
Sharin menenggelamkan kepalanya di dada telanjang suaminya. Tangannya mencengkram kuat otot-otot lengan Biao yang terlihat. Ada rasa malu dan bahagia yang melebur menjadi satu.
“Turunkan aku di sini,” ucap Sharin dengan suara pelan saat mereka telah tiba di dalam kamar mandi.
Biao menurunkan tubuh Sharin dengan hati-hati. Pria itu bersandar di dinding dengan kedua tangan terlipat di dada. Memperhatikan setiap lekuk tubuh seksi istrinya.
“Kenapa masih di sini?” ucap Sharin malu-malu.
“Aku sudah melihat semuanya. Kenapa kau masih mau menutupinya dariku,” protes Biao. Ia tidak suka jika harus di usir keluar dari kamar mandi.
“Itu berbeda,” jawab Sharin sambil menunduk.
Biao menghela napas. Pria itu memejamkan matanya, “Cepatlah. Aku tidak akan mengintip. Aku hanya takut kau tidak bisa berjalan ke tempat tidur.”
“Kau pria mesum!” teriak Sharin lalu menyiram tubuh Biao dengan shower yang baru saja ia temukan. Sharin sengaja menyetel air itu dengan air hangat karena ia tahu kalau Biao tidak terlalu suka air hangat.
“Sharin, apa yang kau lakukan!” protes Biao sebelum menahan tangan Sharin.
Sharin tertawa kegirangan saat melihat Biao basah kuyup. Ada hiburan tersendiri bagi Sharin saat berhasil mengerjai suaminya. Tapi, posisinya setelah itu seakan tidak nyaman lagi. Biao menarik kran shower yang ada di atas kepala Sharin hingga mereka berdua harus basah bersama.
Air itu cukup dingin hingga membuat Sharin berhambur ke dalam pelukan Biao, “Kau suami yang cukup menyebalkan.”
Biao tersenyum puas sebelum membalas pelukan Sharin. Mengecup wajah wanita itu berulang kali, “Terima kasih, Sharin. Aku sangat mencitaimu.”
“Aku juga sangat mencintaimu,” jawab Sharin sambil mempererat pelukannya.
Mandi pagi itu tidak lagi sama dengan mandi-mandi sebelumnya. Karena drama percintaan mereka kembali berlanjut di dalam kamar mandi berukuran luas tersebut.
.
.
.
Tidak pernah di sangka, kalau malam pertama mereka justru terjadi di pagi hari. Bukan malam pertama lagi namanya. Pagi pertama. Hahaha…
Like dan Komen, terima kasih.