Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 72



Pagi yang indah dan cerah. Dokter Adit baru saja tiba di dalam kamar Biao. Ia berjalan ke arah jendela untuk membuka gorden kamar tersebut. Cahaya matahari sudah menembus masuk ke dalam ruangan milik Biao. Sambil memegang alat medisnya, Adit menghela napas kasar.


Di depan matanya telah tersaji pemandangan yang cukup membuat iri jiwa jomblo. Sharin dan Biao tidur saling berpelukan di atas tempat tidur pasien. Ada satu selimut yang menutupi tubuh sepasang kekasih itu. Biao membiarkan lengannya menjadi bantal bagi kepala Sharin.


Tadi malam, setelah puas bercanda ria, Sharin dan Biao memutuskan untuk tidur di jam lima pagi. Biao melarang Sharin kembali ke tempat tidurnya. Ukuran tempat Biao memang besar dan cukup menampung dua orang. Hal itu membuat Sharin juga mengurungkan niatnya untuk kembali pada tempat tidur miliknya.


“Sepertinya mereka lupa kalau mereka masih pasien di sini,” ucap Adit sambil meletakkan alat medisnya di atas nakas. Pria itu tidak mau mengganggu Sharin dan Biao. Tapi, pemeriksaan kepala Biao harus ia lakukan di pagi itu.


Secara perlahan, Adit menyentuh lengan Biao. Pria itu menaikan satu alisnya saat Biao justru menyingkirkan tangannya lalu memeluk Sharin lebih erat lagi.


“Sepertinya pasienku satu ini memang cari rebut!” umpat Adit kesal. Pria itu menarik selimut yang digunakan Biao dan Sharin untuk menutupi tubuh mereka.


Pergerakan selimut itu membuat Sharin dan Biao membuka mata secara perlahan. Sepasang kekasih itu menatap wajah Adit dengan tatapan yang belum jelas. Mata mereka masih terasa berat karena hanya tidur beberapa jam saja. Ruangan yang dingin dengan cahaya yang pas membuat Sharin dan Biao ingin melanjutkan tidur mereka lagi.


“Bagun!” teriak Adit semakin kesal. Kedua tangannya ia letakkan di pinggang sebagai luapan rasa kesalnya pagi itu. Jika saja pasien yang ada di depan matanya bukan sahabat terdekatnya, mungkin ia sudah meninggalkannya sejak tadi.


“Apa kau tidak bisa untuk tidak menggangguku pagi ini, Adit,” ucap Biao dengan mata masih terpejam.


Sharin membuka mata saat mendengar kalimat yang diucapkan oleh Biao. Wanita itu segera membuka lebar kedua matanya. Saat melihat Adit berdiri ia segera bergerak dan menjauh dari tubuh Biao.


Bruakk.


Sharin terjatuh dari tempat tidur, “Aduh sakit,” ucapnya dengan suara lirih. Satu tangannya mengusap pinggangnya yang terasa sakit.


“Sayang, apa yang kau lakukan?” ucap Biao. Pria itu segera beranjak dari tidurnya. Namun, dalam sekejab kepalanya terasa sakit luar biasa. Gerakan secara tiba-tiba itu memang tidak boleh ia lakukan. Kepalanya seakan tertinggal di bantal saat itu. Dengan kedua tangannya, Biao memegang kepalanya.


“Apa yang kau lakukan! Aku sudah bilang jangan bergerak tiba-tiba seperti itu,” ucap Adit dengan wajah khawatir. Tadinya ia ingin tertawa riang melihat Sharin jatuh dari tempat tidur. Tidak di sangka adegan selanjutnya yang ia lihat justru membuat hatinya di penuhi kekhawatiran.


Sharin mendongakkan ke atas. Wanita itu segera berdiri saat melihat Biao menahan sakit. Kedua tangannya memegang kedua sisi pipi Biao dengan wajah khawatir.


“Paman Tampan, maafkan aku,” ucap Sharin dengan penuh rasa bersalah.


Biao menahan rasa sakitnya saat mendengar kalimat yang di ucapkan Sharin. Pria itu mengusap lembut pipi Sharin dengan wajah khawatir juga, “Apa kau baik-baik saja?”


Sharin mengangguk pelan, “Aku baik-baik saja. Hanya sakit sedikit,” ucap Sharin sambil tersenyum menyeringai.


“Syukurlah,” ucap Biao sebelum menarik tubuh Sharin ke dalam pelukannya.


Sharin mengukir senyuman saat mendapat pelukan dari Biao. Wanita itu juga membalas pelukan Biao dengan hati berbunga-bunga.


Adit lagi-lagi harus menghela napas. Hati yang tadinya panik dan khawatir kini telah berubah lagi menjadi kesal, “Apa kalian bisa menghentikan drama romantis ini? Aku masih di sini dan bisa melihat jelas apa yang kalian lakukan.”


Sharin melepas pelukannya, begitu juga Biao. Pria itu menatap wajah Adit dengan sorot mata yang tajam. Sangat berbeda jauh ketika kedua bola matanya memandang wajah Sharin, “Kau sudah menikah. Kenapa masih iri dengan kami yang belum menikah.”


“Siapa yang iri, Biao!” teriak Adit tidak terima. Sepertinya memang butuh kesabaran ekstra bagi Adit untuk menghadapi pria seperti Biao.


Adit menghela napas untuk meredam emosinya. Ia berjalan ke arah nakas untuk meraih peralatan medis miliknya. Sekilas ia melirik Biao dengan wajah kesal sebelum memeriksa keadaan Biao pagi itu.


Sharin mencengkram kuat tangan Biao dengan wajah khawatir. Walau Biao bilang tidak sakit. Tapi, hal itu bisa terlihat jelas dari ekspresi wajahnya. Wajah Biao terlihat menahan sakit saat Adit kembali memeriksa bekas operasinya.


“Luka ini semakin basah,” ucap Adit dengan wajah yang cukup serius.


Biao melirik Sharin. Kini wanita yang berdiri di sampingnya sudah terlihat sedih. Ada air mata yang terbentung di pelupuk matanya, “Aku baik-baik saja.”


“Jangan berbohong. Jika sakit katakan sakit. Seorang pria juga boleh mengatakan sakit di depan wanita. Aku tidak akan pernah mengatakan pria yang sakit sebagai pria yang lemah.” Sharin duduk di tepian tempat tidur.


Biao mengukir senyuman, “Tidak sesakit saat kau menolakku dulu.”


“Jangan bercanda lagi,” ucap Sharin dengan suara serak. Air matanya yang tertahan sejak beberapa detik yang lalu telah menetes deras membasahi wajahnya, “Kau harus cepat sembuh.”


Adit memandang wajah Sharin sekilas sebelum melanjutkan pemeriksaannya. Hatinya juga tersentuh saat mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Sharin. Semakin hari Adit semakin yakin, kalau Biao telah memilih wanita yang tepat. Memang wanita seperti Sharin yang cocok ada di samping Biao.


“Aku akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut lagi. Aku harus membawamu ke ruangan radiologi,” ucap Adit sambil merapikan alat medisnya, “Sharin, kau tetap di sini dan beristirahat. Jangan banyak gerak seperti tadi karena jahitanmu juga belum kering.” Adit menekan tombol yang ada ditepian tempat tidur Biao untuk memanggil beberapa perawat yang akan membantunya membawa Biao ke ruangan Radiologi.


“Baik, Dokter Adit.” Sharin menatap wajah Biao lalu mengusap lembut punggung tangan pria itu, “Kau akan baik-baik sajakan?”


Biao mengangguk, “Aku akan baik-baik saja.”


Dokter sarah muncul bersama dengan beberapa perawat yang membawa brangkar. Dokter wanita itu mengukir senyuman ramah sebagai ciri khasnya, “Selamat pagi, Dokter Adit. Maaf saya sedikit terlambat pagi ini.”


Dokter Adit mengangguk pelan, “Kita harus segera memeriksa kepala Biao.”


Dokter Sarah memandang wajah Sharin yang kini berdiri di samping tempat tidur Biao, “Nona Sharin, apa anda bisa berbaring? Saya ingin memeriksa luka anda.”


Sharin mengangguk pelan. Wanita itu memandang wajah Biao sekilas sebelum berjalan ke tempat tidurnya. Wajahnya tetap di selimuti khawatir saat melihat Biao masih merasakan sakit.


“Tidak ada yang aku inginkan saat ini selain kesehatannya,” gumam Sharin di dalam hati.


.


.


.


Aku bagi konflik ringan di Biao's Lovers, katanya kurang greget. 🤣 Aku mau belajar buat cerita yang bisa buat pembaca tenang gak tahan napas Mulu. . walau jari ini pengennya ngetik yang buat jantungan Mulu.


Like dan Komen menentukan up selanjutnya... 🥰