Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 81



Pagi yang cerah. Matahari sudah kembali muncul hingga membuat embun pagi hilang secara perlahan. Biao bangun lebih dulu pagi itu. Hari kedua pernikahan, masih terasa sangat membahagiakan. Hanya dengan melihat Sharin tertidur pulas di sampingnya saja sudah cukup membuat Biao bahagia.


Biao menatap wajah Sharin yang masih tertidur dengan senyuman. Satu tangannya menopang kepala yang bertumpu di atas bantal. Satu tangannya yang lain mengusap lembut rambut Sharin. Pagi ini istrinya tidak melakukan hal-hal aneh. Sharin tertidur dengan lelap dengan posisi yang cukup nyaman. Sesekali bibirnya mengukir senyuman seolah sedang bermimpi indah.


“Apa lagi yang aku harapkan. Bahkan melihat wajahmu saat tertidur seperti ini sudah membuatku sangat bahagia.” Biao mendaratkan satu kecupan cinta di pucuk kepala Sharin.


Secara perlahan, Sharin membuka mata. Wanita itu mengukir senyuman yang cukup indah saat melihat wajah Biao yang pertama kali ia lihat saat bengun tidur, “I love you,” ucap Sharin dengan suara yang masih serak.


“I love you to,” jawab Biao sambil mengusap lembut pipi Sharin.


Sharin mendekati posisi Biao. Wanita itu masih belum mau beranjak dari tidurnya. Ia lebih memilih masuk ke dalam pelukan Biao. Pelukan pria itu cukup hangat dan menyejukkan hati. Sharin sangat suka berada di dalam pelukan Biao. Waktu seakan terhenti. Sharin tidak ingin menjauh dari Biao hingga ia benar-benar puas berada di dalam pelukan Biao.


“Sharin, nanti siang aku ingin membawamu ke suatu tempat,” ucap Biao sambil mengusap lembut punggung Sharin.


“Kemana?” tanya Sharin sambil mendongakkan kepalanya.


“Kejutan,” jawab Biao dengan senyum menyeringai.


“Sejak kapan kau suka membuat kejutan seperti itu?” ucap Sharin sambil mencubit pipi Biao dengan gemas.


Biao menahan tangan Sharin yang ada di pipinya. Pria itu mendaratkan satu kecupan di tangan Sharin dengan penuh cinta. setelah mencium tangan Sharin,ia meletakkan tangan itu di lehernya. Ciumannya terus berpindah ke bibir Sharin yang merah dan basah. Posisi Sharin memang cukup pas hingga memudahkan Biao mengecup bibirnya dengan begitu bebas.


Sharin memejamkan mata saat sentuhan Biao memang membuatnya nyaman. Wanita itu membalas ciuman Biao dengan lembut namun masih tetap malu-malu. Bahkan di saat bibir mereka bersentuhan, Sharin terlihat kesulitan untuk mengatur napasnya.


Pagi yang indah di hari-hari pernikahan mereka memang seperti di kelilingi bunga-bunga bermekaran. Selain saling mencintai, sepasang pengantin baru itu terlihat saling memahami satu sama lain.


***


S. G Group.


Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Sharin dan Biao sudah tiba di gedung S.G. Group. Setelah cukup lama menghilang, hari ini kemunculan Sharin dan Biao yang terlihat bersamaan memang berhasil mencuri perhatian semua karyawan S.G. Group.


Tidak terkecuali Edo. Pria itu berdiri sambil memandang wajah Sharin. Sudah satu minggu ia mencari keberadaan Sharin. Info terakhir yang ia dapat kalau Sharin menemani Biao untuk menyelesaikan masalah di negara lain. Tapi, Edo tidak percaya begitu saja. Ia ingin mendengar kebenaran semua kabar yang ia dengar langsung dari orang yang bersangkutan.


“Sharin,” teriak Edo dari kejauhan.


Sharin melirik wajah Edo sekilas sebelum memandang ke arah depan lagi. Ia tidak terlalu akrab dan tidak mau akrab dengan orang lain lagi. Apa lagi seorang pria. Di tambah lagi, saat ini ia sudah menikah dengan Biao. Sharin juga sangat menghargai bagaimana perasaan suaminya saat ini.


Edo yang terlihat di abaikan oleh Sharin memasang wajah kecewa. Pria itu memutar tubuhnya dan mengurungkan niatnya untuk mengganggu Sharin. Ada Presdir Bo di dekat Sharin. Ia tidak ingin mencari masalah kepada atasannya yang di kenal kejam tersebut.


Sharin berjalan cepat mengikuti Biao yang berjalan cepat juga di hadapannya. Sesekali Sharin memberanikan diri untuk memandang wajah karyawan S.G. Group yang sedang memandangnya. Semua ini terjadi karena permintaan Sharin sendiri.


Biao yang berjalan dengan wajah tenang merasa bahagia karena berhasil meninggalkan Sharin jauh di belakangnya. Ia sengaja berjalan cepat agar Sharin kerepotan mengimbangi langkah kakinya. Teriakan Edo tadi juga tidak terdengar oleh Biao karena ia terlalu sibuk meninggalkan Sharin jauh di depan.


“Presdir Bo. Apa anda tidak bisa untuk berjalan sedikit lambat? Saya mengenakan high heels hingga tidak mudah mengikuti langkah kaki anda yang panjang itu,” protes Sharin sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang.


“Seperti itu langkahku setiap hari,” jawab Biao dengan senyum tertahan.


Sharin membuang tatapannya dengan wajah kesal. Wanita itu tidak tahu harus berbicara apa lagi. Di dalam lift juga ada camera cctv. Sharin tidak mau aktingnya ketahuan begitu cepat.


Biao yang memang sengaja memancing Sharin terlihat menahan tawa. Walaupun ia sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi nanti setelah ia tiba di lorong yang menghubungkan ruangan kerjannya.


Pintu lift terbuka. Sharin berjalan lebih dulu dengan wajah masih kesal. Suara high heelsnya terdengar dengan begitu jelas hingga memenuhi lorong yang sunyi. Biao mengukir senyuman kecil sebelum mengikuti langkah kaki istrinya dari belakang. Pria itu melirik setiap sudut langi-langit lorong yang telah di pasang camera cctv. Ia kembali ingat kalau khusus lantai itu, cctvnya hanya Biao yang bisa melihat hasil rekamannya.


“Sayang, maafkan aku. Apa kau marah?” teriak Biao. Ia merasa tidak perlu lagi berakting karena tidak ada lagi yang melihat mereka saat ini.


Sharin menghentikan langkah kakinya. Wanita itu memutar tubuhnya dengan cepat. Wajahnya tampak sangat serius, “Sayang? Presdir Bo, apa yang anda katakan. Apa anda sedang bermimpi?”


“Sayang, kenapa harus-”


“Presdir Bo, apa kekasih anda pergi meninggalkan anda hingga anda mengigau seperti itu?” ucap Sharin sambil memberi kode kepada Biao.


Biao menghentikan langkah kakinya. Pria itu memutar tubuhnya untuk melihat ke arah pandangan Sharin. Betapa kagetnya ia saat melihat ada dua office boy yang sedang membersihkan lorong tersebut. Dua pria itu menunduk takut saat Biao memandangnya.


“Apa yang kalian lakukan di sini? Sejak kapan aku mengijinkan orang menginjak lantai ini saat aku telah ada di kantor,” ucap Biao dengan wajah kesal.


“Maafkan kami, Presdir Bo. Tuan Tama meminta kami untuk memersihkan ruangan ini. Kami tidak tahu kalau anda sudah kembali masuk kerja.”


Dua office boy yang ada di lorong itu menunduk takut. Mereka tidak pernah bermimpi bisa bertemu dengan Biao pagi itu. Sorot mata Biao yang cukup tajam memang sangat menakutkan.


Biao menghela napas, “Pergilah. Apapun yang kalian dengar tidak boleh kalian ingat atau kalian katakan pada yang lain. Kalian pasti tahu resikonya,” sambung Biao sebelum memutar tubuhnya. Pria itu berjalan cepat menuju ke ruang kerjanya, “Dan kau. Cepat selesaikan pekerjaanmu,” ucap Biao kepada Sharin.


“Baik, Presdir Bo,” jawab Sharin dengan tawa tertahan dan kepala menunduk.


Setelah melihat dua office boy itu pergi, Sharin juga mulai berjalan menuju ke ruang kerja Biao. Hatinya cukup bahagia karena bisa kembali bekerja. Walaupun di lubuk hati yang paling dalam merasa khawatir atas dua office boy yang sempat mendengar perkataan Biao.


.


.


.


Like, komen jangan lupa...