
Beberapa jam kemudian.
Sharin dan Biao sudah ada di dalam ruang kerja yang ada di S.G. Group. Sharin merapikan beberapa berkas yang diperlukan oleh Biao. Wanita itu terlihat sangat teliti saat membantu suaminya. Sesekali bibirnya tersenyum ramah.
“Sudah selesai. Kau sudah bisa berangkat sekarang,” ucap Sharin sambil meletakkan beberapa berkas yang sudah rapi di atas meja.
Biao duduk dengan santai di kursi hitamnya. Pria itu bahkan memutar-mutar kursi kerjanya. Melirik sekilas ke arah berkas sebelum menarik tangan Sharin. Hingga akhirnya tubuh Sharin menindi*h tubuh Biao. Membuat wajah mereka saling berhadapan.
“Aku mencintaimu,” ucap Biao pelan. Pria itu mendaratkan satu kecupan singkat di bibir Sharin, “Jangan terlalu lama menemui pria lain saat aku tidak ada.”
Sharin mengukir senyuman sambil mengangguk cepat, “Siap laksanakan, Bos.”
Biao memeluk tubuh Sharin untuk beberapa saat. Pria itu memejamkan mata sambil memikirkan pekerjaan yang akan ia hadapi di luar sana, “Aku pasti akan memenangkannya.”
“Ya. Kau yang paling hebat. Aku akan menunggumu di rumah,” jawab Sharin masih dengan kepala di atas pundak Biao.
“Aku harus pergi,” ucap Biao sambil melepas pelukannya dari pinggang Sharin.
Sharin berdiri di samping kursi Biao. Wanita itu memandang Biao yang sudah berdiri dan merapikan penampilannya. Satu kecupan di pucuk kepala kembali ia dapatkan sebelum Biao melangkah pergi.
Sharin menjatuhkan tubuhnya di kursi kerja Biao. Menatap punggung Biao yang sudah menjauh dan hilang di balik pintu, “Semangat Sharin. Aku juga pasti bisa menyelesaikan semua proyek yang kini aku tangani.”
Sharin mulai terlihat sibuk untuk melanjutkan pekerjaannya dan pekerjaan Biao yang belum selesai. Walau tubuhnya terasa lelah, tapi ia tetap bersemangat. Di sela-sela kesibukan yang terjadi Sharin kembali ingat dengan Edo. Wanita itu bertekad untuk menemui Edo dan menjelaskan semuanya.
Sharin melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan jam makan siang. Wanita itu memutuskan untuk makan siang di kantin sebelum menemui Edo nantinya. Sudah cukup lama ia tidak mencoba masakan kantin.
“Kalian baik-baik di sini karena aku mau makan siang,” ujar Sharin kepada berkas-berkas yang menupuk. Tidak lupa ia menepuk pelan berkas-berkas tersebut seperti seorang yang ia sayangi.
Sharin berjalan pergi meninggalkan ruangan kerja bertuliskan Presdir Bo. Wanita itu mengukir senyuman sambil berjalan santai menuju lift. Tidak ada yang aneh saat ia masih berada di lantai yang di kuasai Biao. Namun, keadaan terasa berbeda saat pintu lift terbuka kembali.
Sharin keluar dari dalam lift dengan perasaan aneh. Semua mata kini memandangnya dengan tatapan mencela. Tidak jarang ia mendengar bisikan yang justru di sengaja agar terdengar. Bahkan beberapa orang yang berpapasan dengan Sharin lebih banyak menunduk dengan senyuman menghina.
Sharin memandang Edo yang duduk di salah satu kursi kantin. Pria itu membuang tatapannya ke arah lain saat melihat kehadiran Sharin.
“Aku harus bisa bersabar. Sedikit lagi semua akan segera berakhir,” gumam Sharin di dalam hati.
Sharin berjalan dengan wajah yang cukup tenang ke arah meja Edo. Memang pria itu yang pertama kali ingin ia beri tahu. Setidaknya ia sudah cukup paham kalau Edo sebenarnya pria yang baik.
“Apa aku boleh duduk di sini?” ucap Sharin sambil menunjuk ke arah kursi yang ada di hadapan Edo.
“Duduk saja. Tidak ada yang bisa melarangmu,” jawab Edo ketus. Pria itu masih marah dan kecewa atas sikap Sharin yang suka menghindarinya.
“Amelia mau membunuhku waktu itu. Tidak ada yang tahu, selain Presdir Bo. Kami juga merahasaiakan kematiannya setelah itu. Kau boleh melaporkannya jika memang ingin memasukkanku ke dalam penjara.” Sharin mengambil tisu lalu menyobeknya menjadi serpihan kecil, “Setelah itu aku menutup diri untuk tidak mengenal orang baru. Itu cukup membuat trauma.”
Edo menatap wajah Sharin dengan seksama. Untuk alasan pertama yang menyebabkannya selalu menghindar memang masuk akal. Sebelum di ceritakan oleh Sharin, Edo sendiri sudah mendengar kabar yang mengatakan Amelia ingin membunuh Sharin.
“Presdir Bo, kenapa dia bisa ada di dalam apartemenmu. Malam-malam lagi,” sambung Edo yang terlihat mulai luluh dengan Sharin. Pria itu mengambil jus jeruk yang ada di depan matanya.
“Bukan hanya ada di kamarku. Bahkan kami tidur di satu tempat tidur yang sama setiap malam,” jawab Sharin dengan wajah santai.
Edo tersedak ketika mendengar penjelasan Sharin. Pria itu mengambil tisu lalu membersihkan mulutnya. Sorot matanya terlihat tidak percaya, saat Sharin menceritakan aibnya sendiri dengan begitu bangga.
“Apa kau sadar dengan apa yang kau capkan, Sharin?” celetuk Edo dengan wajah yang cukup serius.
Sharin menatap wajah Edo sekilas sebelum menatap pelayan yang membawa makanannya. Wanita itu mencicipi minuman yang segar sebelum memegang garpu dan sendok, “Dia suamiku.”
“What!” teriak Edo histeris.
Sharin melanjutkan makan siangnya. Sudah seharusnya Edo tahu agar pria itu tidak salah paham dengannya. Sisanya, mungkin akan menyusul dalam waktu dekat. Begitulah kira-kira jalan pikiran Sharin.
“Kenapa kalian merahasiakan hubungan kalian?” Suara Edo merendah. Ia juga tidak ingin yang lain mendengar perbincangan mereka.
“Aku meminta satu proyek. Aku ingin menyelesaikannya untuk menguji kemampuan yang aku miliki. Tanpa bantuan Presdir Bo sama sekali. Aku ingin menjadi wanita yang berguna untuknya. Walau aku tidak tahu berhasil atau tidak,” jawab Sharin dengan bibir tersenyum.
“Kau wanita yang hebat,” sambung Edo dengan senyuman, “Sharin, maafkan aku karena sudah salah paham padamu. Sejak awal aku sudah tahu kalau kau wanita yang cukup berbakat dan pintar. Kau pasti bisa menjadi orang yang di pandang semua orang. Bukankah hasilnya akan bisa di ketahui dua minggu lagi? Aku cukup tahu proyek yang sekarang kau tangani.”
Sharin mengangguk, “Aku hanya merahasiakan hubungan kami selama stau bulan. Aku pikir itu tidak terlalu lama sampai proyek yang aku tangani berhasil.”
“Sharin, aku sempat tertarik padamu. Tapi, setelah aku tahu kau sudah menjadi milik pria lain, Aku tidak lagi berani mendekatimu. Maafkan aku,” ucap Edo dengan hati yang tulus.
Sharin mengukir senyuman sebelum melanjutkan makan siangnya. Baginya masalah dengan Edo telah selesai. Tidak ada lagi beban atau rasa bersalah di dalam hatinya.
“Seandainya saja aku yang lebih dulu mengenalmu, maka aku pasti bisa memenangkan hatimu,” ucap Edo dengan penuh rasa percaya diri.
“Itu juga belum tentu berhasil. Ada banyak pria kaya dan tampan yang suka denganku,” jawab Sharin dengan tawa kecil.
“Ya. Aku percaya dengan apa yang kau katakan. Kau cantik dan berprestasi, cukup sulit mencari wanita sepertimu di dunia ini.” Edo tertawa renyah sambil menatap wajah Sharin.
“Kau memang pria yang baik Edo,” gumam Sharin di dalam hati.
Mereka melanjutkan makana siang dengan tawa bahagia. Hubungan Edo dan Sharin sejak hari itu adalah pertemanan. Walau memang di dalam hati Sharin tidak ada hal lain yang harus menjadi penting selain Biao. Sama halnya dengan Edo. Ia pria yang baik. Penjelasan Sharin juga membuatnya menjadi lebih menjaga jarak dengan Sharin. Ia juga tidak suka dekat dengan wanita yang sudah menikah.