
Sharin terbangun saat merasakan seseorang berdiri di samping tempat tidurnya. Ada satu perawat wanita yang sedang mengganti cairan infus. Di samping tempat tidur Biao juga ada Dokter Sarah yang memeriksa keadaan terbaru Biao saat ini.
“Pagi, Nona Sharin. Anda sudah bangun? Bagaimana keadaan anda pagi ini? Apa sudah terasa jauh lebih baik?” Dokter Sarah mengukir senyuman ramah sambil memandang wajah Sharin.
“Keadaan saya sudah jauh lebih baik, Dok.” Sharin berusaha duduk. Perawat yang ada di samping tempat tidur membantu Sharin untuk duduk.
“Sharin, Tuan Tama sudah sadar beberapa saat yang lalu. Dokter masih memeriksa keadaannya saat ini.”
Sharin mengukir senyum bahagia karena Tama telah kembali membuka mata. Namun, wajahnya kembali berubah sedih saat melihat Biao yang masih setia dengan tidur lelapnya, “Kapan dia bangun?”
Dokter Sarah kembali memandang wajah Biao saat mendengar pertanyaan dari Sharin, “Bisa hari ini, bisa juga besok, bisa juga dua hari lagi. Tapi, ia akan segera sadar. Kondisinya sudah jauh lebih baik. Tidak ada yang perlu kita khawatirkan lagi.”
“Terima kasih, Dok,” ucap Sharin pelan. Wanita itu kembali ingat dengan Dokter Adit, “Dok, di mana Dokter Adit?”
“Dokter Adit akan segera datang. Ia masih di dalam perjalanan.” Dokter Sarah memandang wajah perawat yang ada di samping Sharin, “Kau tetap di sini untuk menemani Nona Sharin.”
“Baik, Dokter,” ucap perawat itu.
Suara pintu terbuka. Dokter Sarah dan Sharin memandang ke sumber suara secara bersamaan. Tama berdiri di depan pintu dengan wajah sedihnya. Lelaki itu berjalan secara perlahan untuk masuk ke dalam kamar. Ada seorang perawat yang memeganginya agar tidak terjatuh.
“Paman Tama ....” ucap Sharin dengan wajah sedih.
“Sharin, kau baik-baik saja?” Tama berusaha sekuat mungkin agar bisa segera mendekati tempat tidur Sharin. Setelah tiba di samping tempat tidur Sharin, ia segera memeluk Sharin. Wajahnya benar-benar sedih saat membayangkan musibah yang baru saja menimpahnya, “Aku sangat mengkhawatirkanmu, Sharin.”
Tatapan Tama teralihkan pada Biao yang masih belum membuka mata. Lelaki itu melepas pelukannya lalu berjalan mendekati Biao. Satu tangannya menggenggam tangan Biao. Air mata menetes karena hatinya lagi-lagi harus bersedih melihat sahabat terbaiknya terbaring lemah tak berdaya.
“Paman tampan belum mau bangun. Aku sangat mengkhawatirkannya, Paman,” ucap Sharin sambil menghapus buliran air mata yang telah terjatuh.
Dokter Sarah menghela napas saat melihat setiap orang yang kini meneteskan air mata, “Sebaiknya kita berdoa agar Tuan Biao segera bangun.”
“Ini pertama kalinya aku melihatnya terbaring lemah seperti ini,” ucap Tama pelan.
“Ada saatnya dimana yang selalu sehat akan merasakan sakit,” ucap Dokter Sarah dengan senyuman, “Saya permisi dulu. Ada banyak pasien yang ingin saya periksa. Perawat ini akan membantu Sharin jika membutuhkan sesuatu.”
“Terima kasih, Dokter,” ucap Tama dengan suara pelan.
“Sama-sama.” Dokter Sarah pergi meninggalkan ruangan itu. Ia cukup lega karena pasiennya masih ada di rumah sakit dan dalam keadaan baik.
Sharin mulai menggerakan kakinya. Ia juga ingin berjalan seperti Tama. Wanita itu tidak ingin bantuan kursi roda untuk berjalan. Ia ingin berjalan dengan kaki untuk posisi Biao saat ini.
“Sharin, apa yang kau lakukan?” ucap Tama sambil mengeryitkan dahi. Lelaki itu memandang Sharin dengan tatapan protes, “Kau masih sakit. Jangan terlalu memaksakan diri.”
“Tuan, Dokter bilang anda hanya boleh mengunjungi Tuan Biao sebentar saja. Anda harus kembali ke kamar untuk beristirahat.” Perawat yang datang bersama dengan Tama kembali mengingatkan lelaki itu.
Tama menghela napas. Ia masih ingin ada di dalam ruangan itu. Tapi, sejak awal ia sudah berjanji kepada Dokter yang merawatnya untuk kembali ketika sudah selesai melihat keadaan Sharin dan Biao.
“Paman Tama, sebaiknya Paman segera kembali untuk beristirahat. Oh, Iya. Apa Paman sudah menghubungi Tante Anna?” tanya Sharin dengan wajah penuh semangat.
“Sudah. Mereka akan berangkat nanti sore mungkin akan tiba besok pagi. Anna akan datang bersama dengan Tuan dan Ny. Edritz. Tuan Daniel dan Nona Serena tidak bisa ikut karena anak mereka sedang sakit.” Tama menatap wajah perawat yang ada di dalam ruangan itu, “Tolong jaga Keponakan dan Sahabat saya. Saya akan membayar anda lebih besar dari gaji yang anda dapat saat bekerja di rumah sakit ini.”
“Baik, Tuan. Terima kasih atas kemurahan hati anda,” ucap Perawat itu dengan wajah bahagia.
Tama memandang wajah Biao lagi beberapa detik sebelum berjalan pergi meninggalkan ruangan itu. Ia ingin tetap berada di dalam ruangan itu. Tapi, keadaannya saat ini jua belum terlalu baik. Tama ingin memulihkan dirinya terlebih dahulu agar ia bisa menjaga Sharin dan Biao nantinya.
Sharin memandang punggung Tama yang sudah menghilang di balik pintu. Wanita itu bisa merasakan kelegahan di dalam hatinya karena melihat Tama sudah sadar. Hanya tinggal Biao satu-satunya orang yang kini memenuhi pikirannya. Ia ingin Biao juga segera sadar dan bangun agar keadaan jauh lebih baik.
Sharin mengambil tangan Biao. Melekatkan telapak tangan pria itu di pipinya, “Bangun, aku sangat merindukanmu.” Sharin mengecup tangan Biao sebelum meletakkannya kembali di samping tempat tidur. Wanita itu memperhatikan setiap inci wajah Biao dengan bibir tersenyum.
“Nona, anda sebaiknya segera sarapan. Setelah itu anda juga harus meminum obat,” ucap Perawat itu sambil menyiapkan makanan dan obat yang harus di konsumsi oleh Sharin. Sharin mengambil piring yang berisi nasi. Wanita itu masih belum mau menjauh dari tempat tidur Biao. Ia ingin makan di samping Biao berbaring. Suapan demi suapan telah masuk ke dalam mulut Sharin.
Tiba-tiba suara pintu terbuka. Pengawal yang selama ini menjaga Sharin muncul dengan beberapa luka di wajahnya, “Nona, jangan di makan!” teriaknya dengan wajah panik.
Piring yang ada di genggaman tangan Sharin terlepas. Tiba-tiba saja semua seperti berputar. Sharin merasakan sakit yang luar biasa pada kepalanya. Wanita itu mencengkram kuat tangan Biao, “Paman Tampan, tolong aku,” ucap Sharin lirih sebelum menjatuhkan kepalanya di atas dada Biao.
Perawat palsu yang berdiri di samping Sharin mengukir senyuman penuh kemenangan. Wanita itu membuka topeng penyamarannya sambil memandang wajah Pengawal yang berdiri di ambang pintu, “Kau terlambat!”
Dari belakang pengawal itu, seorang pria berbadan tegab mendorong tubuhnya. Hingga pengawal itu masuk dan tidak sempat meminta tolong dengan semua orang yang ada di lorong rumah sakit. Satu suntikan ia berikan di leher pengawal itu.
“Apa kalian pikir semudah itu melawan Mr. Paul?” bisik pria itu sebelum mendorong tubuh pengawal yang hampir tidak sadarkan diri itu ke lantai.
Pria itu masuk lalu menarik kursi roda, “Kita harus cepat membawa wanita ini pergi.”
Perawat palsu itu mengangguk pelan. Kedua tangannya mulai mengangkat tubuh Sharin agar duduk di kursi roda. Setelah Sharin ada di kursi roda, ia memasang sebuah topeng di wajah Sharin agar tidak ada yang mengenalinya.
“Bos, bagaimana dengan pria ini?” ucap Wanita itu sambil menatap wajah Biao.
“Mr. Paul bilang untuk membiarkannya hidup. Sekarang yang terpenting kita membawa wanita ini agar segera pergi dari rumah sakit ini. Ada banyak orang yang akan muncul dan mengagalkan rencana kita,” ucap lelaki itu sambil berjalan menuju ke arah pintu.
Vote ya reader.... like dan komen jgn lupa ...