
Biao dan tim yang ia miliki datang di waktu yang sangat cepat. Lelaki itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi tanpa peduli dengan keselamatannya waktu di jalan. Dengan kasar ia mendobrak pintu rumah kumuh yang menjadi tempat Sharin di sekap. Walker berdiri sambil menahan tubuh Amelia.
“Dimana Sharin?” tanya Biao dengan wajah yang sangat panik. Tanpa mau menunggu, pria itu berlari untuk masuk ke dalam kamar dengan pintu terbuka. Hatinya merasa lega saat melihat Sharin baik-baik saja. Ada luka di dahinya akibat pukulan yang di lakukan oleh Amelia. Wanita itu menangis dengan senggugukan dengan rasa takut dan kecewa yang bercampur aduk.
Biao berdiri dengan wajah khawatir di samping Sharin, “Sharin, apa kau baik-baik saja?” ucap Biao dengan suara yang sangat lembut bercampur kecemasan, “Kita akan ke rumah sakit.”
Biao membungkuk di depan Sharin. Mengusap wajah wanita itu dengan mata berkaca-kaca. Dengan cepat ia mengangkat tubuh Sharin dan berjalan menuju ke arah pintu. Sharin membisu tanpa tahu mau mengatakan apa. Ia benar-benar terasa takut. Dengan ragu-ragu ia lingkarkan lengannya di leher pria yang biasa ia panggil paman tampan. Kepalanya yang terasa lelah ia sandarkan di dada bidang pria itu.
Kepalanya terasa sangat perih awalnya. Tapi, saat tubuhnya berada di dalam gendongan Biao semua rasa sakit itu seakan hilang. Tubuhnya merasa nyaman dan terlindungi. Ia bahkan tidak takut lagi jika ada sepuluh wanita seperti Amelia ada di hadapannya.
Biao menghentikan langkah kakinya di depan pintu keluar. Menatap wajah bawahannya dengan tatapan cukup tajam, “Bunuh wanita itu,” perintahnya tanpa ampun.
“Mohon maafkan saya. Jangan lakukan ini pada saya. Sharin. Tolong aku, Sharin.” Amelia berteriak dengan campuran air mata. Wanita itu benar-benar ketakutan kalau hidupnya akan berakhir hari ini.
Sharin hanya diam. Air matanya menetes lagi karena kecewa. Wanita itu memejamkan matanya tanpa mau memandang lagi wajah Amelia. Ia tidak mau mempercayai semua perkataan Amelia.
Biao menunduk untuk menunggu keputusan Sharin. Tapi, wanita yang ada di gendongannya tidak mengeluarkan satu katapun. Hal itu membuat Biao semakin yakin dengan keputusan yang akan ia ambil.
“Selesaikan secepatnya,” sambung Biao. Pria itu melangkah pergi untuk meninggalkan beberapa orang bawahannya.
Walker tertegun mendengar perintah sadis Biao. Beberapa bawahan Biao mengeluarkan sebilah pisau dan siap untuk menusuk tubuh Amelia. Walker semakin ngeri melihatnya. Tanpa mau mengeluarkan kata pembelaan untuk Amelia, pria itu mengikuti Biao dari belakang.
“Aku tidak menyangka kalau Biao pria yang kejam seperti ini. Bahkan untuk memandangnya saja aku tidak lagi memiliki keberanian,” gumam Walker di dalam hati.
Walker masuk ke dalam mobil sebagai supir Biao dan Sharin. Pria itu melirik ke arah belakang sebelum melajukan mobilnya. Baginya tidak lagi perlu untuk bertanya. Lelaki itu sudah tahu kalau kita tempat yang mereka kunjungi adalah rumah sakit.
“Sakit,” ucap Sharin saat merasakan kepalanya benar-benar sakit. Bahkan darah di dahinya keluar dengan cukup deras.
Biao memandang wajah Sharin. Pria itu memegang pipi Sharin dengan kelembutan, “Apakah sangat sakit, Sharin?” Ia tidak lagi tega melihat Sharin kesakitan. Pria itu menarik tubuh Sharin ke dalam pelukannya hingga membuat pakaian yang ia kenakan terkena tetesan darah Sharin.
“Jangan. Baju anda akan kotor,” ucap Sharin sambil mendorong tubuh Biao.
“Jangan pikirkan hal tidak penting seperti itu,” jawab Biao sebelum menarik tubuh Sharin ke dalam pelukannya lagi, “Maafkan aku karena tidak bisa melindungimu.”
***
Sharin terbangun saat matahari sudah tiada. Malam telah tiba. Wanita itu berbaring lemah di atas tempat tidur yang ada di salah satu ruang perawatan di rumah sakit. Entah sudah berapa lama ia tertidur. Perban putih sudah melingkar di kepalanya. Kakinya yang terasa sakit juga sudah tidak terasa lagi.
Sharin memandang langit-langit kamar dengan seksama. Ia tahu kalau ruangan itu berada di rumah sakit. Samar-samar ia kembali ingat dengan kejadian mengerikan yang terjadi tadi siang. Wanita itu memiringkan kepalanya untuk melihat ke kiri. Ia mengeryitkan dahi saat melihat Biao menatap wajahnya. Pria itu duduk di kursi yang ada di samping ranjang. Tangannya memegang tangan Sharin dengan wajah khawatir.
Biao mengangkat tangan Sharin sebelum mengecupnya dengan penuh perasaan, “Syukurlah kau sudah bangun, Sharin.” Matanya terpejam beberapa detik sambil menghirup udara yang ada di sekitarnya, “Aku sangat mengkhawatirkanmu.”
Sharin memegang kepalanya yang terasa sedikit sakit, “Kita ada di rumah sakit?”
Biao mengangguk pelan, “Ya. Kata Dokter sakitnya akan berangsur hilang. Maafkan aku,” ucap Biao dengan nada yang cukup lirih, “Karena tidak bisa melindungimu hari ini.”
Sharin membuang tatapannya dari wajah Biao. Bagaimanapun juga, kebohongan Biao juga cukup menyakitkan baginya.
“Sharin, maafkan aku,” ucap Biao dengan suara dipenuhi penyesalan. Bahkan ia juga tidak tahu harus membela diri dari segi mana. Keadaan seperti ini bukan satu rencana yang sudah ia persiapkan. Lelaki itu tidak tahu kalau kebohongannya akan berdampak buruk bahkan membuat wanita yang ia cintai terluka.
Sharin tidak mengeluarkan kata. Ruangan itu terasa sangat hening saat Biao menunggu jawaban dari bibir Sharin.
“Aku mencintaimu, Sharin. Itu bukan kebohongan. Aku membohongimu karena aku takut kalau kau akan pergi lagi dan menjauh dari hidupku. Aku sangat mencintaimu hingga hilang akal dan merencanakan hal seperti itu. Awalnya dengan melihatmu dari jarak yang cukup dekat sudah cukup. Tapi, seiring berjalannya waktu aku tidak bisa terus-terusan bersembunyi. Aku ingin kau berbicara padaku. Dan ....” ucapan Biao terhenti. Pria itu menghela napas sebelum melanjutkan kalimatnya, “menyebut namaku.”
Sharin hanya diam sambil memejamkan mata. Sekuat tenaga ia cegah agar air mata yang ia miliki tidak menetes di hadapan Biao.
“Aku tahu kesalahanku tidak termaafkan bagimu. Mungkin aku harus menerimanya saat ini. Aku sudah membuatmu celaka hingga seperti ini. Mungkin aku yang terlalu berharap besar kalau kau bisa membalas cintaku.” Biao tersenyum pahit, “Maafkan aku karena sudah memaksakan apa yang aku inginkan kepadamu. Memaksamu agar mencintaiku dan tidak pernah melupakan namaku. Kau berhak memilih, Sharin. Aku tidak akan mempersulit hidupmu lagi.” Biao mengecup tangan Sharin sebelum meletakkannya di samping tubuh Sharin dengan hati-hati.
Sharin tertegun beberapa saat. Pria yang kini duduk di sampingnya sangat tulus mencintainya. Bahkan Biao rela berkorban hingga sejauh ini hanya karena mencintai dirinya. Secara perlahan, Sharin menggerakkan kepalanya. Memandang wajah Biao yang kini masih ada di sampingnya. Sharin mengeryitkan dahi saat melihat Biao menunduk di dalam kesedihan dan rasa bersalah yang ia ciptakan sendiri.
“Sharin, beristirahatlah. Aku harap kau cepat sembuh dan bisa bekerja lagi.” Biao mengangkat kepalanya. Pria itu beranjak dari duduknya. Membungkukkan tubuhnya sebelum mendaratkan satu kecupan di dahi Sharin, “Aku ingin kau cepat sembuh. Itu jauh lebih berarti dari segalanya.” Biao melangkah pergi meninggalkan ruangan Sharin di rawat.
Sharin memegang wajahnya yang basah. Tepat di dekat matanya, “Apa dia menangis?” ucap Sharin pelan saat merasakan air mata Biao yang jatuh membasahi wajahnya.