Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 43



Sharin memandang keluar jendela dengan tatapan serius. Kini jalan yang mereka tuju bukan lagi apartemen miliknya. Biao melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi dan menuju ke lokasi apartemen milik Biao sendiri. Dengan ragu-ragu dan penuh hati-hati Sharin memberanikan diri untuk mengeluarkan kata. Wanita itu tidak ingin tinggal di apartemen Biao lagi.


“Paman tampan, sepertinya kau salah jalan. Ini bukan jalan menuju ke apartemenku,” ucap Sharin sambil memandang wajah Biao yang sejak tadi tidak mau menatap wajahnya.


“Kau tinggal di apartemenku hingga waktu yang tidak bisa ditentukan,” jawab Biao tanpa mau memandang. Kini pikiran lelaki itu dipenuhi dengan bayang-bayang Mr. Paul dan Sharin yang sempat bersentuhan saat dirinya tidak ada.


“Aku tidak mau. Aku ingin tidur dan tinggal di apartemenku,” protes Sharin untuk menolak perintah Biao.


“Apa kau ingin lelaki itu menemuimu di kamar apartemenmu yang kecil itu?” ucap Biao sambil menahan amarah. Sesungguhnya hatinya cukup luka dan emosi saat itu. Ia tidak suka di bantah apa lagi oleh wanita yang ia cintai.


“Aku bisa-” ucapan Sharin tertahan saat Biao memandang wajahnya dengan seksama.


“Aku tidak memberimu pilihan lain. Turuti dan jangan membantah lagi!” tegas Biao. Lelaki itu kembali memandang jalan depan lalu menambah kecepatan mobilnya agar bisa segera tiba di apartemen.


Sharin menghela napas. Wanita itu kembali menundukkan kepalanya. Tidak buruk untuk tinggal di apartemen Biao. Lelaki itu memiliki apartemen luas layaknya rumah. Bahkan ada tiga kamar di dalamnya. Sharin tidak perlu takut. Tapi, jika memutuskan untuk tinggal bersama dengan Biao itu sama saja membiarkan Biao mengetahui seluruh kegiatan yang ia lakukan selama seharian penuh. Hal itu cukup membuat Sharin tidak nyaman.


“Mungkin aku akan membujuknya lagi besok pagi. Malam ini suasananya cukup sulit. Sebaiknya aku menurut dan tidak membantah lagi,” gumam Sharin di dalam hati.


Setelah beberapa menit berada di dalam mobil, kini sepasang kekasih itu telah tiba di lokasi apartemen. Mereka berdua membuka sabuk pengaman secara bersamaan dan keluar dari dalam mobil secara bersamaan juga.


Biao memandang wajah Sharin. Kini wanita itu berdiri mematung di samping mobil sambil menundukkan kepalanya. Biao berjalan mendekati Sharin dan mencengkram jari-jari wanita itu. Membawanya berjalan bersama menuju ke arah lift.


Sharin masih diam sambil terus mengikuti langkah kaki Biao. Mereka berada di dalam lift dalam keheningan. Tidak ada yang mau mengeluarkan kata lebih dulu. Wanita itu mengatur kembali debaran jantungnya yang tidak karuan. Dengan hati-hati, Sharin berusaha untuk meminta maaf.


“Paman tampan, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membohongimu sejak awal. Aku hanya merasa bersalah pada diriku sendiri karena tidak mendengarkan perkataanmu.”


Sharin berusaha menatap wajah Biao. Tapi, lelaki itu hanya diam dan tidak memberi reaksi apa-apa. Hingga pintu lift kembali terbuka. Biao menarik lagi tangan Sharin dan membawanya menuju kamar yang selama ini ia tempati.


Lorong apartemen itu terlihat sangat sunyi. Hanya terdengar suara sepatu Sharin di malam itu. Biao melepas cengkraman tangannya dari tangan Sharin. Ia membuka pintu kamar dengan gerakan cepat.


“Masuklah,” ucap Biao pelan.


Sharin menatap wajah Biao sekilas sebelum melangkah masuk. Ia tahu kalau Biao tidak akan memaafkannya dengan semudah itu.


Sharin menghela napas, “Ternyata membujuknya sangat susah jika dalam kondisi seperti ini. Aku harus memikirkan cara lain untuk memperbaiki hubungan ini.” Sharin memutar tubuhnya. Ia berjalan menuju kamar tidur yang memang sudah pernah ia tiduri.


Di dalam kamar Biao menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Napasnya masih belum normal. Setiap kalimat yang di ucapkan Mr. Paul terus saja membuat bayang-bayang menyakitkan yang menghasilkan perasaan cemburu.


“Aku sudah mengirim orang untuk menjaganya. Tapi lelaki itu masih berhasil menyentuhnya.”


Biao mulai memejamkan matanya. Pikirannya benar-benar kacau. Sekuat apapun ia berusaha untuk tenang, tetap saja tidak berhasil. Hasrat ingin membunuh Mr. Paul terus saja mengiang di dalam pikirannya. Bagi Biao tidak akan puas jika belum melihat musuhnya meregang nyawa tepat di hadapannya.


Secara perlahan Biao mulai bisa mengontrol emosinya. Napasnya mulai berhembus secara teratur hingga lama kelamaan lelaki itu larut dalam tidur lelapnya.


***


Matahari kembali muncul ke permukaan dengan begitu cepat. Sharin dan Biao sudah duduk di meja makan dengan menu sarapan yang di pesan dari restoran. Hingga pagi ini, sepasang kekasih itu tidak ada yang saling mengeluarkan kata. Mereka masih saling berdiam dengan perasaan campur aduk yang di derita masing-masing.


Biao belum mau mengeluarkan kata sebelum Sharin menjelaskan semuanya lebih dulu. Sedangkan Sharin, wanita itu masih takut dan terus saja di bayang-bayangi dengan wajah menyeramkan Biao tadi malam.


Suasana ruangan itu terlihat sangat hening. Hanya terdengar semilir angin yang masuk melalui jendela dapur. Matahari bersinar dengan begitu terang hingga membuat langit biru terlihat semakin sempurna.


Biao meraih ponselnya dari atas meja. Lelaki itu memandang layar ponselnya untuk memeriksa beberapa masalah yang sudah terjadi selama ia pergi. Tidak ada yang serius dan perlu di atasi. Satu-satunya masalah yang tidak akan ada habisnya hanya masalah yang di timbulkan oleh Mr. Paul.


Kini media sosial sudah dipenuhi dengan gosip yang menceritakan nama Presdir Bo dan Mr. Paul. Adegan pemukulan yang di lakukan oleh Biao memang menyudutkan posisinya. Biao memutar video berdurasi satu menit itu dengan tatapan tidak terbaca. Seharusnya Daniel sudah melihat video itu saat ini.


Biao menghela napas sebelum meletakkan ponselnya kembali ke atas meja. Lelaki itu mengambil segelas air putih untuk mengatur emosinya pagi itu. Kini ia hanya tinggal menunggu keputusan atau hukuman apa yang akan diberikan oleh Daniel kepadanya.


Apapun keputusan yang akan di ambil Daniel tidak akan ia permasalahkan. Ia cukup tahu dengan kesulitan yang kini akan di hadapin oleh Daniel. Bahkan, jika Ceo makanan ringan itu mengusirnya atau mengambil kembali S.G. Group yang ia pimpin. Ia akan memberikannya tanpa rasa kecewa.


Biao meneguk air putih dari gelas yang ia ambil. Sharin menatap wajah Biao dengan seksama. Wanita itu berniat untuk mengajak Biao berbicara dan menyelesaikan semua masalah yang ada.


“Paman tampan, ayo kita menikah,” celetuk Sharin tiba-tiba.


Like dulu baru lanjut...