
Sharin mengepal kuat tangannya. Ia tidak percaya kalau Biao tidak percaya dengan dirinya dan justru percaya kepada wanita lain. Di tambah lagi, semua orang juga ikut memojokkan dirinya dan sedang menertawakannya.
“Saya tidak melakukan apapun padanya. Justru dia yang menjatuhkan tumpukan berkas itu hingga membuat kepala saya menjadi sakit.” Sharin sengaja memakai trik wajah menyedihkan. Ia cukup yakin, kalau Biao tidak akan tega dan akan membelanya.
Wajah wanita itu berubah bngung. Ia juga takut jika nanti atasannya menjadi percaya dengan Sharin.
“Apa kau memiliki saksi dan bukti?” jawab Biao dengan satu alis terangkat.
Biao menghela napas lalu membuang tatapannya ke arah lain. Sesungguhnya ia sudah menggeram di dalam hati karena tidak terima wanita yang ia cintai tersakit seperti itu. Tapi, tidak ada cara lain. Biao ingin status Sharin segera di ketahui oleh seluruh karyawan S.G. Group agar tidak ada yang memperlakukan Sharin seperti itu lagi.
Sharin terlihat menahan emosi saat mendengar jawaban yang di katakan oleh Biao, “Aku tidak perlu bukti. Jika anda butuh bukti, anda bisa melihat cctv.”
“Saya tidak memiliki banyak waktu untuk memeriksa cctv,” sambung Biao dengan wajah yang tenang. Kedua bola matanya memandang wajah Sharin dengan seksama, “Sharin, kau harus di beri hukuman atas perbuatanmu yang mencelakai karyawan lain.”
“Aku tidak mau di hukum atas kesalahan yang tidak aku perbuat. Jika kau sangat ingin menghukumku, lihat ini.” Sharin melayangkan satu tamparan di wajah wanita itu dengan begitu kuat.
Prilaku Sharin membuat semua orang terperanjat kaget. Terutama Edo. Tapi, tidak dengan Biao. Pria itu terlihat puas karena istri tercintanya telah membalas perbuatan orang yang menyakitinya.
“Hukuman apapun itu akan saya terima sekarang.” Sharin terlihat bahagia atas pembalasan yang sudah ia lakukan, “Anda pimpinan yang sangat buruk!” teriak Sharin di hadapan Biao.
Seluruh karyawan S.G. Group terlihat kaget melihat sifat bar-bar Sharin siang itu. Wajah Biao yang menyeramkan membuat semua orang tidak berani menatap wajah Biao. Tapi, dengan sadar Sharin justru membentak Biao di hadapan semua orang.
“Baiklah. Kau sudah mengatakannya. Aku tidak akan segan-segan lagi memberimu hukuman,” ucap Biao sambil mengambil ponselnya dari dalam saku, “Aku akan membatalkan proyek itu hari ini.”
“Apa yang kau lakukan?” protes Sharin lalu merebut paksa ponsel Biao.
“Kenapa sangat sulit memancingnya mengatakan hal itu,” gumam Biao di dalam hati.
“Sharin, berani sekali kau merebut ponsel Presdir Bo.” Wanita itu tentu saja mengambil kesempatan untuk membuat Biao lebih membenci Sharin lagi.
Edo hanya bisa menunduk. Pria itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Baginya pertikaian yang kini ia dengar adalah pertikaian yang sering terjadi di dalam rumah tangga.
“Kau di hukum lagi karena berani merebut ponselku,” ucap Biao sambil mengulurkan tangannya untuk meminta ponselnya kembali.
Kali ini Sharin kebingungan. Ia merasa terpojokkan saat itu. Dengan kasar ia memberikan ponsel Biao. Tidak ada cara lain yang di pikirkan Sharin selain membujuk Biao. Ia tidak ingin proyek yang sudah hampir selesai itu gagal begitu saja.
“Presdir Bo, maafkan saya. Saya salah, jangan hukum saya.” Sharin menundukkan wajahnya dengan wajah memelas.
Sharin mengangkat kepalanya, “Kau memang suami yang cukup menyebalkan!” teriak Sharin dengan suara lantang dan berhasil terdengar semua orang.
Biao menaikan satu alisnya, “Apa aku seperti itu? Kapan aku menikah hingga menjadi suami yang menyebalkan?”
Sharin menutup mulutnya. Wanita itu berusaha lari agar bisa terhindar dari sorot mata yang kini menyelikinya. Namun, langkahnya terhenti saat Biao mencengkram tangannya. Pria itu menarik tubuh Sharin dan memeluknya dengan mesra.
“Maafkan aku. Kenapa kau sangat keras kepala,” ucap Biao sambil mengusap lembut punggung Sharin.
Wanita itu dan beberapa karyawan lainnya terlihat kaget. Tapi Edo dan pengawal pribadi Biao justru tersenyum bahagia. Memang pemandangan yang seperti itu yang ingin mereka lihat sejak tadi.
“Kau menjebakku,” ucap Sharin sambil menenggelamkan wajahnya di dalam pelukan Biao.
Biao mengukir senyuman dengan wajah berseri, “Ayo kita makan siang.”
Sharin mengangguk lalu menatap wajah Biao. Sekilas ia menatap wajah wanita itu dengan penuh kemenangan lalu mengecup pipi Biao di depan semua orang.
“Mulai sekarang, kau di pecat,” ucap Sharin kepada wanita itu, “Dan untuk semua karyawan yang sudah mendukung wanita ini, gajinya dipotong hingga 50 persen.”
Biao mengukir senyuman saat mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Sharin, “Apa itu tidak terlalu baik? Apa kau tidak ingin membuat wanita ini masuk penjara karena sudah melukaimu, Sayang?”
Wanita itu merasa posisinya tidak lagi aman. Ia berlutut di hadapan Sharin sambil mengatupkan kedua tangannya. Di ikuti karyawan lainnya yang membelanya.
“Maafkan kami Nona Sharin. Kami menyesali perbuatan kami.”
Sharin terlihat bahagia. Ia maju beberapa langkah sambil melipat kedua tangannya di depan dada, “Aku sudah memaafkanmu tapi tidak lagi ingin melihat wajahmu. Kau karyawan yang membuat pengaruh buruk bagi perusahaan suamiku,” ucap Sharin sambil mengukir senyuman kepada Edo.
“Sayang, ayo kita pergi dari sini,” aja Biao sekali lagi. Ia sudah tdak nyaman berlama-lama dilantai tersebut.
Sharin berjongkok di hadapan wanita itu, “Selamat tinggal.” Wanita itu beranjak lalu menggandeng lengan Biao dengan mesra. Memang sudah waktunya bagi Sharin untuk memberi tahu identitas aslinya. Walau waktunya lebih cepat, tapi Sharin lega. Mulai besok tidak ada lagi karyawan yang memandangnya sebagai wanita murahan.
“Terima kasih,” ucap Sharin sebelum menjatuhkan kepalanya di lengan Biao.
Biao mengukir senyuman sebelum mendaratkan satu kecupan di pucuk kepala Sharin. Ia cukup lega dan bahagia, karena kini semua orang telah tahu. Kalau Sharin adalah istrinya.