Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 33



Sharin masuk ke dalam ruangan kerja milik Biao. Wanita itu mengukir senyuman saat bisa berada di dalam ruang kerja kekasihnya. Sekilas ia memandang meja kerja yang di siapkan Biao untuk tempatnya bekerja. Meja itu tertata rapi dengan sekuntum mawar merah di atas meja.


Sharin mengeryitkan dahi saat melihat setangkai mawar merah yang ada di atas meja. Sebelum ia pergi meninggalkan ruangan, mawar merah itu tidak ada di atas meja. Dengan wajah di penuhi rasa penasaran, Sharin berjalan mendekati meja kerjanya.


Tangannya meraih bunga mawar itu. Ada sepucuk surat di samping bunga mawar tergelak. Sharin membuka surat itu dengan hati-hati.


“Aku sangat mencintaimu, Sharin.”


Sharin mengukir senyuman saat melihat tulisan itu milik Biao. Wanita itu menghirup aroma bunga mawar yang kini ada di genggaman tangannya. Matanya terpejam untuk menikmati setiap wangi yang masuk ke dalam hidungnya.


“Paman tampan, aku sangat merindukanmu,” ucap Sharin dengan penuh penghayatan.


Sharin kembali ingat dengan password yang diberikan oleh Biao. Mulai dari sekarang, ia memiliki akses penuh atas laptop yang dimiliki oleh Biao. Dengan wajah penuh semangat Sharin berjalan menuju kursi yang biasa di duduki oleh Biao. Tubuhnya ia jatuhkan di kursi hitam yang hampir menenggelamkan tubuhnya.


Satu tangannya mengatifkan kembali laptop yang ada di atas meja. Sharin mulai memasukkan password yang diberikan Biao agar bisa mengambil alih tugas kekasihnya. Tiba-tiba saja ada wajah licik di sudut dibibirnya. Sharin tidak ingin memeriksa pekerjaan yang harus di selesaikan oleh Biao. Namun, wanita itu ingin meretas sistem yang ada di dalam laptop Biao. Ia ingin tahu, apa saja yang dikerjai oleh Biao selama ini.


Matanya melebar saat melihat puluhan video yang berisi wajahnya. Sekali lagi Sharin kembali memeriksa data yang tersimpan. Wanita itu mengetuk-ngetuk meja dengan satu helaan napas yang cukup berat.


“Bahkan aku tidak tahu kalau ada camera cctv yang mengawasiku hingga 24 jam seperti ini,” ucap Sharin. Wanita itu melanjutkan pelacakannya. Hingga akhirnya ia berhasil menemukan folder yang berisi semua foto wajahnya. Detik itu Sharin mengukir senyum bahagia. Ia tidak pernah menyangka kalau Biao bisa sedetail itu untuk mengawasinya.


Setelah puas dengan penyelidikannya, Sharin kembali melanjutkan pekerjaan yang harus segera ia selesaikan. Wanita itu kembali fokus dengan layar laptopnya. Beberapa investor yang harus ia kunjungi besok siang sudah ia susun jadwal pertemuannya. Dahinya mengeryit saat melihat nama Mr. Paul ada di dalam list itu.


Samar-samar Sharin kembali mengingat wajah pria yang memiliki nama Mr. Paul tersebut, “Apa ini pria yang sama dengan pria yang berkunjung tadi pagi?” ucap Sharin penasaran.


Sharin membuka data pribadi Mr. Paul. Matanya melebar saat melihat jumlah kekayaan yang dimiliki lelaki itu. Bahkan kekayaan Mr. Paul hampir setara dengan kekayaan keluarga Edritz Chen. Wanita itu berdecak pelan sambil menggeleng kepalanya.


“Mr. Paul pria yang cukup berpengaruh. Aku harus bisa membuatnya menginvestasikan lebih banyak lagi saham yang ia miliki ke perusahaan ini.” Sharin mengambil memo kecil dari atas meja. Wanita itu mencatat jam dan alamat kantor milik Mr. Paul. Bibirnya kembali tersenyum saat sudah selesai dengan pekerjaannya.


“Aku harus terbiasa dengan lingkungan baru ini. Aku tidak boleh mengecewakan paman tampan dan membuatnya malu. Ya. Aku harus bisa membuatnya bangga saat pulang nanti. Paman tampan, kau akan terkejud dengan kemampuan yang aku miliki saat ini,” ucap Sharin penuh semangat dan ambisi.


***


Di sebuah rumah besar dan mewah. Mr. Paul duduk sambil memandang tajam ke arah beberapa pria yang berdiri di hadapannya. Lelaki itu cukup kecewa atas kegagalan yang di hadapi bawahannya. Kakinya terangkat di atas meja dengan posisi angkuh dan sok hebat ciri khasnya.


Nasip itu juga berlaku kepada Sharin. Ia menganggap Sharin hanya karyawan miskin yang bisa dengan mudah untuk ia beli. Tapi, detik itu ia kembali berpikir. Orang-orang yang ia kirim di penuhi dengan luka. Mereka juga mengatakan kalau ada beberapa pria tangguh yang menjaga Sharin secara diam-diam.


Di lihat dari jabatan yang dimiiki Sharin, seharusnya wanita itu tidak akan mampu membayar bodyguard untuk melindunginya. Kecuali seseorang sengaja melakukan itu untuk melindunginya.


“Apa kalian tahu siapa yang mengirim mereka untuk melindungi Sharin?” tanya Mr. Paul dengan tatapan cukup mengerikan.


“Maaf, Tuan. Kami juga tidak tahu siapa yang mengirim mereka. Sepertinya kami tidak akan berhasil membawa wanita itu dengan cara yang biasa kami lakukan.” Lelaki yang menjadi bawahan Mr. Paul menunduk penuh rasa takut.


“Ya. Kau benar. Kita tidak akan mudah menculiknya jika ada seseorang yang dengan sengaja melindunginya. Sepertinya aku harus memikirkan cara agar wanita itu bisa menemuiku dengan sendirinya.” Mr. Paul beranjak dari kursi yang ia duduki. Dengan langkah pelan ia berjalan menuju ke arah jendela.


“Aku ingin berkunjung ke S.G. Group besok. Bukankah aku memiliki jadwal pertemuan dengan Presdir Bo besok. Aku akan memikirkan cara untuk mendekati wanita itu nanti,” ucap Mr. Paul dengan penuh percaya diri.


“Maaf, Tuan. Tapi, berdasarkan informasi terbaru yang kami terima. Presdir Bo hari ini berangkat ke Jepang. Sepertinya ia tidak akan ada di gedung S.G. Group selama beberapa hari.”


Mr. Paul memutar tubuhnya untuk memandang wajah bawahannya, “Sepertinya nasip baik berpihak padaku saat ini.”


“Tuan, kami akan mengatur rencana selanjutnya agar anda bisa memiliki wanita itu.” Salah satu pria membungkuk dengan penuh hormat.


“Aku tidak ingin hasil yang mengecewakan lagi,” jawab Mr. Paul sebelum kembali melihat pemandangan yang ada di luar jendela, “Pergilah.”


“Baik, Tuan. Kami permisi dulu.”


Mr. Paul kembali membayangkan wajah Sharin. Sejak pertama kali melihat Sharin, lelaki itu sudah tidak sabar untuk mendekati Sharin. Bahkan setelah pertemuan pertama mereka tadi pagi, Mr. Paul tidak lagi bisa melupakan bayang-bayang wajah Sharin di dalam ingatannya.


Kini kabar seseorang yang melindungi Sharin membuat Mr. Paul semakin penasaran. Baginya Sharin bukan wanita yang sama dengan wanita yang sebelumnya. Hal itu membuat ketertarikannya kepada Sharin semakin besar.


“Aku pasti akan mendapatkanmu, Sharin. Kau harus menjadi milikku,” ucap Mr. Paul sambil memandang wajah Sharin yang kini ada di genggaman tangannya, “Wanita yang cukup cantik dan manis sepertimu pasti sangat suka dengan kekayaan. Aku akan membuatmu menikmati dunia ini dengan harta yang aku miliki. Tidak peduli siapa yang kini berdiri di belakangmu. Aku pasti akan mendapatkamu.”


Bab selanjutnya up jam 12 siang. Bagi vote buat dukung babang Biao ya reader... 😘