Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 67



Hari semakin larut. Semua orang telah pergi dari apartemen Biao. Termasuk Tama dan Anna. Mereka ingin menginap di hotel karena ingin membahas beberapa masalah penting tentang S.G. Group bersama Tuan Edritz.


Hanya ada Biao dan Sharin di dalam apartemen mewah itu. Mereka berdua duduk berdampingan sambil menonton televisi. Ada tawa kecil yang terdengar dari bibir Sharin saat ada adegan lucu dari film yang mereka tonton malam itu.


Biao tidak terlalu fokus pada televisi yang mereka tonton. Pria itu lebih fokus pada Sharin. Sejak tadi kedua bola matanya memandang wajah ceria Sharin tanpa berkedip. Bibirnya mengukir senyuman yang cukup bahagia. Sesekali ia menyelipkan rambut Sharin di balik telinga.


Kebersamaan mereka terasa begitu indah dan sempurna. Di momen indah seperti ini rasanya mereka tidak ingin berjauhan. Mereka hanya ingin berduaan untuk saling menyayangi.


“Sayang, apa aku boleh minta tolong?” ucap Biao dengan suara yang cukup lembut. Bibirnya yang sempat kaku menyebutkan kata sayang kini mulai terbiasa.


“Hmm, apa yang bisa aku lakukan?” ucap Sharin sambil mengunyah kacang yang baru saja ia kupas.


“Aku ingin minum air putih,” jawab Biao sambil mengusap lembut lengan Sharin, “Gelas ini sudah habis.” Pria itu membalikkan gelasnya hingga ada satu tetes air yang terjatuh.


“Maafkan aku karena tidak memperhatikan gelasnya.” Sharin mendaratkan satu kecupan singkat di pipi Biao sebelum mengambil gelas yang ada di tangan Biao. Adit meminta Biao untuk banyak mengkonsumsi air putih agar kesehatannya segera pulih.


Biao memgukir senyuman bahagia sambil memegang pipi yang baru saja mendapat kecupan manis dari Sharin. Pria itu memandang punggung Sharin yang berjalan cepat menuju ke arah dapur.


Tiba-tiba terdengar gedoran pintu dengan durasi yang cukup cepat. Biao mengeryitkan dahinya sebelum berjalan secara perlahan. Pria itu meraih sebuah pistol untuk jaga-jaga jika seseorang yang kini ada di depan pintu adalah musuhnya.


Biao menarik napas sebelum mencengkram kuat handle pintu kamarnya. Pria itu menarik pintu secara perlahan untuk melihat sosok yang telah mengganggu waktu istirahatnya.


Pengawal yang biasa bersama Biao berdiri dengan wajah khawatir. Tubuhnya terlihat basah karena keringat dengan napas terputus-putus.


“Tuan, kita di serang. Mereka muncul dengan jumlah yang cukup banyak.”


Duarr Duarr


Bahkan di saat pria itu belum menyelesaikan kalimatnya. Sudah terdengar suara tembakan yang begitu memekakan telinga.


Pengawal itu membalas tembakan yang datang menyerangnya, “Ada helikopter di atas, Tuan. Sebaiknya anda pergi dengan Nona Sharin menggunakan Helikopter tersebut,” teriak pengawal itu sebelum melanjutkan pertarungannya.


Biao memandang wajah musuhnya dengan ekspresi dingin. Pria itu kembali menutup pintu dan mengunci pintu kamarnya.


Langkahnya cepat dan pasti menuju ke posisi Sharin kini berada. Wanita yang ia cintai terlihat sibuk menonton TV dengan posisi santai. Gelas yang berisi air minum telah ada di atas meja.


“Sharin, pakai ini.” Biao menutupi tubuh Sharin dengan jas hitam miliknya. Pria itu berjalan ke arah kamar untuk mengambil beberapa barang yang ia perlukan.


Sharin terlihat khawatir saat melihat wajah Biao yang kebingungan. Wanita itu mengenakan jas hitam yang diberikan Biao sebelum berjalan mendekati Biao berada.


“Ada apa?” ucapnya sambil mengeryitkan dahi.


“Kita di serang,” jawab Biao sambil memasukkan peluru ke dalam pistol. Pria itu juga meraih sebuah belati sebelum memasukkan ponsel ke dalam saku, “Kita harus segera pergi dari sini sebelum mereka semua menemukan kita.”


“Mereka menyerang apartemen?” ucap Sharin tidak percaya.


Biao kencengkram kuat tangan Sharin sebelum menyeret wanita itu. Kepalanya yang masih terasa sakit harus ia tahan demi keselamatan wanita yang ia cintai. Sejak awal mereka memang sudah menyiapkan helikopter untuk Biao dan Sharin kabur jika dalam keadaan mendesak. Jika lewat lantai bawah itu akan cukup beresiko.


Sharin mengikuti langkah Biao dengan debaran jantung yang tidak karuan. Lagi-lagi situasi buruk harus ia alami di saat kebahagiaan baru saja ia nikmati. Sharin hanya bisa menghela napas agar napasnya tidak sesak.


Biao membuka pintu sambil menodongkan senjata api. Ada banyak korban tergeletak di lorong dengan ceceran darah di permukaan lantai.


Sharin menutup mulutnya dengan tangan. Wajahnya terlihat pucat dan syok. Pemandangan yang ada di depan matanya jauh lebih menyeramkan dari kejadian yang pernah ia lihat.


Biao menatap wajah Sharin sebelum menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukan. Ia memegang kepala Sharin dan menyembunyikan wajah wanitanya di balik jaket hitam yang ia kenakan.


“Jangan di lihat,” ucap Biao sambil berjalan pelan. Sorot matanya terlihat sangat waspada. Lift yang jaraknya hanya beberapa meter dari kamar terasa sangat jauh. Langkah demi langkah ia lalui sambil memeriksa pasukan miliknya yang tidak lagi bernyawa.


Biao kembali menghela napas lega saat tubuhnya dan Sharin tiba di depan lift. Pria itu menekan tombol agar lift segera terbuka.


Terdengar suara sepatu yang berasal dari tangga yang tidak jauh dari lift itu berada.


Biao meletakkan jemarinya di depan pelatuk dan siap untuk menembak.


Pintu lift terbuka. Pria itu segera masuk dan menekan tombol lift ke lantai tertinggi. Pintu lift kembali tertutup tepat di saat gerombolan musuh tiba di depan lift.


Biao memandang wajah Sharin yang sejak tadi bersembunyi di dekapannya. Wanita itu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Biao. Tangannya sedingin es hingga bibirnya juga putih seperti salju. Sharin benar-benar ketakutan malam itu.


“Sharin, apapun yang terjadi. Dengarkan apa yang aku katakan. Jangan membantah apapun itu jika kau masih sayang padaku.”


Biao mengusap lembut punggung Sharin. Bibirnya mendarat di pucuk kepala Sharin dengan wajah sedih. Ia juga tidak tahu apa bisa menang atau tidak melawan musuhnya malam ini. Bala bantuan yang ia miliki tidak akan sebanding dengan kekuatan Mr. Paul yang memang sudah terlatih sekian lama.


Sharin mengangguk tanpa mau mengeluarkan kata. Wanita itu mempererat pelukannya di pinggang Biao sambil memejamkan mata.


Lift terbuka. Biao menatap tajam lorong atas yang terlihat sangat sunyi. Pria itu melangkah secara perlahan dari dalam lift. Tangga yang menjadi penghubungnya ke atap terlihat gelap dan sangat mencekam. Biao kembali bersikap waspada sambil menodongkan senjata api yang ia bawa.


Langkah sepatunya dan Sharin terdengar begitu jelas. Lorong itu benar-benar sunyi dan dingin. Atap apartemen masih dalam proses pembangunan. Belum ada seorangpun yang berani ke lantai tersebut.


Langkahnya terhenti saat melihat Mr. Paul berdiri dengan wajah santainya. Pria itu mengukir senyuman kecil sambil memandang wajah Biao.


“Selamat malam, Biao. Akhirnya kita bisa bertemu lagi.”


.


.


up selanjutnya jam 12 siang. terima kasih