Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 40



Biao menghentikan mobilnya di parkiran apartemen. Lelaki itu menatap wajah Sharin sebelum melepaskan sabuk pengamannya. Sepanjang jalan mereka tidak saling bicara. Hanya ada kesunyian di dalam mobil yang di isi sepasang kekasih itu.


Biao mematikan mesin mobilnya. Sorot matanya yang tajam kini memandang wajah Sharin yang tertidur pulas. Wanita itu memancarkan wajah sedih yang cukup menyayat hati. Sesekali isak tangisnya masih membekas walaupun ia dalam keadaan memejamkan mata.


Biao bingung melihat keadaan Sharin saat itu. Ia merasa sesuatu yang salah telah terjadi. Dengan lembut Biao menyentuh rambut Sharin, “Sharin, apa yang sebenarnya terjadi? Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan kepadaku?” gumam Biao di dalam hati. Lelaki itu kembali membayangkan ekspresi wajah Sharin yang ketakutan saat tangannya menyentuh pundak wanita itu tiba-tiba.


Sharin mulai menggerakkan tubuhnya saat merasakan tangan hangat Biao ada di kepalanya. Wanita itu membuka mata dengan hati-hati. Kepalanya terasa cukup berat karena terkena hujan dan terlalu lama menahan tangis.


“Paman tampan, apa kita sudah sampai?” Sharin memperhatikan parkiran mobil yang kini ada di depan matanya.


“Ya. Ayo kita turun.” Biao membuka sabuk pengaman Sharin. Setelah itu ia keluar dari dalam mobil.


Sharin juga melakukan hal yang sama. Wanita itu keluar dari dalam mobil. Tubuhnya yang terasa lemah membuat Sharin hampir saja hilang keseimbangan.


Biao berlari cepat untuk menahan tubuh Sharin agar tidak terjatuh. Kedua tangannya mencengkram kuat lengan Sharin, “Sharin, apa kau baik-baik saja?” ucapnya dengan wajah cukup panik.


“Paman tampan, aku baik-baik saja. Boleh aku minta tolong?” ucap Sharin sambil memegang kepalanya. Ia merasa sakit pada bagian kepala yang pernah terkena pukulan Amelia.


“Apa yang kau inginkan?” ucap Biao cepat.


“Gendong aku,” jawab Sharin dengan nada yang lirih.


Biao menghela napas lega saat wanita itu tidak meminta hal-hal yang aneh padanya, “Kau tidak perlu memintanya. Aku memang berniat untuk menggendongmu.” Lelaki itu mengangkat tubuh Sharin ke dalam gendongannya. Satu tangannya menggenggam tas Sharin yang basah.


Sharin mengukir senyuman saat tubuhnya berada di dalam gendongan Biao. Kepalanya ia sandarkan dengan posisi manja. Kedua tangannya melingkari leher Biao dengan senyuman mesra, “Sepertinya aku akan kembali mempertimbangkan lamaranmu waktu itu, Paman tampan,” gumam Sharin di dalam hati.


Sharin merasa lelah dengan hidupnya. Hanya Biao yang kini ia miliki dan hanya berada di dekat Biao dia merasa nyaman. Walau masih ragu saat membayangkan soal pernikahan. Tapi, Sharin mulai mempersiapkan dirinya mulai dari sekarang.


Biao berjalan dengan ekspresi dingin favoritnya. Lelaki itu tidak mengeluarkan satu katapun saat di dalam perjalanan menuju ke kamar miliknya. Jantungnya lagi-lagi harus berdebar cepat saat kedua tangannya menyentuh bagian tubuh wanita yang ia cintai.


Biao sangat ingin menikahi Sharin. Tapi, ia tidak mau wanita itu menjauh lagi dari hidupnya hanya karena keinginannya. Lelaki itu tidak terlalu suka berlama-lama dalam status pacaran. Ia ingin memiliki Sharin seutuhnya agar bisa menjaga wanita itu setiap detiknya.


“Paman tampan,” ucap Sharin sambil mengukir senyuman kecil.


“Ya,” jawab Biao singkat.


“Tentu saja aku marah,” jawab Biao sebelum melangkahkan kakinya keluar lift.


“Kau juga membohongiku beberapa hari yang lalu,” protes Sharin.


“Apa kau ingin balas dendam? Ingat terakhir kali kau membohongiku, kau celaka karena masuk ke dalam perangkap Amelia.” Biao kembali memberi peringatan kepada Sharin. Ia tidak mau Sharin berbohong dan menutupi segala masalah yang ia punya sendirian.


Sharin menghela napas. Saat nama Amelia di sebutkan wanita itu kembali ingat dengan kelakuan keji wanita itu. Tidak di sangka kini ia kembali bertemu dengan orang aneh seperti Mr. Paul.


“Apa kau ingin mengatakan sesuatu?” tanya Biao curiga. Lelaki itu membuka pintu kamarnya lalu masuk dengan langkah cepat dan pasti. Saat tiba di ruang tamu Biao menurunkan tubuh Sharin. Kedua tangannya masih ada di lengan Sharin agar wanita itu tidak terjatuh, “Apa kau benar-benar menemui teman kuliahmu di tempat itu? Siapa namanya dan di mana alamatnya. Aku akan mengirim orang untuk membantumu mencarinya.” Biao menatap wajah Sharin dengan tatapan yang cukup serius.


Sharin tertegun beberapa saat. Kini wanita itu kembali berpikir keras untuk menutupi apa yang sudah ia katakan sebelumnya. Ia memiliki niat untuk menceritakan semuanya. Tapi, tidak sekarang Setidaknya saat kerja sama itu berjalan dan tidak memiliki masalah dan resiko lagi. Surat perjanjian yang sudah berhasil ia bawa dan di tanda tangani Mr. Paul sudah rusak terkena hujan. Bisa di bilang hari ini usahanya gagal untuk menjalin kerja sama dengan Mr. Paul.


“Aku boleh mandi?” ucap Sharin pelan sambil menundukkan wajahnya, “Bajuku sudah hampir kering di badan.”


Biao menghela napas sebelum mengangguk pelan, “Maafkan aku. Sekarang pergilah ke kamar itu. Aku akan menelepon seseorang untuk mengirimkan baju ganti untukmu.”


Sharin mengangguk pelan sebelum melangkah ke arah kamar yang pernah ia tiduri beberapa hari yang lalu.


Biao memandang punggung Sharin yang sudah hilang di balik pintu. Lelaki itu berjalan menuju ke arah sofa. Membuka baju basah yang ia kenakan. Meletakkan baju itu di atas lantai. Setelah menjatuhkan tubuhnya di sofa, Biao mengambil ponsel dari dalam saku. Melekatkan ponselnya di telinga.


Selain ingin memesan baju ganti untuk Sharin, Biao ingin menghubungi bawahannya. Lelaki itu tidak cukup puas dengan jawaban Sharin hari ini. Ia merasa kalau Sharin menyembunyikan sesuatu dari dirinya.


“Aku ingin kau menyelidiki ulang tentang keberadaan Sharin hari ini. Aku ingin info akuratnya secepat mungkin.” Biao memutuskan panggilan teleponnya. Memandang ke arah pintu kamar tempat Sharin kini berada.


“Maafkan aku, Sharin. Bukan aku tidak percaya dengan semua perkataanmu. Tapi aku merasa seseorang sudah membuatmu sedih hari ini. Seharusnya kau berwajah ceria saat aku kembali. Tapi, ekspresi wajahmu hari ini terlihat bingung dan sangat mencurigakan. Jika memang ada seseorang yang menyakitimu. Kenapa kau menutupi semuanya dariku? Apa kau belum percaya padaku sepenuhnya?”


.


.


.


Vote ya reader... agar babang Biao tetap di rangking. Jangan lupa likenya ya.😘