Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 71



Satu hari kemudian.


Segala sesuatu yang di paksa tidak akan pernah berakhir bahagia. Kecuali takdir menentukan kita memang bersama. Terima kasih karena sudah merubahku menjadi pribadi seperti sekarang. Aku tidak pernah menyangka, kalau ada yang tidak bisa aku dapatkan di dunia ini. Lucunya, yang tidak aku dapatkan adalah seorang wanita. Sepertinya aku telah banyak melewati banyak hal. Hingga akhirnya aku tidak sadar kalau sudah terlena terlalu jauh. Aku tidak akan pergi. Aku akan tetap ada. Tapi tidak untuk merebut dan memaksa. Aku akan tetap ada sebagai seorang pria yang berjuang. Kau tetap bisa tenang, Sharin. Karena wanita itu bukan lagi dirimu. Aku akan mencari wanita lain yang jauh lebih menantang daripada dirimu, Sharin. Katakan kepada Biao. Kalau aku sudah merasakan satu luka yang lebih sakit dari sebuah kematian. –Paul


Biao meletakkan surat dari Mr. Paul di atas tempat tidur. Wajahnya menatap Sharin yang duduk di atas tempat tidur. Pria itu mengukir senyuman kecil dengan hati yang cukup lega. Walau harus menderita dengan cara yang begitu menyakitkan, tapi Biao cukup senang karena masih bisa mempertahankan Sharin. Cinta pertama dan terakhir baginya akan selalu menjadi miliknya.


“Sharin, apa kau mau membaca isi suratnya?” ucap Biao sambil memberikan surat yang sempat ia baca.


Sharin menggeleng pelan, “Aku tidak tertarik membacanya. Saat ini aku hanya mengkhawatirkan keadaanmu.”


Biao bersandar dengan posisi nyaman, “Aku juga sangat mengkhawatirkanmu saat tahu kau terkena tembakan. Kenapa wanita selalu bertindak tanpa berpikir. Bahkan Nona Serena juga melakukan hal yang sama hingga dua kali.”


Sharin mengukir senyuman kecil, “Jika kau ada di posisiku. Apa kau akan berdiri diam sambil menonton pertunjukan yang ada di depan matamu?”


Biao mengangguk dengan senyum tipis, “Sepertinya aku lebih memilih diam daripada berlari dan celaka.” Ia cukup tahu jika kalimat yang baru saja ia ucapkan akan berhasil membuat wanita yang ia cintai mendekat.


“Paman tampan, kau sangat menyebalkan!” teriak Sharin kesal. Wanita itu menarik selimut yang sempat menutupinya sebelum melemparnya ke arah Biao.


“Hei, aku hanya melindungi diriku agar tidak terluka. Apa itu salah?” protes Biao sambil tertawa riang karena berhasil meledek kekasihnya malam itu.


Sharin dan Biao terus saja tertawa ringan dan saling meledek malam itu. Sepasang kekasih itu tidak peduli kalau kini jam sudah menunjukkan pukul dua pagi. Sharin terbangun lebih dulu pada pukul tujuh malam. Biao mulai menggerakkan matanya pada pukul 11 malam. Setelah di periksa Adit, keadaan Biao tidak lagi dalam masalah. Namun, pria itu harus di rawat di rumah sakit untuk menghindari infeksi pada luka yang kembali basah.


Semua orang telah meninggalkan Biao dan Sharin karena ingin memberi waktu kepada mereka agar bisa berduaan. Masalah utama telah selesai. Tidak ada lagi yang perlu di khawatirkan. Walaupun pesta pernikahan megah itu harus di undur hingga beberapa hari ke depan.


Biao memegang kepalanya. Pria itu memasang ekpresi wajah yang kesakitan. Hal itu berhasil membuat Sharin panik. Dengan gerakan cepat ia turun dari tempat tidurnya lalu duduk di tepian tempat tidur Biao.


“Paman tampan, apa kepalamu sakit lagi?” ucap Sharin sambil berusaha meraih tombol yang ada di samping tempat tidur Biao.


Biao menahan tangan Sharin. Pria itu mengukir senyuman kemenangan karena sudah berhasil mengelabuhi kekasihnya, “Aku baik-baik saja. Apa masih sakit?” Jemari Biao menyentuh bekas tembakan yang masih di tutupi perban putih. Pria itu terlihat cukup sedih karena melihat wanita yang ia cintai harus kembali terluka.


“Ini tidak terlalu sakit.” Sharin memegang tangan Biao, “Aku akan menerima luka ini dengan senyuman jika luka ini membuat akhir yang bahagia.”


Sharin menjatuhkan kepalanya di dada bidang milik Biao. Wanita itu mengukir senyuman bahagia sambil memainkan jemarinya di dada Biao, “Aku sangat mencintaimu.”


“Aku juga sangat mencintaimu, Sharin. Aku ingin segera menikah denganmu agar semua orang tahu kalau kau adalah milikku.” Biao mendaratkan satu kecupan singkat di pucuk kepala Sharin, “Aku tidak mau muncul pria gila seperti Paul lagi di dalam kehidupan kita nanti.”


Sharin melepas pelukannya dari tubuh Biao. Wanita itu menatap wajah kekasihnya dengan seksama, “Aku tidak ingin semua orang tahu kalau kita sudah menikah. Apa kau lupa dengan perjanjian kita?”


“Bukankah perjanjian itu hanya berlaku saat kita berpacaran?” jawab Biao dengan dahi mengeryit. Ia tidak setuju jika harus berpura-pura tidak mengenal Sharin. Walau itu hanya di jam kerja.


“Tentu saja tidak. Perjanjian itu berlaku sampai aku merasa cukup bangga dengan hasil yang aku buat untuk S.G. Group. Aku ingin semua orang memandangku sebagai Sharin yang cerdas dan hebat. Aku tidak ingin mendengar kata-kata seperti....” Sharin mengatur ekspresi wajahnya agar bisa mirip dengan wanita penggosip yang ada di S.G. Group, “Sharin ada di posisi seperti sekarang karena dia mendekati Presdir Bo. Dasar wanita penggoda,” ucap Sharin sambil menatap serius wajah Biao.


Biao menahan tawa karena ekspresi Sharin yang terlihat sangat lucu dan menggemaskan, “Kau yang lebih pantas menjadi wanita penggosip itu. Bukan mereka,” ledek Biao dengan tawa yang sudah tidak tertahan lagi.


“Paman tampan, kau cukup menyebalkan. Andai saja kau tidak sakit seperti ini aku sudah pasti meninggalkanmu agar kau sendirian di ruangan ini.” Sharin mencubit perut Biao dengan begiu kuat. Rasa kesalnya telah ia lampiaskan melalui cubitan itu.


Biao masih terus saja tertawa bahagia. Satu tangannya menahan tangan Sharin yang ada di perutnya, “Baiklah. Setelah menikah kau akan tetap menjadi sekretarisku. Aku akan mengganggapmu sebagai sekretaris saat ada di depan semua orang. Apa kau puas?”


Sharin mengangguk penuh kegirangan. Wanita itu kembali memeluk Biao dengan wajah bahagia, “Terima kasih. Kau memang pria yang cukup hebat dalam meluluhkan hati wanita.”


“Hanya kau wanita yang pernah aku perjuangkan,” jawab Biao sambil mengusap lembut rambut Sharin, “Aku terbiasa di kejar-kejar. Hanya kau yang membuatku melakukan hal sebaliknya,” ucap Biao penuh kesombongan.


Sharin mendongak ke atas, “Apa kau sehebat itu hingga harus di kejar-kejar?”


“Hei, aku memang tampan dan cukup mempesona,” jawab Biao dengan penuh percaya diri.


“Paman tampan, kenapa setelah sakit kau jadi seperti ini? Apa ada yang salah dengan kepalamu?” Sharin mengusap lembut kepala Biao yang masih di perban.


Biao melanjutkan tawanya sambil mempererat pelukannya. Hatinya benar-benar bahagia karena masih bisa melihat wanita yang ia cinta ada di depan mata. Semua luka yang kini ia derita tidak lagi ia rasakan.