
Malam kembali tiba. Malam itu Sharin dan Biao sudah berada di dalam apartemen milik Biao. Pengantin baru tersebut masih tetap berwajah berseri dengan senyuman yang cukup indah.
Semua orang telah kembali pulang. Kini yang tersisa di San Fransisco hanya ada Biao dan Sharin. Mulai besok mereka yang akan mengurus semua masalah yang di alami S.G.Group. Tuan Edritz dan Daniel cukup percaya kalau Biao bisa menyelesaikan semua masalah yang akan di hadapi S.G. Group nantinya.
Di tambah lagi ada Sharin di samping Biao. Pria itu akan semakin bersemangat dalam bekerja. Biao belum juga menemukan lokasi yang pas untuk rumahnya dan Sharin. Maka dari itu, ia memutuskan untuk tinggal di apartemen yang biasa ia tempati.
Awalnya Nyonya Edrtitz ingin membantu Biao memilih rumah. Tapi Biao menolak karena ia ingin mencari rumah yang sempurna sesuai keinginan Sharin.
Rencana bulan madu yang sudah di persiapkan oleh Nyonya Edritz juga di tolak mentah-mentah oleh Sharin dan Biao. Mereka tidak ingin melakukan perjalanan bulan madu dalam waktu dekat karena Sharin memang belum siap.
Biao ingin bulan madu itu mereka lakukan saat Sharin benar-benar telah siap agar bulan madu mereka terasa cukup sempurna nantinya.
Sharin merapikan beberapa barang yang menurutnya tidak rapi. Wanita itu terlihat sangat teliti saat membersihkan kamar milik suaminya. Bibirnya mengukir senyum dengan alat bersih-bersih di tangannya.
Biao yang sejak tadi memperhatikan Sharin hanya bisa tersenyum. Pria itu duduk di atas sofa sambil memeriksa pekerjaan yang sempat ia tinggal.
“Sayang, apa aku boleh meminta sesuatu?” tanya Sharin sambil terus merapikan kamar Biao.
Biao mengalihkan pandangannya ke arah Sharin. Laptopnya sengaja ia tutup agar konsentrasinya hanya untuk Sharin seorang.
“Apa yang kau inginkan, Sayang?” tanya Biao dengan wajah penasaran.
“Kau janji akan mengabulkannya?” ucap Sharin sambil memandang wajah Biao.
Bioa terlihat berpikir keras saat mendengar pertanyaan Sharin. Istrinya adalah wanita yang cerdas dengan segala permintaan yang bisa membuatnya terkejut. Biao tidak ingin asal setuju saja atas permintaan istrinya.
“Tergantung permintaannya,” jawab Biao santai.
Sharin memajukan bibirnya. Wanita itu memasang wajah memelas agar Biao mau mengabulkan permintaannya.
Secara perlahan ia berjalan ke arah Biao. Bibirnya tersenyum dengan tatapan penuh arti, “Ayo kita ke apartemenku. Aku sangat merindukan tempat itu.”
“Apartemen jelek itu?” celetuk Biao dengan satu alis terangkat.
“Memang jelek. Tapi cukup nyaman, kau akan betah tinggal di dalamnya.” Sharin menjatuhkan tubuhnya di samping Biao, “Ayo,” rengek Sharin. Ia tidak mau menyerah semudah itu.
“Ya. Setelah mandi kita pergi ke sana,” jawab Biao menyerah. Tidak mudah baginya untuk menolak keinginan istrinya. Di tambah lagi wajah imut dan menggemaskan milik istrinya.
“Benarkah? Kita akan tidur di sana?” ucap Sharin kegirangan.
“Sayang, kau hanya bilang mengunjungi.” Biao mengukir senyuman yang dipenuhi penekanan.
“Kalau begitu, besok saja kita ke sana. Setelah pulang kerja,” sambung Biao sambil membuang tatapannya. Ia kembali mengambil laptop miliknya lalu melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
“Kau sangat menyebalkan,” protes Sharin dengan wajah kesal. Wanita itu beranjak dari duduknya lalu berjalan ke arah kamar mandi. Tubuhnya sangat terasa gerah saat keringat memenuhi seluruh tubuhnya.
Biao memandang punggung Sharin sambil menggeleng pelan. Bukan karena apartemen Sharin jelek. Tapi, malam itu Biao tidak ingin tidur di tempat lain. Ia ingin malam ini untuk pertama kalinya ia tidur bersama dengan Sharin. Ia ingin merasakan tidur dengan wanita yang ia cintai di atas tempat tidur yang selama ini ia tiduri.
Sudah cukup lama Biao menunggu, Sharin tidak kunjung keluar dari kamar mandi. Pria itu mengeryitkan dahi sambil memandang pintu kamar mandi. Hatinya di selimuti rasa khawatir saat istrinya tidak kunjung selesai mandi.
Biao beranjak dari kursi. Pria itu berjalan mendekati pintu kamar mandi. Satu alisnya terangkat saat melihat pintu kamar mandi yang tidak terkunci. Secara perlahan Biao membuka pintu kamar mandi untuk melihat keadaan istrinya di dalam.
Langkahnya terhenti saat melihat Sharin tertidur di dalam bak mandi. Karena terlalu lelah bersih-bersih hingga membuat Sharin ketiduran. Tubuhnya yang polos hanya tertutup foam putih yang ada di dalam bak mandi.
Biao melangkah ragu saat ingin mendekati istrinya. Bagaimana tidak. Lagi-lagi ia harus tergoda namun tetap harus menahan diri. Ia berjongkok di samping bak mandi sambil mengangkat satu tangannya. Ia ingin membangunkan Sharin sambil mengusap rambut wanita itu.
Namun, kedua bola matanya harus turun ke tubuh Sharin. Lagi-lagi ia harus menelan salivanya saat hasrat itu memenuhi isi pikirannya.
“Sharin, bangun,” ucap Biao pelan.
Sepertinya Sharin terlalu lelap dengan tidurnya. Di dalam bak yang hangat dengan aroma terapi yang menenangkan memang membuat Sharin lupa tempat. Hingga akhirnya wanita itu tertidur dengan posisi nyamannya.
“Sayang ....” ucap Biao sekali lagi.
Kali ini sapaannya berhasil membuat Sharin menggerakkan matanya. Wanita itu membuka matanya secara perlahan untuk memandang apa yang terjadi di depan matanya. Kedua bola matanya terbelalak saat melihat Biao ada di depan matanya.
“Paman tampan, apa yang kau lakukan di sini?” teriak Sharin hingga suaranya memenuhi isi kamar mandi. Sharin juga terduduk hingga membuat kedua gunung kembarnya terlihat dengan begitu jelas.
Biao menepuk kepalanya lalu menurunkan tangannya agar menutupi mata. Ia sudah cukup jelas melihat tubuh mulus istrinya tadi. Ia sengaja tidak ingin melihat lebih lama lagi agar tidak menyerang Sharin detik itu juga.
“Sharin, kau tidak bisa terus-terusan seperti ini menggodaku,” umpat Biao dengan wajah kesal.
Sharin menunduk lalu menutup tubuhnya dengan tangan. Wajahnya memerah malu karena sudah memamerkan bagian sentisitif dari tubuhnya kepada Biao. Walaupun apa yang ia lakukan tidak salah.
“Maaf,” ucap Sharin sebelum menenggelamkan separuh tubuhnya ke dalam foam yang masih terbentuk, “Kau sudah bisa membuka mata.”
Biao membuka matanya lalu memandang wajah Sharin. Bibirnya mengukir senyuman sebelum berdiri dari posisi jongkok, “Selesaikan mandimu dengan cepat. Kita akan makan malam sebentar lagi,” ucap Biao sambil memutar tubuhnya.
Namun, percikan air yang ada di lantai membuat lantai menajadi licin. Sendal Biao saat itu terpeleset hingga membuat Biao merasa melayang. Tanpa sengaja dan di rencanakan, tubuh Biao masuk ke dalam bak mandi yang di tempati Sharin. Posisi pria itu tepat ada di atas tubuh Sharin dengan baju lengkap yang sudah basah.
Tidak ada kata lain yang bisa di ucapkan Sharin saat itu selain teriakan yang memekakan telinga, “Aaaaaaa...! PAMAN TAMPAN!”