
“Sial!” umpat Biao kesal. Pria itu menjejaki langkah kakinya menaiki anak tangga. Hingga akhirnya ia tiba di sebuah lorong panjang dengan puluhan pintu yang melekat di sepanjang dinding. Langkahnya terhenti dengan wajah yang cukup bingung. Bahkan ia tidak sempat bertanya dengan Sharin berapa nomor kamar wanita itu.
“Apa hari ini rahasiaku akan terbongkar semua?” ucap Biao dengan wajah putus asa. Pria itu mulai melangkah dengan langkah lambat dan penuh waspada. Setiap pintu yang kini tertutup rapat ia pandangi satu persatu dengan tatapan menyelidik.
“Dimana kamarnya?” Biao menghentikan langkah kakinya sebelum mengeluarkan ponsel yang ada di dalam saku. Lelaki itu mengetik nomor telepon Sharin. Belum sempat menekan tombol panggil, ia kembali berpikir ulang, “Bagaimana kalau ia curiga jika aku menyimpan nomor ponselnya?” Biao memandang layar ponselnya tanpa melakukan tindakan apapun.
Hingga suara pintu terbuka. Sharin keluar dari salah satu pintu yag tidak jauh dari posisi Biao berdiri. Wanita itu menatap bingung atas sikap atasannya pagi itu. Ia berjalan pelan untuk mendekati posisi Biao berada.
“Presdir Bo, untuk apa anda di sini? Kenapa tidak masuk?” ucap Sharin ragu-ragu.
Biao mengangkat kepalanya. Satu benda yang pertama kali ia lihat adalah tas Sharin. Lelaki itu ingin sekali merebut paksa tas Sharin agar bisa mengambil flashdisk yang diberikan oleh Amelia beberapa saat yang lalu.
“Presdir Bo,” ucap Sharin sambil mengeryitkan dahi saat melihat ekspresi atasannya yang tiba-tiba terlihat aneh.
Biao menatap wajah Sharin, “Bagaimana caranya agar aku bisa memperoleh flashdisk itu?” gumam Biao di dalam hati.
Sharin menghela napas sebelum melipat kedua tangannya di depan dada. Cukup menyebalkan bagi Sharin saat melihat tingkah atasanya saat itu. Beberapa kali sapaan juga tidak di respon sama sekali. Untuk yang terakhir kalinya dengan penuh kesabaran, Sharin kembali mengeluarkan kata.
“Presdir Bo, apa anda baik-baik saja? Apa yang anda lakukan di sini?” suaranya sudah dipenuhi dengan penekanan.
Biao tersadar dari lamunannya. Lelaki itu menatap wajah Sharin dengan satu tatapan tajam, “Berikan tasmu.”
“Tasku?” ucap Sharin bingung, “Ini?” Sharin mengangkat tasnya ke atas.
“Ya. Berikan,” jawab Biao sambil mengulurkan tangan dan meraih tas kecil berwarna hitam milik Sharin.
“Tapi.” Belum sempat ia mengucapkan kata penolakan, tas itu sudah lebih dulu berpindah tangan. Sharin menghela napas sambil melihat apa yang ingin di lakukan oleh atasannya pagi itu.
Biao membuka tas Sharin dan memeriksa isi di dalamnya. Tapi, semua sia-sia. Flashdisk yang ia cari tidak lagi ada di dalam tas itu, “Dimana flashdisk yang diberikan Amelia tadi?” ucap Biao sambil memberikan tas itu kepada Sharin.
“Flashdisk yang tadi? Untuk apa?” Sharin mengeryitkan dahi.
“Aku ingin melihat isinya,” jawab Biao cepat.
“Untuk apa? Tidak ada yang penting dari isi flashdisk itu.” Sharin terlihat semakin bingung.
“Seseorang memberi tahuku kalau ada karyawan yang mencuri aset S.G. Group. Aku tidak ingin kau di fitnah oleh wanita tadi.” Biao berusaha keras agar Sharin tidak mencurigainya.
Sharin tertegun beberapa detik, “Maaf, Presdir Bo. Jika maksud anda sahabat saya Amelia ingin memfitnah saya, itu tidak mungkin. Karena Amelia tidak seperti itu. Dan soal flashdisk itu, saya sudah lihat isinya.”
“Kau sudah melihatnya?” Jantung Biao tidak lagi bisa berdetak dengan normal. Ada rasa sesak yang tiba-tiba saja membuat napasnya terasa berat.
“Video masak?!” ucap Biao histeris.
***
S.G. Group, Amerika.
Walker menutup layar laptopnya saat melihat Amelia tiba-tiba berdiri di depan meja kerjanya. Dari sorot matanya saja Walker sudah tidak tertarik untuk berbincang dengan wanita yang ada di hadapannya.
“Apa yang sebenarnya kau inginkan? Kenapa kau tidak bisa menurut seperti karyawan lainnya?” Walker beranjak dari kursi hitam yang ia duduki.
“Hanya menggertak dengan memberikan Sharin sebuah flashdisk kalian berdua sudah terlihat ketakutan seperti itu.” Sharin tertawa kecil sebelum berjalan mendekati tubuh Walker. Wanita itu menatap wajah pria yang berdiri di hadapannya dengan tatapan sensual, “Kalian dua pria yang dipenuhi banyak rahasia. Kasian Sharin karena sudah bertemu dengan pria seperti kalian. Pria pengecut yang tidak sanggup untuk membuka identitas aslinya.”
Amelia meletakkan satu jarinya di dahi Walker dan menurunkannya secara perlahan hingga ke bibir pria itu, “Apa tidak ada sesuatu yang bisa kau tawarkan untuk upah menutup mulut, Tuan Walker?”
Walker membuang tatapannya dari Amelia sebelum menatap rendah wanita itu, “Apa kau pikir aku tidak tahu niat di balik kebaikanmu mendekati Sharin? Jika aku beri tahu kepada Biao sejak awal, kau pasti sudah di bunuhnya.” Walker melekatkan wajahnya di depan wajah wanita itu, “Nona Amelia!”
“Kita lihat siapa yang akan menang kali ini.” Amelia melirik jam yang melingkar di tangannya, “Presdir Bo pasti tidak akan berani menyentuhku saat aku ada di samping Sharin, bukan?” Amelia mengukir satu senyuman licik. Wanita itu memutar tubuhnya dengan wajah penuh kemenangan.
“Hei, apa yang kau inginkan!” Walker menahan langkah wanita itu dengan memegang tangannya.
Amelia mengukir senyuman lagi, “Apa anda sudah berpikir kalau kali ini anda kalah, Tuan Walker?”
“Katakan, apa yang kau inginkan?” Walker berusaha keras menahan Amelia agar tidak menemui Sharin detik itu juga. Ia tidak ingin Tama kecewa karena ia tidak berhasil membantu Biao untuk mendapatkan hati wanita yang ia cintai.
“Tidur denganku,” bisik Amelia dengan penuh kemesraan.
Walker tertegun beberapa detik saat mendengar permintaan aneh Amelia. Tidak pernah ia jumpai wanita licik yang justru ingin menyerahkan tubuhnya tanpa bepikir lebih dulu.
Walker mengangkat satu alisnya, “Apa kau sudah memikirkannya sejak awal. Aku bahkan tidak menyangka kalau kau wanita yang cukup murahan, Nona Amelia.”
Amelia mengukir senyuman, “Kau harus menjadikanku kekasihmu, Tuan Walker. Aku ingin seluruh S.G. Group tahu kalau kita berpacaran,” sambung Amelia dengan senyuman penuh kemenangan.
“Apa kau gila?!” bentak Walker dengan ekspresi tidak percaya.
“Kau hanya punya waktu beberapa menit sebelum Sharin tiba. Aku ingin kau memintaku menjadi pacarmu di depan semua orang,” ucap Amelia sebelum pergi meninggalkan ruangan itu.
“Sial! Kenapa jadi aku yang terjebak seperti ini,” umpat Walker kesal, “Bahkan dalam mimpi sekalipun aku tidak ingin memiliki pacar seperti wanita itu. Cantik dan seksi memang. Tapi, kelakuannya cukup menakutkan. Di tambah lagi, dia sangat ahli dalam bidang IT. Aku curiga ini semua hanya jebakannya saja.” Pria itu mengambil ponselnya untuk memberi tahu Tama atas apa yang hari ini ia alami. Hanya pria murah senyum itu yang bisa membantunya saat ini.
Aku gak tau kenapa updatenya lama. Bab ini juga gak tau bisa publish jam berapa. Bukan salah author yg GK ngetik ya Readers...