Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 92



Sharin dan Biao berjalan bersama menuju ke arah mobil. Dengan manja Sharin menjatuhkan kepalanya di lengan Biao. Kedua tangannya juga merangkul tangan Biao dengan mesra.


Semua orang yang belum tahu hubungan yang terjadi antara Sharin dan Biao terlihat bingung. Tidak pernah sebelumnya mereka melihat Sharin seberani itu.


Biao menghentikan langkah kakinya sambil memperhatikan seluruh karyawan S.G.Group yang terlihat bingung.


Sharin memandang Biao dengan sejuta tanya. Pria itu berdiri dengan tatapan tidak terbaca.


"Mulai detik ini, saya tidak mau mendengar kata yang menjelekkan Sharin. Kalian semua harus tahu, kalau Sharin adalah istriku. Wanita yang sangat aku cintai. Jika kalian berani melukai perasaannya, kalian akan berhadapan langsung denganku nanti."


Seluruh karyawan S.G. Group menunduk takut. Selama ini mereka telah melakukan banyak kesalahan. Kini semua orang yang berdiri di lantai tersebut terlihat ketakutan.


"Terima kasih, Sayang," ucap Sharin dengan senyuman manis. Semua sudah terbongkar. Tidak ada lagi yang bisa ia tutupi saat ini.


Biao mengukir senyuman, "Mulai sekarang kau harus berperan sebagai istriku. Bukan bawahanku lagi."


Sharin mengangguk setuju, "Jadi istri jauh lebih nyaman daripada sekretaris."


"Ayo kita makan siang," ajak Biao sambil berjalan menuju ke pintu. Pengawal yang sejak tadi ada di belakang Biao juga sudah berjalan cepat agar bisa membukakan pintu mobil.


Seorang security membukakan pintu mobil. Sharin masuk lebih dulu sebelum Biao menyusul. Pengawal Biao juga sudah mengambil posisi di balik bangku kemudi.


Sharin mengukir senyuman saat melihat ekspresi wajah tidak percaya para karyawan. Baginya sudah cukup untuk mengalah. Mulai hari ini, ia akan membantu suaminya langsung untuk mendisiplinkan S.G.Group.


"Kau terlihat sangat bahagia," ucap Biao sambil memandang wajah Sharin, "Jika kau sebahagia ini. Kenapa tidak dari semalam-semalam mengungkapkan hubungan kita."


"Itu karena aku ingin proyek itu selesai dulu. Tapi, kau menjebakku hari ini. Aku juga tidak memiliki pilihan lain selain mengaku," jawab Sharin dengan suara lembut.


Biao mengangguk pelan, "Aku sudah hapuskan hukuman pertama. Tapi, hukuman kedua belum. Kau tetap harus melaksanakan hukuman kedua."


Pengawal setia Biao mengintip dari balik spion. Pria itu juga menggeleng pelan dengan senyuman yang indah.


"Jangan mengerjaiku lagi," rengek Sharin berusaha menolak.


Biao menarik pinggang Sharin lalu memeluk tubuh Sharin dengan mesra, "Kau tidak mau mendengar hukumannya?"


Sharin menggeleng sambil menahan tawa, "Tidak."


"Kau harus mendengarnya," protes Biao.


"Aku tidak mau," ucap Sharin dengan tawa kecil.


Sharin memejamkan mata. Wanita itu membalas kecupan hangat Biao dengan hati berbunga-bunga. Semua sudah ia berikan pada suaminya. Tidak ada hal lain yang membuatnya bingung saat ini.


Sharin sangat menikmati pernikahannya dengan Biao.


"Aku sangat mencintaimu," ucap Biao di sela-sela kecupannya. Napas mereka saling beradu dengan sorot mata yang saling memandang satu sama lain. Biao mengusap lembut rambut Sharin.


"Aku juga sangat mencintaimu," jawab Sharin dengan wajah berseri. Kedua tangannya memeluk tubuh Biao. Sharin juga membenamkan kepalanya di depan dada bidang pria itu.


Walau hanya di dalam perjalanan menuju sebuah restoran untuk makan siang. Tapi, rasanya sangat indah dan membahagiakan.


"Aku yakin, kau akan memenangkan proyek itu besok. Kita akan berjuang bersama-sama. Aku akan selalu mendukungmu," ucap Biao sambil mengusap lembut punggung Sharin.


Awalnya Biao cukup yakin jika istrinya akan menang besok. Namun, setelah ia mendapat informasi kalau Mr. Paul juga bergabung dalam perebutan proyek itu. Biao mulai ragu.


Di tambah lagi. Sejak dulu hingga detik ini. Biao belum percaya kalau Mr. Paul benar-benar telah melupakan Sharinnya.


"Sharin, apa kau mau berjanji padaku?" ucap Biao sambil menunduk. Satu tangannya menarik dagu Sharin agar wanita itu memandangnya.


"Ada apa?" Wajah Sharin juga berubah saat melihat wajah Biao yang berusaha sangat serius.


"Apapun keputusan akhirnya besok. Kau akan tetap menjadi Sharinku. Apa kau mau berjanji untuk tidak sedih dan kecewa?"


Biao tahu, bagaimana usaha keras Sharin selama ini. Hal itu juga yang membuat Biao ragu kalau nantinya jika kalah Sharin akan bersedih. Biao tidak suka melihat wajah Sharin bersedih.


"Ya. Itu berarti aku belum berhasil. Aku akan mencoba di lain waktu. Aku akan lebih banyak belajar lagi nantinya." Sharin mengukir senyuman indah.


"Ini baru Sharinku. Terima kasih sayang."


Biao mendaratkan satu kecupan di pucuk kepala Sharin. Pria itu meletakkan kepala istrinya di bawah leher sebelum memeluknya dengan mesra.


"Aku akan berjuang untuk kemenanganmu," gumam Biao di dalam hati.


Bukan hanya soal proyek. Tapi, Biao sangat tidak suka jika besok bertemu lagi dengan Mr. Paul. Baginya kehidupan pernikahannya sudah jauh lebih tenang. Ia tidak ingin masalah baru muncul dan menghancurkan keharmonisan rumah tangganya.


Pengawal Biao seolah mengerti dengan apa yang di pikirkan Biao siang itu. Ia juga bingung, harus bagaimana mengambil tindakan. Satu-satunya pencegahan yang akan ia lakukan akan melindungi Sharin dan Biao dari bahaya.


Besok adalah hari yang cukup di penuhi tanya. Tidak tahu hasil akhirnya akan bahagia atau menyedihkan.