Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 44



Kalimat yang di ucapkan Sharin membuat Biao tersedak air putih yang baru saja ia teguk. Lelaki itu meletakkan gelasnya dengan segera di atas meja. Ada rasa tidak percaya atas kalimat yang baru saja di ucapkan oleh kekasihnya.


Sharin beranjak dari duduknya dengan selembar tisu. Memberikan tisu itu kepada Biao dengan wajah panik. Tidak ada niat sedikitpun di dalam hatinya untuk membuat lelaki yang ia cintai hingga tersedak separah itu.


“Apa Paman Tampan baik-baik saja?” ucap Sharin dengan wajah khawatirnya.


Biao memandang wajah Sharin dengan seksama. Ada rasa bahagia di dalam hatinya atas kalimat yang baru saja diucapkan oleh Sharin. Namun, dalam waktu singkat harapannya itu sirna. Biao cukup paham kalau wanita yang kini berdiri di hadapannya sangat suka becanda. Ia yakin kalau kalimat itu hanya sebuah bujukan saja agar dia mengijinkan Sharin untuk kembali pulang ke apartemennya.


“Kenapa dia diam saja? Apa dia tidak ingin menikah denganku lagi? Apa kejadian semalam membuatnya berpikir ulang untuk menikahiku?” gumam Sharin di dalam hati.


Sharin kembali duduk pada kursinya. Wajahnya menunduk dengan perasaan sedih dan kecewa. Kini lelaki yang sempat melamarnya tidak memberikan respon apa-apa. Wanita itu semakin bingung dengan situasi yang kini ia hadapi.


Biao melirik wajah Sharin. Mengatur napas dan debaran jantung agar kembali teratur. Kalimat singkat Sharin berhasil membuat jantungnya kembali berdetak tidak karuan, “Apa kau sedang bercanda? Candaanmu terdengar tidak lucu.”


Sharin mengangkat wajahnya. Kedua bola matanya menatap wajah Biao dengan seksama, “Tentu saja aku tidak bercanda. Aku sudah satu malaman ini memikirkannya. Bahkan aku tidak bisa tidur saat memutuskan pilihan itu tadi malam,” jawab Sharin cepat.


Biao memutar bola matanya ke arah lain. Ingin sekali detik itu ia melompat kegirangan karena wanita yang ia cintai akhirnya memutuskan untuk menikah. Bahkan senyumannya ingin segera terukir indah dan terasa sulit untuk di tahan lagi. Biao ingin memeluk Shairn dan melampiaskan kebahagiaannya detik itu juga.


“Tapi, aku masih berusia 21 tahun. Aku mungkin tidak bisa menjadi istri yang baik untukmu. Bahkan aku sendiri tidak tahu apa yang harus aku lakukan setelah menikah nanti.” Sharin mengatur napasnya yang terasa berat, “Aku cuma ingin mencintaimu dan selalu berada di sampingmu di saat kau susah. Tidak ada solusi lain yang bisa aku pikirkan selain solusi dengan pernikahan.”


Biao belum mau mengeluarkan kata. Setiap kata yang di ucapkan oleh Sharin hanya ia cermati dengan seksama. Ia tidak ingin terlihat terlalu gegabah.


Biao menatap wajah Sharin dengan seksama. Hatinya sudah kembali luluh. Rasa kesal dan segala hal buruk yang sempat memenuhi hati dan pikirannya telah hilang. Wajah Sharin telah membuatnya kembali tenang. Satu tangannya menyentuh wajah Sharin dengan begitu lembut. Satu senyuman indah sudah kembali terukir di wajah Biao siang itu.


“Andai saja kau mengatakan semuanya sejak awal. Maka ini semua tidak akan terjadi,” ucap Biao sambil mengeryitkan dahi.


“Maafkan aku. Aku tidak berpikir hingga sejauh ini. Aku hanya takut membuat hidupmu berubah susah nantinya. Aku tidak ingin Tuan Daniel merasa kecewa kepada dirimu.” Sharin menjatuhkan kepalanya di pundak Biao.


Kali ini ia memasang fose sedikit manja. Hal itu memang sudah ia nanti-nanti dan ingin ia lakukan sejak Biao pulang dari Sapporo. Tidak di sangka, aneka masalah telah ia alami hingga membuat Sharin tidak lagi sempat untuk bermanja-manja dengan paman tampannya.


Biao menarik dagu Sharin lalu melekatkan bibirnya di bibir Sharin. Ia cukup bahagia bisa mendengar jawaban tulus Sharin pagi itu. Kini, apapun masalah yang akan ia hadapi. Tidak akan membuatnya takut lagi. Satu-satunya tujuan yang membuatnya berada di kota itu kini sudah tercapai.


Sharin melepas kecupan Biao sebelum menatap wajah lelaki itu dari jarak yang dekat. Dahi mereka saling bersentuhan, “Apa Paman tampan masih mau menikah denganku?” ucap Sharin dengan senyuman manis.


Biao membalas senyuman Sharin. Lelaki itu mengangguk pelan dengan hati yang cukup bahagia, “Aku mencintaimu, Sharin. Aku akan segera menikahimu.”


Sharin mengukir senyuman bahagia. Wanita itu kembali mengecup bibir Biao dengan begitu mesra. Setidaknya hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menghibur suasana hati Biao yang sejak tadi malam tidak karuan. Kedua tangannya mencengkram kuat rambut pendek Biao, “Semoga keputusan ini memang keputusan yang terbaik atas masalah yang kini kau alami, Paman Tampan,” gumam Sharin di dalam hati.


Malam ini up langsung dua Bab karena kebetulan sudah selesai di ketik. Vote yang banyak Biar author semangat ngetiknya ya reader... like juga jangan lupa.


terima kasih.