Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 26



Hari terus terganti. Biao duduk di kursi kerja miiknya sambil membayangkan wajah Sharin. Malam itu malam terakhirnya bertemu dengan Sharin. Saat pagi harinya ia kembali datang ke rumah sakit, Sharin sudah tidak ada di kamarnya. Wanita itu sudah pulang lebih dulu sebelum Biao sempat menemuinya.


Walker juga sudah pergi. Pria itu merasa tidak lagi dibutuhkan karena identitas Biao telah ketahuan oleh Sharin. Sejak awal dia datang ke situ hanya untuk membantu Biao menyembunyikan identitas aslinya.


Setelah kejadian itu, Sharin mengambil cuti istirahat di rumah. Biao juga tidak mau mengganggu wanita itu selama beberapa hari ini. Ia tidak ingin membuat Sharin semakin sakit karena merasa di ganggu olehnya.


“Apa kami memang tidak berjodoh? Kenapa sangat sulit mendapatkan hatinya,” ucap Biao frustasi. Pria itu membuka layar laptopnya untuk melihat wajah Sharin dari cctv. Jika di hitung dari jadwal cuti Sharin, hari ini seharusnya wanita itu sudah kembali masuk kerja.


Biao mengukir senyuman saat melihat Sharin telah duduk di kursi kerja yang biasa Ia duduki. Masih ada perban kecil di dahinya. Lagi-lagi Biao merasa bersedih atas luka yang di alami Sharin beberapa hari yang lalu.


“Apa kau masih marah padaku?” ucap Biao sambil mengetuk-ngetuk meja kerjanya. Pria itu mengambil telepon untuk memberi perintah kepada karyawannya. Ia ingin menemui Sharin detik itu juga. Semua harus kembali dibicarakan. Ia tidak bisa terus-terusan berdiam diri seperti ini.


Biao kembali meletakkan teleponnya. Kini tinggal menunggu kedatangan Sharin. Hanya membayangkan kalau wanita itu akan datang saja sudah cukup membuat jantungnya berdetak tidak karuan. Biao beranjak dari duduknya sambil memandang pintu dengan seksama.


“Apa dia akan memaafkanku?” ucap Biao kurang yakin. Pria itu berjalan menuju ke arah sofa sebelum menjatuhkan tubuhnya di sana. Ia ingin berbicara dengan cukup serius kepada Sharin pagi itu.


Suara pintu terbuka. Sharin muncul dengan wajah manis ciri khasnya. Wanita itu memandang Biao sekilas sebelum menundukkan wajahnya. Dengan hati-hati ia berjalan mendekati posisi Biao berada. Perasaan wanita itu kini juga tidak karuan. Ia tidak tahu harus senang atau marah karena paman tampan miliknya telah ada di depan mata.


“Selamat pagi, Presdir Bo. Ada yang bisa saya bantu?” ucap Sharin dengan suara lembut.


“Duduklah,” perintah Biao sambil memandang sofa yang ada di hadapannya.


Sharin menurut. Wanita itu duduk di sofa yang sempat di tunjuk oleh Biao. Kepalanya masih tetap menunduk tanpa mau memandang wajah Biao.


“Sharin, Aku tidak ingin membahas sola pekerjaan. Hari ini aku memanggilmu karena ingin meminta maaf. Mungkin kata maaf yang pernah aku ucapkan di rumah sakit belum cukup.” Biao menghentikan kalimatnya. Menghirup oksigen untuk menetralkan suasana hatinya saat ini, “Aku memang Biao. Aku sengaja membohongimu karena ....”


“Maaf, Presdir Bo. Tapi saya ke sini hanya untuk membahas masalah pekerjaan. Jika anda ingin membahas masalah pribadi, saya akan pergi dari sini.” Sharin beranjak dari duduknya. Wanita itu berdiri di sebrang meja dengan tatapan tidak terbaca.


“Sharin, maafkan aku.” Biao juga beranjak dari duduknya.


“Maafkan saya, Presdir Bo.” Sharin mulai melangkahkan kakinya dengan langkah cukup cepat. Wanita itu tidak lagi mau memandang ke belakang untuk melihat wajah Biao. Tangan kirinya memegang handle pintu dan siap untuk menarik pintu itu agar ia bisa keluar.


Namun, tiba-tiba saja tangan Biao juga ada di handle pintu. Memegang tangan Sharin untuk menahan tubuhnya agar tidak pergi.


“Maafkan aku. Sekali saja katakan kalau kau benar-benar tidak mencintaiku. Kalau namaku tidak pernah ada di hatimu,” bisik Biao di telinga Sharin. Kini tubuh Biao sangat dekat dengan Sharin. Bahkan napas pria itu bisa di rasakan oleh Sharin.


“Sharin,” ucap Biao dengan suara yang cukup lembut. Pria itu memutar tubuh Sharin hingga wanita itu bersandar di pintu dan menghadap ke arahnya. Wajah mereka saling berhadapan dan sangat dekat, “Jika kau tidak juga mengeluarkan kata, itu berarti kau juga mencintaiku.”


Sharin mendongakkan wajahnya untuk menatap kedua bola mata pria itu. Ia ingin kembali memastikan debaran jantungnya saat ini, “Apa benar aku telah jatuh cinta padanya? Kenapa sangat sulit untuk membencinya padahal jelas-jelas ia telah membohongiku selama ini.”


“Sharin, Aku sangat mencintaimu. Sejak pertama kali aku mengatakannya bahkan hingga detik ini. Aku tidak akan memaksamu untuk menikah dengan cepat jika kau tidak ingin. Aku bisa menunggumu dengan sabar.” Biao memegang wajah Sharin dengan jemarinya. Mengusap dengan lembut pipi wanita itu.


Sharin hanya membisu untuk mencerna semuanya. Bibirnya seakan terkunci. Ia ingin marah dan berteriak di depan Biao. Tapi entah kenapa semua terasa sangat sulit. Bahkan semua perkataannya hanya tertahan di dalam hati.


Satu tangan Biao yang lain mencengkram pinggang Sharin dan menariknya ke dalam pelukan. Biao mulai mengecup bibir Sharin detik itu juga tanpa permisi. Ia cukup yakin kalau Sharin juga mencintainya. Tatapan Sharin sudah cukup membuktikan kalau wanita itu membalas cintanya saat ini.


Sharin memejamkan mata saat bibir Biao berhasil menyentuh bibirnya. Ia bisa merasakan ketulusan cinta Biao saat itu. Perasaannya saat ini campur aduk. Antara sedih dan bahagia melebur menjadi satu. Buliran air mata jatuh di pipi Sharin.


Biao melepas kecupannya untuk menatap wajah Sharin. Wajahnya terlihat bingung saat melihat Sharin meneteskan air mata, “Apa kau masih marah padaku, Sharin?” ucap Biao dengan wajah serius.


Sharin mendorong tubuh Biao, “Paman Tampan, kau sangat menyebalkan. Kenapa kau mencuri ciuman keduaku!” protes Sharin sambil menghapus tetesan air matanya.


Biao mengukir senyuman. Hatinya lega dan sangat sangat bahagia karena berhasil mendengar sebutan itu dari bibir Sharin. Memang kata sapaan itu yang sangat ia rindukan selama satu tahun terakhir ini.


“Bukankah ciumanmu memang hanya milikku. Aku juga kehilangan ciuman keduaku Sharin,” ledek Biao dengan satu alis terangkat.


“Kenapa kau harus berbohong,” ucap Sharin dengan suara serak. Wanita itu mendekat dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Biao. Memeluk pria yang memang telah membuatnya jatuh cinta.


“Maaafkan aku,” ucap Biao pelan. Pria itu membalas pelukan Sharin dengan hati yang cukup bahagia. Ia tidak pernah menyangka kalau wanita yang sangat ia cintai telah memaafkan kesalahanya.


“Kau harus berganti nama dengan Paman mesum,” ucap Sharin di sela-sela tangisnya.


“Apapun itu. Yang terpenting kau di sini bersamaku dan membalas cintaku, Sharin.” Biao mengecup pucuk kepala Sharin dengan bibir tersenyum bahagia.


Sharin mengukir senyuman sambil mempererat pelukannya, “Aku tidak pernah menyangka kalau akan jatuh cinta pada pria yang usianya cukup jauh dengan usiaku,” gumam Sharin di dalam hati sebelum memejamkan mata.


Vote di novel Moving On ya reader...sampai hari Minggu aja..setelah itu bebas...terima kasih... Likenya jangan lupa...