Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 50



Beberapa saat kemudian


Biao, Tama dan Sharin, baru saja tiba di rumah sakit. Tubuh mereka bertiga kini tidak sadarkan diri dan dipenuhi banyak darah. Tidak ada yang mengenal wajah salah satu korban kecelakaan yang baru saja terjadi. Wajah mereka tidak jelas karena cairan merah segar dan beberapa luka memenuhi wajah mereka.


Setelah turun dari mobil, Biao dan yang lainnya lansung di bawah oleh beberapa perawat menuju ke ruang IGD. Beberapa polisi yang membawa tubuh Biao dan yang lainnya juga ikut berjalan hingga ke depan ruang IGD.


Masing-masing perawat mengambil alih tugasnya untuk memberi pertolongan pertama kepada Biao, Tama dan Sharin. Kini ketigaya telah berada di dalam IGD dengan posisi berjajar. Beberapa perawat berusaha membersihkan darah yang membuat mereka sulit mengenali identitas korban.


Seorang Dokter muncul untuk memeriksa Biao lebih dulu. Wanita itu memeriksa denyut nadi Biao yang semakin melemah, “Pasien kehilangan banyak darah. Cek golongan darah pasien dan segera lakukan transfusi.” Dokter wanita itu beralih pada Tama dan Sharin.


Salah satu perawat sedikit ragu dengan apa yang ia lihat. Nama Presdir Bo memang baru saja menjadi perbincangan hangat hari ini. Seluruh media sempat dipenuhi dengan wajah Presdir Bo. Perawat itu meletakkan kapas yang sudah di penuhi darah.


“Lelaki ini Presdir Bo dari Perusahaan S.G. Group,” ucap Perawat itu sedikit ragu.


Perawat yang lainnya kembali menatap wajah Biao dengan seksama. Namun, waktu mereka tidak banyak. Mereka tidak bisa menghabiskan waktu berharga yang mereka miliki hanya untuk mengingat identitas pasien.


“Kita akan segera mengetahuinya nanti. Sekarang saatnya kita mencari stok darah untuk pasien. Golongan darah pasien AB. Stok kita baru saja habis.” Perawat yang lain angkat bicara dengan wajah panik. Sisa perawat yang lainnya juga terlihat sibuk memasang alat medis pada tubuh Biao.


“Dok, Pasien kritis,” ucap salah satu perawat kepada Dokter wanita itu.


Setelah mendengar perkataan bawahannya, Dokter itu kembali memegang pergelangan tangan Biao dengan wajah cukup khawatir, “Segera cari golongan darah yang sama dengan pasien. Kita harus melakukan operasi secepatnya,” perintah Dokter itu cepat.


“Baik, Dok. Saya akan meminta rumah sakit lain mengirim stok darah secepatnya,” jawab perawat lain sebelum pergi meninggalkan ruangan IGD.


Dokter itu kembali memperhatikan wajah Sharin dan Tama. Mereka berdua memiliki luka yang tidak terlalu parah dari Biao. Hingga tidak mengharuskan Tama dan Sharin melewati tahap operasi, “Apa mereka berada di dalam satu mobil?” tanya Dokter wanita itu curiga kepada perawat yang ada di sampingnya.


“Ya, Dok. Polisi yang membawa mereka ke sini mengatakan kalau mereka bertiga ada di dalam mobil yang sama. Satu truk besar melaju dengan cepat. Di duga truk itu remnya blong hingga menyebabkan kecelakaan.” Perawat itu menceritakan kejadian yang terjadi tanpa mau menambah atau mengurangi info yang baru saja ia dapat.


Dokter wanita itu mengangguk pelan, “Segera bawa pasien ke ruang operasi. Kita tidak punya banyak waktu lagi.” Dokter itu pergi meninggalkan ruang IGD. Sekilas ia seperti pernah melihat wajah Tama. Namun, Dokter wanita itu tidak ingat di mana ia melihat wajah Tama sebelumnya., “Mungkin aku salah orang,” ucapnya pelan sebelum melanjutkan langkah kakinya.


Perawat yang bertugas mencari darah untuk Biao telah berhasil mendapatkannya. Kini suster dan para Dokter telah tiba di dalam ruang operasi. Ada tubuh Biao yang di penuhi luka yang kini akan mereka perjuangkan kehidupannya.


Ruang operasi itu cukup sunyi. Hanya terdengar suara monitor detak jantung yang terhubung langsung dengan tubuh Biao. Cairan darah menetes dari kantung yang tersangkut di besi berwarna putih.


Mata lelaki itu terpejam dengan perasaan sedih. Walau tidak lagi sadarkan diri, air mata tetap saja menetes di sudut matanya. Seorang Dokter wanita yang mengambil alih operasi saat itu menatap wajah Biao dengan cukup bingung. Ia pernah beberapa kali menemukan pasien dengan kasus yang sama. Namun, entah kenapa air mata Biao saat itu cukup menyayat hati bagi siapa saja yang memandangnya.


“Apa korban yang lain memiliki hubungan spesial dengannya hingga ia menangis seperti itu?” gumam Dokter itu di dalam hati.


Air mata Biao seperti permohonan khusus kepada Dokter wanita itu agar bisa menyelamatkan nyawanya, “Aku akan berusaha untuk menyelamatkan nyawamu agar kau bisa berkumpul dengan orang yang kau cintai,” gumam Dokter wanita itu di dalam hati.


***


Di suatu ruangan luas yang terlihat minim cahaya. Mr. Paul baru saja meletakkan telepon kembali pada tempatnya. Ada senyuman puas di bibirnya atas rencana jahat yang telah berhasil di laksanakan oleh bawahannya. Lelaki yang mengenakan kemeja hitam itu bersandar di kursi hitam besar yang kini ia duduki. Ada rokok di sela jarinya. Sesekali ia menghisap rokoknya sambil membayangkan kemenangan yang baru saja ia dapatkan.


Segelas wine dengan beberapa botol wine yang masih terisi penuh ada di hadapannya. Mr. Paul dalam keadaan setengah mabuk. Walaupun mabuk, tetap saja wajah lelaki itu terlihat cukup waspada. Beberapa pria yang kini berdiri di hadapannya ia pandang satu persatu.


Satu tangannya menarik laci yang ada di meja. Amplop cokelat yang berisi sejumlah uang ia ambil sebelum ia lempar di atas meja. Bibirnya mengukir senyuman dan tawa bahagia lagi, “Itu hadiah kecil atas kerja keras kalian.”


“Terima kasih, Tuan,” jawab salah satu pria yang berdiri di hadapan Mr. Paul.


“Apa Sharinku baik-baik saja?” ucapnya dengan tatapan menyelidik. Ada sorot mata tidak terima jika bawahannya berkata Sharin dalam bahaya.


“Nona Sharin baik-baik saja, Tuan. Lelaki bernama Biao yang mengalami kondisi kritis saat ini.” Lelaki itu menundukkan kepalanya sambil menjelaskan info yang baru saja ia dapatkan dari rekannya yang kini berada di rumah sakit.


“Bagus. Aku ingin kalian segera membawa Sharin ke tempat yang sudah aku tentukan. Soal lelaki itu, sepertinya kita juga harus melakukan satu tindakan agar ia pergi dari dunia ini secepatnya.”


Mr. Paul beranjak dari duduknya. Lelaki itu berjalan dengan dua tangan di dalam saku. Sambil berjalan ia tertawa dengan begitu kencang hingga memenuhi isi ruangan.


“Sharin, kau akan menjadi milikku, Sayang,” ucap Mr. Paul sambil membayangkan wajah cantik Sharin. Lelaki itu sudah tidak sabar untuk mendapatkan Sharin.


.


.


.


Bab selanjutnya up jam 12 siang. terima kasih . jangan lupa vote, like dan komen sebagai bentuk dukungan kalian terhadap karya ini.