
Mr. Paul duduk di sebuah kursi yang ada di ruangannya. Baru beberapa detik ia duduk dan menenangkan pikirannya, sudah terdengar suara ketukan pintu. Lelaki itu memandang ke arah pintu sekilas sebelum memberi perintah untuk masuk. Seorang wanita berpakaian pelayan masuk dengan wajah manunduk takut.
“Tuan, ada yang ingin bertemu dengan anda,” ucapnya dengan tubuh gemetar.
“Siapa?” tanya Mr. Paul tidak tertarik.
“Saya,” sambung seorang wanita yang tiba-tiba saja muncul di balik pintu.
Mr. Paul menatap wajah wanita yang cukup ia kenali. Lelaki itu membuang tatapannya saat melihat seseorang yang sudah ia anggap musuh kini muncul di hadapannya, “Untuk apa kau ke sini? Aku sudah mengirim pembunuh bayaran untuk membunuhmu.”
“Tidak perlu repot-repot membunuhku di tempat lain. Kau bisa membunuhku di rumah ini.” Wanita itu berjalan ke arah sofa yang ada dekat jendela, “Buatkan aku jus apel dengan tiga butir es batu.”
“Baik, Nona,” ucap Pelayan itu sebelum pergi meninggalkan ruangan kerja Mr. Paul.
“Sonia. Kau tidak perlu repot-repot datang ke sini hanya untuk membujukku,” ucap Mr. Paul tidak suka. Lelaki itu berjalan mendekati sofa lalu menjatuhkan tubuhnya di sana.
“Paul, kau terlalu berlebihan untuk masalah wanita seperti Sharin. Dia juga tidak mencintaimu. Kenapa kau tidak mengurungkan niatmu untuk memilikinya,” ucap Sonia sambil menatap wajah Mr. Paul dengan seksama.
“Aku sudah bilang. Kau tidak perlu repot-repot ke sini untuk membujukku.” Mr. Paul menatap wajah Sonia dengan tatapan membunuh, “Kau wanita yang tidak tahu terima kasih. Tanpa campur tanganmu, aku pasti sudah bisa membawa wanita itu pergi dari rumah sakit.”
“Apa kau pernah berpikir bagaimana posisiku saat ini? Aku tidak punya pilihan lain selain membela sahabatku. Mereka akan kalah jika kau benar-benar berniat untuk mencelakai mereka.” Sonia menaikan kedua bahunya dengan wajah yang cukup tenang.
“Bukankah kalian masih punya wanita mafia itu,” sambung Mr. Paul dengan senyuman tipis. Ia kembali membayangkan wajah Serena. Ia cukup kenal dengan Serena dan segala masa lalunya.
“Paul, apa kau tidak mengerti maksudku? Aku mungkin bisa saja melawanmu dan menjadikanmu musuh yang harus aku habisi. Tapi, kita sudah sangat akrab selama ini. Aku tidak ingin melakukannya kecuali kau bukan lagi sahabatku.” Sonia mengatur posisi duduknya. Napasnya terasa sesak saat berbicara dengan sahabatnya yang terbilang keras kepala itu.
“Aku memang bukan sahabatmu lagi, Sonia. Kita sudah menjadi musuh detik ini juga,” tegas Mr. Paul dengan suara lantang sambil memukul meja yang ada di hadapannya.
“Paul, apa yang kau pandang dari wanita biasa seperti Sharin?” teriak Sonia tidak kalah kuat dari suara Mr. Paul.
“Kau memang selalu memandang seseorang dari jabatan dan kekayaan yang mereka miliki. Tapi, tidak denganku. Jangan lupa Sonia, kau juga mengunakan segala cara untuk mendapatkan Daniel waktu dulu.” Mr. Paul mengukir senyuman tipis untuk menghina Sonia.
“Cinta kau bilang?” ucap Mr. Paul tidak percaya.
“Ya. Jelaskan perasaanmu saat ini kepadaku. Apa nama obsesimu ini kalau bukan cinta. Kau jatuh cinta pada wanita bernama Sharin.” Sonia melempar bantal kursi yang ada di sampingnya. Bibirnya tertawa kecil untuk meledek sahabatnya yang kini ada di depan mata.
Mr. Paul terdiam untuk mencerna setiap kalimat yang di ucapkan oleh Sonia. Ia juga tidak menyangka jika perasaannya saat ini mengarah ke kata cinta. Seumur hidupnya, Mr. Paul lelaki yang tidak pernah percaya dengan cinta. Tapi, penolakan yang di berikan oleh Sharin tanpa sadar telah menimbulkan rasa cinta di dalam hatinya.
“Hentikan semua ini. Biao sahabatku dan kau juga sahabatku. Satu lagi, kau tidak bisa mendapatkan wanita yang kau cintai dengan cara paksaan. Ia akan pergi semakin jauh saat kau memaksannya untuk semakin mendekat.” Sonia beranjak dari duduknya. Wanita itu meraih tas yang tergeletak di atas meja. Baru beberapa meter ia melangkah, tubuhnya kembali berputar, “Aku tidak akan mencelakaimu. Tapi, aku akan tetap menghalangimu melukai Biao dan Sharin.”
“Aku akan tetap membunuh Biao, Sonia!” teriak Mr. Paul tidak terima.
“Kau harus membunuhku lebih dulu kalau seperti itu,” jawab Sonia sebelum menarik handle pintu.
Setelah puas melampiaskan isi hatinya. Sonia pergi meninggalkan ruangan itu. Wajahnya terlihat sangat menakutkan sesuai dengan sifat galak yang ia miliki. Kedekatan Mr. Paul dan Sonia memang tidak hanya sebatas rekan bisnis. Mereka sudah seperti sahabat yang saling tolong menolong saat yang lain dalam kesulitan. Apapun masalah Mr. Paul selalu ada campur tangan Sonia. Dan sebaliknya.
Mr. Paul bersandar di sandaran sofa sambil menatap langit-langit kamar. Pria itu masih mencerna setiap kalimat yang di ucapkan oleh Sonia. Ia masih belum yakin kalau perasaannya kepada Sharin adalah cinta. Sejak awal ia memang sangat ingin menikmati tubuh Sharin. Sudah beberapa kali ia memiliki kesempatan untuk melakukannya. Namun, Mr. Paul tidak juga mau melakukan hal itu kepada Sharin. Lelaki itu sendiri tidak tahu kenapa ia mengulur waktu dan memiliki perasaan tidak tega kepada Sharin.
“Cinta?” ucapnya pelan. Lelaki itu menutup wajahnya dengan telapak tangan. Wajahnya terlihat sangat frustasi, “Aku yakin ini bukan cinta. Setelah mendapatkan wanita itu dan memaksanya untuk tidur bersamaku. Aku yakin aku bisa melupakannya dan mencampakkannya seperti wanita lainnya. Aku hanya tidak suka di tolak dan kalah dari rekan bisnisku. Ya, aku yakin hanya seperti itu. Perasaan ini bukan cinta. Aku tidak mau terlibat ke dalam perasaan aneh seperti itu.”
Mr. Paul memejamkan matanya untuk menenangkan pikirannya. Ia berusaha keras untuk melupakan kalimat yang sudah di ucapkan oleh Sonia. Lelaki itu ingin segera memikirkan rencana selanjutnya untuk mengalahkan Biao. Apapun yang di katakan oleh Sonia, Mr. Paul tidak ingin gagal dan mundur untuk mendapatkan Sharin.
.
.
.
Biao's Lovers... namanya judulnya juga Uda cinta Biao. berarti hidup Biao akan terus di uji ya... dalam masalah percintaannya.
**Like, Komen dan Vote jika kalian suka dengan cerita ini.
Terima kasih**