Biao's Lovers

Biao's Lovers
Bab 68



Biao menghela napas dengan wajah yang cukup tenang. Apapun yang akan terjadi ia akan tetap berjuang mempertahankan Sharin agar tetap di sisinya. Meskipun nyawa taruhannya, Biao akan terus berusaha agar wanita yang ia cintai tidak berhasil dibawah Mr. Paul pergi.


Sharin menatap wajah Mr. Paul dengan rasa takut dan tubuh gemetar. Wanita itu cukup bingung melihat situasi yang kini ia hadapi. Tangannya yang dingin seakan semakin membeku. Cengkramannya sangat kuat seolah ia takut kalau Biao akan meninggalkannya.


“Apa kau kaget dengan kunjunganku malam ini, Biao?” ucap Mr. Paul degan ekpresi dingin yang cukup menyeramkan. Sorot mata birunya seperti sebuah pedang yang menusuk lawannya. Langkahnya pelan namun sangat menakutkan, “Aku punya kejutan lagi.”


Mr. Paul memetikkan jarinya. Secara tiba-tiba lampu mati. Sudah bisa di pastikan lift yang sempat mereka gunakan untuk naik ke lantai atas juga tidak berfungsi. Lorong yang kini mereka tempati hanya bisa di akses dengan menggunakan lift. Tidak ada tangga yang bisa menghubungkan mereka agar tiba di lantai atas tersebut. Penerangan yang mereka dapat juga berasal dari lampu gedung-gedung lain yang menembus masuk melalui jendela kaca.


“Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh wanitaku, Paul.” Biao menarik tangan Sharin agar wanita itu berlindung di belakangnya, “Kau harus membunuhku lebih dulu jika ingin menyentuhnya.”


Mr. Paul tertawa terbahak-bahak dengan wajah kegirangan. Pria itu menggeleng pelan sambil mengedipkan sebelah matanya, “Baiklah, Biao. Jika memang itu yang kau inginkan.”


“Sharin, pegang ini.” Biao mememandang wajah Sharin dengan tatapan yang cukup serius, “Aku ingin kau ke atap dan lihat helikopter milik kita. Jika mereka mengenakan seragam S.G. Group berarti mereka masih ada di pihak kita.”


“Tidak. Aku tidak mau meninggalkanmu dan menjauh darimu,” tolak Sharin dengan tetesan air mata yang sudah tidak bisa lagi di bendung. Ia terpaksa mengingkari janjinya karena tidak ingin Biao sendirian bersama Mr. Paul.


“Apa kau lupa dengan janjimu?” ucap Biao sambil menatap Sharin dengan seksama, “Kau harus pergi sekarang.”


“Jangan usir aku dengan cara seperti ini.” Sharin memeluk Biao dengan begitu erat. Tangisnya pecah detik itu juga, “Aku hanya ingin bersamamu. Aku mohon.”


Mr. Paul semakin geram melihat adegan romantis yang ada di depan matanya. Pria itu meminta semua anak buahnya untuk keluar. Dari atap, pasukan S.G. Group yang berjaga di helikopter juga muncul. Kini Biao memiliki pasukan yang akan membantunya walau hanya hitungan jari.


“Aku akan baik-baik saja. Pergilah bersama dengan pasukan S.G. Group. Perjuangannya akan sia-sia jika kau tidak berhasil ia dapatkan. Bantuan akan segera datang menolong kita. Percayalah padaku,” ucap Biao penuh keyakinan. Pria itu memegang wajah Sharin lalu mengusapnya dengan jemari. Satu kecupan ia daratkan di bagian yang terkena tetes air mata.


Sharin mengatur tangisnya. Wanita itu mencengkram kuat tangan Biao yang ada di pipinya, “Berjanjilah untuk segera menemuiku.”


Biao mengukir senyuman sebelum mendaratkan satu kecupan di pucuk kepala Sharin. Beberapa pasukan S.G. Group telah menghalangi, “Aku berjanji akan menemuimu beberapa jam lagi.”


Sharin mulai mundur dengan dua pasukan S.G Group di sampingnya. Langkahnya terasa berat bersamaan dengan hatinya yang kini tertinggal di hadapan Biao. Bulir air mata kembali menetes saat tubuhnya mulai berputar dan siap untuk pergi.


Biao memandang Sharin sebelum mengeluarkan pistol yang ia miliki. Pria itu memejamkan mata beberapa detik saat merasakan sakit yang luar biasa di bagian kepalanya. Sorot matanya yang tajam memandang wajah Mr. Paul yang berdiri mematung dan siap menghadapinya.


Beberapa pasukan milik Mr. Paul dan Biao telah sibuk bertarung dengan senjata mereka masing-masing di tengah lorong. Biao dan Mr. Paul saling menatap satu sama lain dari sisi yang berhadapan.


Mr. Paul mengukir senyuman tipis sebelum mengeluarkan tembakan. Beberapa peluru yang di keluarkan Mr. Paul menancap dengan sempurna di kepala bawahan Biao, “Kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku, Biao.”


Mr. Paul menjatuhkan pistol miliknya. Pria itu menaikkan lengan kemeja yang ia kenakan dengan wajah cukup serius, “Aku ingin satu lawan satu dengan tangan kosong. Tanpa senjata,” ucap Mr. Paul dengan wajah penuh semangat, “Hanya pria tangguh yang berhak mendapatkan Sharin.”


“Kau lupa Paul. Menang atau kalahnya aku malam ini, Sharin akan tetap memilihku. Ia sudah menjadi wanitaku dan akan selamanya menjadi wanitaku. Kau hanya mendapatkan hati yang dipaksa tanpa cinta yang tulus. Itu jauh lebih menyakitkan daripada kematian.” Biao juga menjatuhkan pistolnya. Pria itu berjalan pelan mendekati posisi Mr. Paul berada. Ia siap bertarung dengan kondisinya yang sekarang. Apapun hasil akhir yang ia dapat nantinya, Biao cukup percaya kalau Sharin akan selamanya mencintainya.


Mr. Paul semakin di penuhi emosi saat mendengar kata-kata Biao yang terus saja memojokkannya. Pria itu menggertakkan giginya sebelum melakukan gerakan cepat dengan memutar kakinya. Kepala Biao adalah bagian utama yang ia incar. Bukan hanya menyiksa dan membuat Biao menderita. Malam itu Mr. Paul bertekad untuk membunuh Biao. Menghilangkan nyawa pria itu agar tidak ada lagi pria yang bisa di cintai oleh Sharin. Mr. Paul telah berubah menjadi brutal karena obsesi cinta yang ia rasakan.


Bagian tubuh Mr. Paul berputar di udara. Saat ia ingin mendarat, kakinya langsung mengincar bagian kepala Biao. Namun, gerakan Mr. Paul berhasil di tangkis oleh Biao. Pria itu mencengkram kuat kaki Mr. Paul sebelum mendaratkan satu pukulan di bagian perut lawannya. Pukulan Biao memang cukup menyakitkan. Walau dalam keadaan sakit, tapi hal itu tidak mengurangi kualitasnya bertarung.


Mr. Paul mundur namun tetap menahan tubuhnya. Pria itu melayangkan pukulan ke arah wajah Biao. Kali ini pukulannya berhasil mengenai wajah Biao hingga membuat pria itu mengeluarkan darah pada bagian hidung.


Biao menghilangkan tetesan darah dari hidungnya sebelum membalas pukulan Mr. Paul. Baku hantam terjadi dengan gaya bebas yang cukup menegangkan. Suasana di lorong sunyi itu hanya terdengar suara tangan yang beradu langsung dengan bagian tubuh. Tetes demi tetes darah berserak di permukaan lantai. Keringat juga sudah membasahi pakaian yang mereka kenakan.


Beberapa menit mereka lewati dengan pertarungan yang cukup menegangkan. Kali ini, tangan Biao berhasil mencengkram pergelangan Mr. Paul sebelum mendaratkan satu pukulan ke wajah Biao. Tidak hanya sekali, Biao memukul wajah Mr. Paul hingga beberapa kali. Wajahnya terlihat puas saat melihat wajah Mr. Paul di penuhi darah dan memar di wajah.


Mr. Paul berjongkok untuk sleding kaki Biao. Kali ini trik yang ia lakukan berhasil membuat Biao lumpuh dan terjatuh ke lantai. Bagian kepala Biao terhantam langsung dengan lantai yang cukup keras. Biao merasakan sakit yang luar biasa saat itu. Pria itu menatap langit-langit lorong itu dengan tatapan berkunang-kunang.


Mr. Paul membersihkan darahnya dengan jari. Melihat Biao tidak berdaya, ia mengambil kembali pistol yang berjarak beberapa meter di belakangnya. Detik itu juga Mr. Paul siap merenggut nyawa saingannya. Tubuhnya membungkuk sambil memandang wajah Biao yang menahan sakit. Satu tangannya mencengkram kuat pistol berwarna hitam mengkilat miliknya. Ujung senjata api itu sudah mengarah tepat ke arah Biao. Bahkan peluru emas yang ada di dalamnya seolah sudah tidak sabar untuk mendarat di dalam tubuh Biao.


DUARRR!


.


.


.


Deg Deg kan ya?


Hahahaha… sama. Author yang ngetik juga deg degan.


Bab selanjutnya gak tau mau di up sore ini apa besok siang lagi. tergantung Like kalian. Like itu gratis...