Beautiful Assistant

Beautiful Assistant
Sudah jatuh tertimpa Divta



"Pagi ku cerah ku, matahari bersinar. Ke gendong tas merah ku di pundak." suara nyanyian itu berasal dari bibir kecil Raina yang sedang asik menggosok tubuhnya dengan sabun yang baru saja dia ambil dari dispenser soap yang menempel di dinding.


"Ah, gara menonton iklan di yutup aku jadi suka menyanyikan lagu itu, padahal itu kan lagu anak-anak." Raina terkekeh.


Paginya di sambut dengan ceria oleh gadis itu seusai menerima telepon dari Raihan. Awalnya dia sempat kesal dengan adiknya karena semalaman pemuda itu sulit di hubungi. Setelah mendapat penjelasan, akhirnya rasa kesal itu pun hilang seketika.


"Tapi tumben sekali sih jam 10 Raihan sudah tidur. Biasanya kan dia tidur di atas jam 12." gumam Raina.


Setelah 10 menit, gadis berparas manis dan ayu itu sudah menyelesaikan ritual mandinya. Dia keluar dari kamar mandi dan mulai bersiap untuk merubah penampilannya menjadi Raihan demi pekerjaannya yang baru.


"Jam 6 tepat, saatnya membangunkan tuan muda yang manja." dengan semangat dia melangkahkan kakinya untuk menghampiri Divta dan membangunkan pemuda itu karena sudah waktunya bersiap untuk pergi bekerja. Raina memutar handle pintu kemudian masuk ke dalam kamar lelaki yang terasa sudah tak asing lagi baginya.


Terlihat Divta masih terlelap dengan posisi terlentang dan kaki mengarah ke headboard.


"Cih, tidurnya aneh sekali." sungut Raina yang risih melihat cara tidur Divta yang menurutnya seperti seorang anak kecil.


"Oh my, sudah 3 kali aku melihatnya seperti itu. Tapi masih saja aku malu, huh." imbuh Raina menggerutu sambil menengadahkan kepalanya sebab tak berani menatap tubuh Divta.


Raina merogoh ponsel dari saku celananya dan menggunakan benda tersebut untuk mengguncang tubuh Divta.


"Tuan bangun ! sudah jam 6." ucapnya sedikit menaikkan volume suaranya.


Divta menggeliat dan menarik tangan Raina kemudian menciumnya,


"Sayang, jangan pergi." gumamnya lalu membuka kedua matanya dan sedikit mengerjap. Saat melihat ada tangan di atas atas dadanya, seketika dia tersentak dan bergegas bangun.


"Hei kenapa kau memegang dadaku ?!" sentak Divta menepis kasar tangan Raina hingga gadis itu sedikit terhuyung.


Raina mengerutkan dahinya dalam, sudut kanan bibirnya pun terangkat saking dia merasa bingung,


"Anda sendiri yang menarik tangan saya, bahkan Anda mencium punggung tangan saya dan berkata sayang jangan pergi. Lalu sekarang Anda menyalahkan saya ?" ucapnya dengan suara yang terdengar dingin dan raut wajahnya yang flat alias datar tanpa ekspresi.


Divta berdecak, dia tak menyangkal ucapan Raina sebab sebelumnya dia memang bermimpi sedang bertemu dengan seorang gadis kesayangan yang dulu pergi meninggalkannya tanpa alasan maupun kabar. Divta beranjak dari tempat tidur dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sementara Raina menyiapkan pakaian kerja yang akan di kenakan oleh tuan mudanya.


"Permisi tuan Raihan, apakah saya sudah boleh membereskan tempat tidur tuan Divta ?" tanya Art bernama Rumania berusia 40 tahun. Wanita itu baru di pekerjakan oleh Divta hari ini karena sejatinya dia pun baru pindah ke apartemen itu 2 hari lalu. Itulah sebabnya dia mencari asisten pribadi untuk menemaninya, juga Art untuk membersihkan apartemennya.


"Silahkan Bi, tapi tolong cepat ya." sahut Raina kembali memilih pakaian di lemari besar yang terbuat dari kayu jati berkualitas.


"Bi, apa sudah membuat sarapan ?" tanya Raina seraya menyandarkan tubuhnya, sebelah kakinya di tekuk kebelakang dan tempelkan ke dinding sementara kedua tangannya menyilang di atas perut.


"Sudah tuan, saya membuatkan nasi goreng spesial keju untuk anda dan tuan Divta." jawab Rumania.


Raina mengangguk, kemudian dia mempersilakan Art itu untuk keluar karena sudah selesai membereskan tempat tidur.


Raina yang hendak keluar di kejutkan dengan adanya suara dering ponsel milik Divta. Sejenak dia melongok ke arah ponsel yang terletak di atas meja kerja Divta untuk melihat siapa gerangan orang yang menelpon.


"Ck, mengagetkan saja. Sudahlah bodo, lagipula bukan ponsel ku yang berdering." ujar Raina acuh dan memilih untuk pergi dari kamar Divta karena sepertinya pemuda itu sebentar lagi akan keluar dari kamar mandi.


Ting tung


Suara bel berbunyi saat Raina masih berada di ambang pintu kamar. Dia mendengus kecil, entah kenapa hari ini dia merasa sangat kesal sekali. Oh mungkin karena habis di bentak oleh Divta tadi, begitu pikirnya.


Dengan mulut berkomat-kamit Raina pun melangkahkan kakinya menuju pintu untuk membukanya.


"Kakak ku sayaaaaaaaang !!" teriak seorang gadis saat setelah pintu terbuka. Dengan gerak cepat gadis itu memeluk Raina dengan begitu erat tanpa melihat lagi siapa orang yang sedang dia peluk, membuat Raina reflek mendorongnya.


"Loh, kau sendiri siapa ? kenapa ada di apartemen kakak ku ?" tanya gadis itu lebih terkejut lagi.


Apa-apaan lelaki ini, kenapa manis sekali.


gumam Daisy dalam hati sambil terus menatap wajah tampan Raina namun dengan tatapan mengintimidasi agar Raina tak curiga bahwa dirinya sedang terpesona oleh lelaki (jadi-jadian) yang baru saja dia peluk.


"Saya asisten pribadi tuan Divta." jawab Raina dengan wajah datar.


"Oh perkenalan nama ku Daisy." dia mengulurkan tangannya, mimik wajahnya kini berubah manis dan cantik.


Ya, gadis itu bernama Daisy Starla Andromeda, adik kesayangan Divta. Dia berusia 20 tahun dan sedang mengenyang pendidikan di salah satu universitas di luar negeri. Saat ini dia tengah libur semester dan memutuskan untuk tinggal beberapa hari di apartemen Divta. Namun siapa sangka, di tempat ini dia malah bertemu dengan Raina yang manis dan tampan.


Raina merendahkan pandangannya melihat uluran tangan Daisy. Dia memilih untuk mengabaikan gadis itu kemudian dia mundur dua langkah untuk mempersilakan gadis berambut hitam panjang nan lebat itu agar segera masuk.


Daisy mengerucutkan bibirnya kesal seraya menghentakkan kakinya hingga sepatu heels miliknya mengeluarkan suara yang sedikit mengganggu indera pendengaran Raina.


"Kenapa kau sombong sekali !" sentak Daisy menabrak tubuh Raina dan bergegas masuk ke dalam sambil menarik kopernya.


"Sial sekali, habis di bentak bos sekarang di bentak lagi oleh adiknya bos." gerutu Raina yang tidak sadar bahwa dirinya lah yang menyebabkan Daisy membentaknya.


"Kakak !!" teriak Daisy sambil berjalan menuju kamar Divta. Dia pun mendapati sang kakak yang baru keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan handuk berwarna putih yang melilit di pinggangnya.


Dia berlari dan langsung memeluk tubuh Divta yang masih sedikit basah sambil mengguncang tubuhnya sendiri saking dia merasa bahagia bertemu dengan kakak yang sangat di rindukannya.


"Kau ini tidak sopan sekali, masuk tanpa permisi." ucap Divta membalas pelukan Daisy yang begitu erat. Dia bahkan mengecup pucuk kepala adiknya hingga berkali-kali untuk melepas rasa rindu setelah 1 tahun lamanya tidak bertemu.


"Aku sudah tidak tahan ingin memeluk mu. Oh iya siapa laki-laki yang ada di depan ?" tanya Daisy dengan semangat seraya melepas pelukannya dan kini memegang kedua tangan Divta.


"Raihan, dia asisten pribadi kakak. Coba kau panggil dia kesini, setelah itu kau keluar dulu" ucap Divta dan perintah itu pun segera di laksanakan oleh Daisy.


"Ada apa tuan memanggil saya ?" tanya Raina ketika sudah masuk ke kamar Divta. Pandangan matanya selalu mengarah ke yang lain meski sebenarnya dia sangat ingin melihat bentuk tubuh Divta.


Divta berdecak kasar,


"Mana dalaman ku ?" serunya kesal saat dia tidak mendapati dalaman di atas tumpukan baju yang di siapkan Raina.


"Oh maaf tuan saya lupa." Raina segera bergegas menuju lemari dan mengambilkan celana dalam untuk Divta.


"Silahkan tuan." dia meletakkan celana itu di atas tempat tidur, namun saat dia akan keluar tiba-tiba saja langkah kaki Divta terselip hingga lelaki itu terjatuh dan menimpa Raina.


"Aaahm" teriak keduanya karena terkejut.


Divta mengerutkan dahinya dalam,


"Kenapa teriakan mu seperti suara perempuan ?" tanyanya dengan raut wajah curiga.


"Aaaaaaaaaah." suara teriakan itu kembali terdengar, namun kali ini dari Daisy.


"Apa yang kalian lakukan ?" teriak Daisy lagi. Hatinya sangat terguncang melihat Divta dan Raina terjatuh. Pasalnya posisi mereka berdua sangatlah intim menurut Daisy, yakni Divta menindih Raina dan parahnya lagi di atas tempat tidur.


Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 sebelum ke part selanjutnya yaa.. terimakasih 🤗