
Divta mengerutkan dahinya dalam,
"Kenapa teriakan mu seperti suara perempuan ?" tanyanya dengan raut wajah curiga.
Raina membulatkan matanya sempurna, pun tenggorokannya terasa tercekat hingga dia kesulitan untuk sekedar menelan salivanya. Sungguh dia tidak sadar telah berteriak dan mengeluarkan suara aslinya.
"Aaaaaaaaaah." suara teriakan itu kembali terdengar, namun kali ini dari Daisy.
"Apa yang kalian lakukan ?" teriak Daisy lagi, membuat Divta dan Raina seketika tersadar.
Divta segera beranjak dari tubuh Raina dan membenahi lilitan handuknya yang hampir terlepas dari pinggangnya. Begitupun dengan Raina, dia juga beranjak dari tempat tidur dan segera menormalkan kembali rasa keterkejutan dan juga rasa gugupnya.
"Saya permisi tuan." ucap Raina dengan suara penyamarannya.
Daisy menatap Raina yang berjalan ke arahnya, ada rasa sedikit geli ketika dia mengingat pria (jadi-jadian) itu berada di bawah tubuh Divta. Kemudian dia beralih menatap sang kakak yang juga sedang menatapnya,
"Kakak berhutang penjelasan sama aku." cetusnya lalu berbalik badan dan keluar dari kamar Divta serta tak lupa menutup pintu.
"Haish, dasar kaki sialan." gerutu Divta kesal seraya menyentak kaki yang tadi terselip sehingga dia terjatuh menimpa tubuh asisten pribadinya dan menyebabkan Daisy salah paham terhadapnya.
Di luar, terlihat Raina sedang duduk di meja makan untuk menyantap nasi goreng spesial buatan Rumania, Daisy pun menghampirinya dan duduk di sampingnya.
"Katakan, ada hubungan apa kau dengan kakak ku ?" tanya Daisy mengintrogasi.
Raina yang sedang makan pun tersedak karena pertanyaan yang Daisy lontarkan. Bagaimana mungkin gadis itu bertanya tentang ada hubungan apa dirinya dengan Divta ? ya Tuhan, bukankah dirinya sedang menyamar sebagai lelaki, lalu bagaimana bisa menjalin hubungan ? dasar idiot.
Raina bermonolog dalam hatinya.
"Hei, kenapa kau diam saja ? jangan bilang kau adalah kaum nabi Luth yang tersesat di zaman modern ?" imbuh Daisy dan kini Raina semakin tersedak hingga nasi yang sedang di kunyah tersembur keluar dari mulutnya.
"Maksud mu apa hah ?" sentak Raina dengan suara yang terdengar begitu tegas layaknya seorang lelaki.
"Ya karena kau kakak ku ..."
"Cut the crap !!" sentak Raina seraya menunjuk wajah Daisy dengan raut wajah menyeramkan, membuat Daisy takut dan seketika menghentikan ucapannya yang lebih mengarah pada sebuah tuduhan.
(berhenti omong kosong)
Raina beranjak dari kursi dan bergegas pergi dari ruangan itu menuju ke kamarnya. Selera makannya telah hilang karena tuduhan Daisy. Dia masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan kasar hingga menimbulkan suara yang memekakkan telinga.
"Sialan, apa-apaan orang itu. Seenak saja menuduhku." sungut Raina kesal.
Sementara Divta, dia baru saja keluar dari kamarnya dan bertanya pada pada Daisy kenapa pintu kamar Raina tertutup dengan begitu keras.
"Maafkan aku kak, aku tidak sengaja membuatnya marah. Aku ..." Daisy tak bisa menyelesaikan kalimatnya, dia tiba-tiba saja menangis sebab ini adalah pertama kalinya dia di bentak, bahkan itu bukan dari keluarganya melainkan orang lain.
Divta memeluk Daisy dan membenamkan wajah gadis itu di perutnya, mengusap lembut kepalanya untuk menenangkannya.
"Kau jangan keterlaluan Dek. Kau pasti membahas tentang kejadian di kamar tadi kan ?" tanya Divta, dan hanya di angguki saja oleh Daisy.
"Tadi kakak terpeleset dan tidak sengaja menimpa Raihan yang baru saja meletakkan baju kerja kakak. Sebaiknya kau meminta maaflah pada Raihan, ya ?" imbuh Divta menasehati Daisy.
Ya, begitulah Divta. Dia memang sangat menyayangi Daisy, tapi dia tidak membenarkan jika adiknya melakukan kesalahan sekalipun pada orang yang tak di kenal, dia pasti akan menyuruh Daisy untuk meminta maaf pada orang tersebut.
Daisy menengadahkan kepalanya sambil masih memeluk Divta,
"Baiklah nanti aku akan minta maaf. Kak, aku menyukainya." ucapnya dengan raut wajah yang lucu dan menggemaskan.
Divta mengerutkan dahi,
"Siapa ?" tanyanya.
Divta mendengus kasar, ini adalah kali pertama Daisy memberitahu dirinya bahwa sang adik tengah menyukai seseorang, dan orang itu adalah Raihan, asisten pribadinya. Haish what the hell is going on ? gerutunya dalam hati. Saat dirinya hendak menjawab perkataan Daisy, tiba-tiba saja suara bel terdengar.
"Sebentar, kakak akan membukakan pintu dulu." Divta melepas pelukannya dari Daisy dan berjalan ke arah pintu untuk melihat siapa yang pagi-pagi begini sudah datang.
"Cih, kenapa kau datang ke sini ?" ucap Divta dengan suara yang terdengar begitu ketus pada seseorang yang berada di depan pintu.
"Hei kurang ajar sekali kau !" sentak seseorang itu.
"Aku ini kakak mu !!" imbuhnya.
Ya, dialah Darius Bintang Andromeda, kakak dari Divta dan Daisy. Dia baru saja pulang dari luar kota untuk mengurus perusahaannya. Dia berusia 29 tahun dan berstatus single ting ting. Perawakannya tinggi dan tampan, persis seperti Divta. Memiliki karakter yang friendly dan easy going.
"Siapa juga yang bilang kau pembantu ku." cetus Divta sambil berjalan meninggalkan Darius.
"Dasar kurang ajar." sungut Darius, dia masuk ke dalam apartemen adiknya dan orang pertama yang di lihatnya adalah Daisy.
"Daidai." teriaknya begitu senang melihat gadis kecilnya tengah duduk di kursi meja makan sambil bermain ponsel.
"Kak Dayus timbunaaaan." teriak Daisy beranjak dari kursi, berlari menghampiri Darius dan memeluk leher lelaki itu.
"Aku sangat merindukanmu." imbuhnya sambil mengangkat kedua kakinya dan melilit pinggang Darius.
"Ck nama ku Darius Andromeda, bukan Dayus timbunan." sungut Darius gemas dengan Daisy yang masih saja menjulukinya dengan sebutan Dayus.
"Itu kan panggilan kesayangan." jawab Daisy meregangkan pelukan.
Darius berdecak kecil, kemudian tersenyum dan mengecup dahi Daisy berkali-kali setelah itu dia melangkahkan kaki menuju sofa sambil masih menggendong Daisy layaknya bayi koala.
"Turunlah, kakak lelah ini mau duduk." ucapnya dan langsung di turuti oleh Daisy.
"Kak Divta punya asisten pribadi, dan dia ganteng sekali. Aku menyukainya kak."
tutur Daisy menceritakan tentang isi hatinya pada Darius yang sedang duduk seraya menyandarkan tubuhnya di sofa serta kepalanya menengadah ke atas.
"Siapa namanya ?" tanya Darius.
"Raihan. Kak tolong bantu aku supaya bisa dekat dengannya ya, please." Daisy memegang tangan Darius untuk memohon pada lelaki itu.
"Kau ini masih kecil, selesaikan dulu kuliah mu baru boleh pacaran." jawab Darius.
Seketika tubuh Daisy lemas, hatinya mencelos begitu saja mendengar jawaban yang Darius lontarkan. Padahal dia sangat berharap bisa memiliki hubungan dengan Raihan, tapi kakak tertua malah melarangnya.
"Dasar ghokong !!" cetusnya kesal. Dia ikut menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, dan kedua tangannya menyilang di atas perut.
"Apa ghokong ?" tanya Darius bingung.
"Kakak pertama, sun ghokong si monyet banyak gaya banyak tingkah jelek dan buruk rupa, seperti kakak !" sahut Daisy merajuk.
Darius terkekeh, berani-beraninya Daisy mengatai dirinya monyet.
"Dasar chupatkai." celetuknya menutup mulutnya untuk menahan tawa.
"Kakak, menyebalkan." sentak Daisy semakin merajuk, bibirnya mengerucut panjang dan raut wajahnya berubah merah padam. Dia pun beranjak dari sofa dan berjalan ke arah kamar Divta, namun ketika dia melewati kamar Raina, tiba-tiba saja pintu kamar itu terbuka dan menampakkan Raina yang baru keluar sehingga mereka bertabrakan dan tanpa sengaja Daisy mencium kilas pipi Raina.
Raina tersentak dan langsung mendorong Daisy hingga gadis itu terhuyung. Kemudian dia kembali masuk ke kamarnya dan menutup pintu dengan kasar. Dia bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan pipinya.
"Sialan, mimpi apa aku semalam ? di cium dengan seorang perempuan. Menjijikkaaaan !!" dia mengusap pipinya dengan sabun dan membasuhnya dengan tergesa-gesa.
Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 dan votes sebelum ke part selanjutnya yaa.. terimakasih 🤗