Beautiful Assistant

Beautiful Assistant
Leher yang terluka



Darius nampak terlihat sangat frustasi menghadapi seorang wanita yang marah-marah padanya. Dia tidak tahu dari mana asalnya wanita itu. Awalnya dia sedang duduk santai sambil minum bir di bar. Tiba-tiba, waktu santainya berganti bingung dan kesal tatkala wanita itu datang.


"Kenapa anda diam saja ?! pokonya aku tidak mau membayar denda itu !!" serunya sambil menggebrak meja.


Ya, sedari tadi Darius hanya diam sambil menunjukkan raut wajahnya yang sangat kebingungan.


"Anda ini siapa ? dan saya siapa ?" tanya Darius mulai kehilangan kewarasannya.


"Saya Sesha ! beritahu adik anda, SAYA TIDAK MAU MEMBAYAR DENDA SEBESAR ITU ! aku rasa adikmu itu gila karena membuat peraturan kontrak seperti itu !" teriaknya yang langsung menyita perhatian para pengunjung bar lainnya.


"Hmmmm." Darius mencebikan bibirnya dan beranjak dari sofa. Dia berjalan dengan sempoyongan, hingga tanpa sadar dirinya jatuh ke pelukan seseorang.


"Eh tuan ?" pekik orang tersebut.


"Kamu... Amanda, kan ?" gumam Darius meracau, tetapi apa yang di ucapannya masih terdengar jelas di telinga orang itu.


"Sembarangan sekali orang ini. Jelas-jelas aku seorang pria. Masa dia memanggilku Amanda ?" gumamnya risih karena di peluk oleh Darius.


Sementara Sesha yang melihat Darius sudah mabuk berat, pun mendengus kasar. Tingkat kekesalannya semakin bertambah karena di abaikan oleh Darius. Kemudian memilih untuk pergi dan berniat untuk menemui Darius di kantornya besok.


"Amanda, ayo kita pulang." gumam Darius lalu pingsan.


"Cih, merepotkan sekali sih." desisnya sambil memapah Darius dan membawanya ke mobilnya.


Sesampainya di mobil, pemuda itu merogoh saku celana Darius dan mengambil dompetnya untuk melihat kartu identitas.


"Darius B.A ? Bukannya ini anak dari pemilik perusahaan pertelevisian terbesar di negara ini ?" ucapnya dalam hati seraya menarik sebelah sudut bibirnya.


Suara dering ponsel membuat pemuda itu beralih menatap saku jas Darius, kemudian dia merogoh dan mengambilnya.


"My Dayday ?" gumamnya bergegas mengangkat telepon.


Halo kakak, cepat lah pulang karena nenek datang ke apartemen.


ucap seorang perempuan dari seberang sana yang tak lain ialah Daisya.


"Halo, nama ku Yudha. Aku menemukan kakak mu di bar dalam keadaan mabuk." ucapnya.


Oh, maaf tuan. Kalau begitu, bolehkah aku minta tolong antarkan kakak ku ke jl. xx gedung apartemen lantai paling atas nomor 2 ?


"Oh baiklah kalau begitu." jawab Yudha. Setelah menerima ucapan terima kasih dari si penelpon, Yudha segera menyalakan mesin mobilnya untuk mengantar Darius setelah sebelumnya mengembalikan ponsel dan dompet Darius ke tempat asalnya.


**


Raina sempat terkejut dengan apa yang Divta lakukan. Dia hendak memrotes, tetapi belaian lembut Divta di pipinya, seketika membuatnya begitu nyaman.


"Gerakan saja bibir dan lidah mu. Dan ikuti aku." jawab Divta. Slowly but sure, dia mulai mengajari Raina, cara untuk berciuman dengan baik dan benar. Cukup lama Raina berdiam. Setelah Divta memperdalam ciumannya, barulah Raina mulai menggerakkan bibir dan lidahnya.


Cicilan surga dunia, ahhh nikmatnya..


jadi Divta mendesah nikmat. Dia merasa begitu bahagia malam ini. Meskipun lehernya terasa sakit, tapi ciuman dari Raina mampu merubahnya menjadi sebuah kenikmatan yang luar biasa.


"Kenapa berhenti ?" tanya Raina saat Divta menyudahi ciuman itu.


"Ehh ?!!" Divta terhenyak mendengar pertanyaan Raina. Apa maksudnya 'kenapa berhenti' ? apa itu artinya Raina menginginkannya lagi ?


Raina yang masih penasaran dengan ciuman, pun menarik tengkuk Divta dan memulainya lagi. Ini adalah pelajaran yang paling menyenangkan menurutnya. Bahkan langsung praktek pada gurunya. Apalagi gurunya tampan dan kaya seperti Divta. Siapa yang mau menolak ?


"Kenapa berhentiii ?" tanya Raina lagi berusaha menarik tengkuk Divta namun pemuda itu menahannya dan mencoba untuk beranjak dari tubuhnya. Namun, dia tak mengizinkan sehingga dia terus menahan Divta.


"Sayang, lepaskan aku." pinta Divta dengan wajahnya yang terlihat merah padam.


Raina menggelengkan kepalanya,


"Tidak mau, aku masih ingin mencium mu." jawabnya yang lagi menarik tengkuk kekasihnya itu.


"Ayolah susu, bahaya jika aku tetap dalam posisi seperti ini. Aaaaah." desah Divta memiringkan kepalanya untuk menghindari wajah Raina yang terlalu dekat dengannya.


"Memangnya kamu kenapa ?" tanya Raina mengikuti kemana arah wajah Divta untuk menatapnya.


"Eh yang keras itu apa ?" pekik Raina menengok ke arah bawah namun tangannya masih tak mau melepaskan Divta.


Ya Tuhan, aku tidak tahan lagi.


Divta kembali melahap bibir Raina dengan begitu kuat hingga gadis itu tidak mampu mengimbanginya. Dia akan memenuhi permintaan sang pacar dan memuaskannya.


Duuut...


Suara merdu itu seketika menghentikan ciuman panas mereka.


"Dasar jorok !!" pekik Raina mencubit hidungnya untuk menghambat bau busuk yang Divta ciptakan saat tidak masuk ke indera penciumannya.


Divta menjatuhkan tubuhnya di atas Raina dengan posisi kepala berada di bawah leher gadis itu.


"Sudah aku bilang kan tadi. Aku tidak tahan, tapi kamu tetap saja menahan ku." jawabnya.


"Awas, beraaaaaat." Raina menggeliat dan mendorong tubuh Divta.


"Kenapa tidak bilang kalau mau kentut ?!" sentaknya kemudian dengan raut wajah kesal.


"Maaf sayang, suruh siapa kamu menahan ku. Jadi terpaksa aku menunaikannya disini. Aku hanya ingin memuaskan mu saja. Mau nambah tidak ?" ucap Divta menggoda.


Raina mengerucutkan bibirnya sambil menatap Divta sinis. Bagaimana mungkin pemuda itu masih berani menggodanya setelah membuang gas sembarangan ?


Karena mood ciumannya sudah hilang, dia pun memilih beranjak bangun untuk kembali ke kamarnya


"Susu mau kemana ?" rengek Divta memeluk perut Raina dan menenggelamkan wajah di pinggang gadis itu.


"JANGAN PANGGIL AKU SUSU !!


Tentu saja mau ke kamar ku. Ini sudah malam, dan aku sudah mengantuk. Lepaskan." cetus Raina menepis tangan Divta yang melingkar di tubuhnya.


"Tidur sini saja. Biar kamar mu di tiduri nenek." saut Divta manja sambil kembali memeluk Raina.


"Tidak mau. Hubungan kita hanya sekedar pacaran, jadi aku tidak mau tidur dengan mu."


"Ya sudah besok kita menikah."


"Tidak mau."


"Harus mau."


"Tidak !"


"Harus !"


"Tidaaaaaack !!!" teriak Raina memberontak.


"Aaaargh.." pekik Divta memegang lehernya yang tadi terluka akibat gigitan dari Raina.


"Eh, maaf aku lupa kalau kamu terluka. Kamu tunggu disini. Aku akan mengambil kotak p3k dulu." Raina yang mulai panik, pun langsung beranjak dari tempat tidur dan keluar dari kamar untuk mengambil kotak p3k guna menghindari luka di leher Divta akibat kecerobohannya yang menggigit Divta terlalu kuat sehingga menyebabkan leher kekasihnya itu terluka dan mengeluarkan darah.


"Tidur sambil menyusu sepertinya mantap. Haaaah nikmatnya. Jadi tidak sabar." Divta memeluk bantal sambil berguling ke sana kemari.


"Eh kenapa aku bertingkah layaknya anak kecil yang di belikan mainan ? hahaha sungguh memalukan." Divta menyentuh lehernya yang mengalir darah segar karena tidak sengaja terkena sentakan Raina tadi.


"Terimakasih ya wahai luka. Kau membuat ku begitu bahagia malam ini." dia tertawa puas meski sebenarnya dia menahan sakit. Namun, rasa sakitnya tak sebanding dengan rasa bahagia yang dia rasakan.


Jangan lupa klik 👍 sebelum ke part selanjutnya yaa, terimakasih 🤗